Showing posts with label curhat. Show all posts
Showing posts with label curhat. Show all posts

Sunday, July 18, 2021

CERITA UNTUK CUCUKU TENTANG COVID-19 (part 1)

 


Source : orami.co.id
Source : orami.co.id


Cu.. ikutilah cerita kami ini...

Tak pernah terbayangkan oleh nenekmu ini, untuk mengalami masa yang akan Nenekmu ceritakan ini. Tak pernah. Semua terjadi begitu saja, mendadak. Tiba-tiba dunia serentak mengalaminya.

Cu... Saat itu, 16 Maret 2020, Nenek masih bekerja di kantor, sekitar  2 (dua) hari sebelum jadwal Nenek mengikuti diklat keesokan harinya. Hari itu Nenek begitu sibuk, mempersiapkan segala rupa, untuk Nenek tinggalkan selama Nenek mengikuti diklat tersebut. Berita tentang wabah Covid-19 (Corona) yang mulai masuk ke Indonesia memang sudah mulai santer terdengar. Isu kota akan ditutup pun sudah ada terdengar. Itu pulalah yang membuat Nenek bersiap-siap dengan kemungkinan penutupan kota (lock down) tersebut. 

Kalau tidak salah, siang menjelang sore hari, akhirnya  keluarlah Surat Edaran dari pimpinan di kantor Nenek bahwa kantor akan di-lock down, mulai keesokan hari, 17 Maret 2020, mengikuti ketetapan pemerintah. Kami pun patuh. Rencana kerja, serta rencana-rencana lainnya mendadak berubah. Diklat yang akan Nenek ikuti pada tanggal 18 Maret pun akhirnya dibatalkan, demi menjaga kebaikan bersama. Bagi peserta dari daerah yang sudah memesan tiket dan berbagai akomodasinya pun serta merta ikut dibatalkan. Opsi kegiatan kerja Nenek ke Yogyakarta yang akan dilakukan pada akhir bulan pun, dicancel, padahal tiket sudah diambil. Nenek ajukan refund, namun hingga Nenek tulis ini, belum ada kejelasan refund tersebut. Mungkin situasinya memang cukup sulit ya untuk mengupayakan refund tersebut.

Cu... hari-hari selanjutnya, kami "dikurung" di dalam rumah. Dari yang awalnya hanya 2(dua) minggu, lalu diperpanjang berulang kali hingga total 3(tiga) bulan kami "di rumah-kan." Kami benar-benar di rumah, tidak diperkenankan ke mana-mana. Satpol PP serta petugas lainnya bertebaran menyisir jalan, "memaksa" warga untuk mekukan berbagai aktifitas "hanya" dari rumah saja. Bahkan anak-anak yang berkeliaran pun diperintahkan untuk pulang oleh mereka. Pekerja pemerintah/swasta/pengusaha mau pun pekerja lepas harian,buruh dilarang berkeliaran, kecuali untuk hal yang benar-benar mendesak. Kegiatan belajar mengajar di sekolah, kampus, dan sebagainya pun dihentikan. Semuanya dilakukan dan terpusat hanya di rumah saja.

Perubahan yang mendadak, membuat banyak pihak tidak siap, terkaget-kaget. Banyak hal yang mesti dirubah, di antaranya :

Pertama, offline menjadi online

Bagi pegawai atau karyawan, mau pun pelajar atau mahasiswa atau peserta didik lainnya, "diharuskan" untuk mengubah cara lamanya yang offline (on-site / luring) menjadi online / daring. Pekerjaan dan belajar dilakukan dari rumah dengan mengandalkan jaringan internet. Bagi yang masih agak gagap teknologi, "dipaksa" untuk belajar dan memahaminya. Anak-anak pun "harus" lebih mengerti tentang IT. Di sinilah terjadi perubahan lainnya. Permintaan akan jaringan internet, baik itu yang wifi atau pun melalui jaringan internet di hand phone, meningkat. Karena komunikasi dan sarana kerja/belajar, menggunakan gadget. Sepertinya, permintaan pasar akan gadget, terutama hape dan laptop (komputer jinjing) juga meningkat. 

Tapi di lain sisi, anak-anak yang semula dibatasi aksesnya untuk menggunakan gadget karena belum cukup umur atau belum tiba saatnya, akhirnya kini malah lebih akrab dengan gadget. Gadget dibawa kemana-mana. Dari yang usia SD (bahkan dari yang TK, mungkin), kebutuhan HP (handphone) untuk belajar meningkat. Bagi yang bisa mengontrol diri atau anak-anaknya, penggunaan HP hanya sekadarnya. Namun bagi yang tidak bisa mengontrol atau pun mengarahkannya, banyak yang kebablasan. Penggunaan HP untuk belajar hanya beberapa saat, namun setelah itu, HP digunakan untuk bermain game online atau banyak hal lainnya yang kurang berguna.

Jadi, untuk perubahan offline ke online ini, sisi positifnya antara lain, bagi yang semula agak Gaptek, jadi terpacu untuk mempelajarinya. Namun sisi negatifnya, banyak anak-anak yang waktu menatap layar gadgetnya jadi lebih lama. Hal ini berpeluang mempengaruhi kesehatan mata mereka.


=====================

In syaa Allah, to be continued...





Sunday, December 13, 2020

MY ORIENTAL BOY

 


Tengah malam menjelang. Lampu kamar belum lagi dipadamkan. Terdengar desis halus yang keluar dari mulut yang sedikit terbuka di sebelahku. Matanya mengatup rapat, menunjukan betapa lelapnya ia tertidur. Posisi telentang, kaki setengah terbuka. Sementara tangan tergeletak bebas di sampingnya. 


Beberapa hari yang lalu, secara berturut-turut, dalam 3 hari yang terik, ia puaskan diri bermain di luar bersama teman-temannya. Pandemi membuatnya harus berkurung di dalam rumah selama sekian bulan. Kulit badannya yang kemarin sudah mulai bersih, terang, kini mulai kusam lagi. Padahal kalau kulitnya cerah, bersih, ia lebih mirip seorang Chinese, karena kebetulan matanya juga agak sipit, sebagaimana ayahnya. 


Dan malam ini, seperti malam-malam sebelumnya, ia tidur di dekatku. Lelapnya dengan desis halus dari mulutnya, menjadi indikator bahwa ia cukup lelah hari ini. Satu hal yang menjadi ciri khasnya adalah, jika sudah merasakan kantuk, maka tak lama ia akan segera terlelap, tanpa banyak gerakan untuk mencari posisi nyaman. Begitu lelap. 


Kuamati wajah polos itu. Ya, dia yang bertubuh gempal, namun senantiasa bergerak aktif. Lelaki kecilku yang membuat banyak orang begitu gemas melihat fisiknya yang bohay, sehat. Matanya yang sempit namun panjang, membuatnya lebih mirip seorang oriental, sebagaimana ayahnya. Lelaki yang bisa bertutur halus, bahkan lebih lembut dari seorang perempuan. Namun juga lelaki yang bisa begitu "garang" Saat dirinya terusik. 


Dalam keletihan yang mungkin terasa karena aktifitas seharian, walau kusam masih ada d wajahnya, nampak kejernihan di muka kanak-kanaknya. Entah mengapa, ada haru yang begitu saja hadir tiba-tiba. Dan entah karena apa pula, seolah dirinya menarik ku untuk memberinya kecupan lembut. Tangan pun tergerak untuk membelainya perlahan. 


Kuusap dengan sayang kepalanya yang hanya berambut setinggi 1 cm, karena baru kemarin ia pergi ke tukang cukur. "Tebal rambutnya" kata si pencukur saat memegang rambutnya, kepada Pak Suami yang menemaninya bercukur. Ya begitulah. Rambutnya yang ikal memang lumayan tebal. Padahal dulu saat masih batita, rambutnya tipis. Setelah beberapa kali dicukur, perlahan rambutnya tumbuh semakin tebal. 


Tanganku terus membelainya, saat kubisikan do'a-do'a terindah untuknya. Kuusap kepala dan tubuhnya, dengan do'a-do'a yang terbaik. Pengharapan agar Yang Maha Kuasa menjadikannya insan yang sholeh, insan yang cerdas, insan yang disayangi kawan, disegani lawan. Permohonan agar Allah memperkenankannya menjadi seorang hafidz, yang kelak akan memberikan mahkota kepada orang tuanya. 

Semoga Allah melindunginya dari berbuat zolim atau pun menjadi korban kezoliman makhluqNya. Bahagialah ia, dunia akhiratnya. 


Bisa jadi Fatir, sang lelaki kecilku ini tak mendengarnya. Namun sesungguhnya, ada yang senantiasa mendengar dan melihat. DIA lah Sangat Khaliq, ALLAH SWT. Dia pula yang akan mengabulkannya di waktu yang pas. In syaa Allah, aku yakin itu. Sebagaimana in syaa Allah aku yakin do'a-do'aku terhadap 3 anakku yang lainnya jg akan di'ijabahNYA. In syaa Allah, Aamiin.. !! 


Masih kuusap tubuhnya, hingga ke kakinya. Tidurnya pun tak terganggu. Benar-benar lelap ia. Fatir hampir selalu tidak mau jika harus tidur berselimut, seperti saat ini. Celana yang dihuanakannya pun pendek saja. 


Sesaat setelah membalikan badan (tanpa membuka matanya) dan memeluk gulingnya dengan membelakangiku, aku pun akhirnya ikut terlelap di sampingnya. Malam itu pun kami lalui bersama, dalam indahnya lindunganNya. 


Jakarta, 8 Desember 2020

Bis jemputan Bekasi Timur : pergi dan pulang

Friday, October 2, 2020

Karena"nya"...

Source : pinterest.com

Perempuan itu sederhana. Tak terlalu cantik. Tapi di atas rata-rata. Kalo dulu, 1 tahun yg lalu, aku bisa saja mendapatkan 1-3 perempuan yang lebih cantik darinya untuk kupacari. Tapi yang ini berbeda. 

Wajahnya yang bersih, teduh, dengan pakaiannya yang berbeda, membuatku terikat. Rok yang digunakannya sebenarnya sama dengan teman perempuan lainnya. Namun, di bawah rok di sambungnya dengan kaos kaki panjang, hingga menutupi semua kakinya. Kepalanya pun ditutup dengan kain polos, terjurai hingga ujung belakangnya melewati batas pinggangnya. 


Tak banyak aku berinteraksi dengannya. Aku lebih memilih memperhatikannya dalam diam. Sungguh, kesantunan sikap dan tutur katanya, serta apa yang menutupi hampir seluruh bagian tubuhnya, itulah yang membuatku begitu memperhatikannya. Aku yang dulu begitu mudah untuk mendapatkan perempuan untuk dipacari, bahkan hingga ada diantara mereka yang langsung datang kepadaku menyatakan perasaannya.. Kini seolah tak berdaya, tak memiliki cukup keberanian untuk menyatakan apa yang aku rasakan kepadanya. Jangankan untuk "menembak", untuk sekedar berbicara agak panjang saja dengannya, seakan aku tak sanggup! 


Aku merasa tak pantas bersamanya, karena masa laluku yang cukup kelam. Namun, aku juga tak sanggup membohongi hati. 


Tanpa dikomando, aku terhipnotis, sedikit demi sedikit merubah diri. Kumulai lebih intens belajar tentang agama, yang telah kuanut sedari lahir : Islam! 


Kuberharap, dengan kenaikan kebaikan agamaku, aku lebih mudah untuk mendekatinya. Ada rasa percaya diri yang akan muncul. 


Waktu berjalan. Aku terus belajar lebih baik. Namun rasa itu terus ada, dan bahkan semakin kuat. Tak sanggup lagi kumenahannya.. Kuingin dia tau! Namun, untuk berbicara langsung, aku belum bisa! Aku tak kuasa! 


Sudahlah.. Kukuat-kuatkan. Akhirnya, mading (majalah dinding) tempatku menuliskan asa dan rasaku, tanpa menyebut namanya. Aku tak sanggup! 


Tapiii.. Aku tak paham, apakah dia telah membaca isi mading tersebut. Kalau pun paham, sepertinya dia berusaha bersikap se-biasa mungkin. Aaahhh…  inilah yang membuatku tak tahan, membuatku semakin tergila-gila dengannya. Dia begitu dewasa! 


Energiku terkuras.. Aku begitu mengharapnya, tanpa berani berkata langsung. Dia pun nyaris tak bergeming. Lalu, apa yang bisa kuperbuat? 


Aku tak sanggup begini!! Dan aku pun berlari.. Berlari sekuatnya.. Aku, letih! 


Aku berlari terus.. Hingga ke ujungnya, aku menumpahkan segalanya kepada-Nya! Aku menangis! Aku tergugu! Aku… lelah! Aku.. Ahhh.. Ntahlah!! 


Aku mengadu kepada-Nya. Mengeluarkan semua apa yang kurasa, semua yang kufikir, semua yang kuduga.. Biar.. Biarlah, Dia yang membimbingku.. !! (Sesuatu yg mungkin nyaris tak pernah aku lakukan!) 


Aku diam.. Namun air di mata mengalir.. Tepekur! 


Akhirnya.. Perlahan, dari lapis terdalam hatiku, muncul cahaya itu.. Aku.. Telah keliru! Aku telah salah! Yaa.. Aku salah! 


Aku yang telah berubah ke arah yang lebih baik, aku yang telah berubah lebih religius, ternyata melakukannya karena ingin mendapatkan simpatinya, karena ingin mendapatkan kagumnya.. Dan bukan karena-Nya!! Yaa..  karenanya! Aku, salah!! 


Aku tersungkur. Entah bagaimana sembabnya mataku.. Aku tak peduli.. !! Aku.. Salah! Akuu.. Mohon ampun, seampun2nya kepada-Nya.. !! 


Waktu berjalan. Aku, tak lagi ingin berubah karena perempuan itu. 


Namun, bayangan perempuan itu tak pernah bisa hilang dari fikiranku. Semakin kuat kumencoba menghalaunya, semakin dalam apa yg aku rasa terhadapnya. Tapi.. Aku tak ingin lagi seperti dulu.. Tidak! Aku sdh berazzam! 


Tapii.. Aku tak sanggup! Berat rasanya bagiku! 


Kuberlari lagi.. Berlari sekuatnya, hingga kutersungkur! 


Tak kuasa aku. Aku kembali kepadaNya. Melarikan diri kepada-Nya. Menumpahkan segala yang kurasa. Ya Rabb.. Ampuni aku. Aku sudah berazzam.. Tak ingin kutersesat dalam kubangan dosa. Yaa.. Walau aku memang memiliki asa terhadap perempuan itu..


Rabb.. Engkau yang Maha Mengetahui, Maha Berencana, Maha Kasih.. Malam ini, kutitipkan ia, wanita sholehah itu, kepada Engkau. Jagalah ia.. Hingga saatnya nanti,kumohon, pertemukanlah kami dalam kondisi yg terbaik menurut Engkau. Aku ingin mendampinginya, dalam kehidupan dunia dan akhiratnya. Tolong, jaga dia, untukku! Jadikanlah dia, perempuan terbaik bagiku.. 


Source : freepik


Robb…  ampuni Aku, jika Aku salah dalam bermohon. Namun itulah yg Aku rasa.. Dan kepada Engkau sajalah tempat terbaikku mengadu.. Ampuni hamba, ampuni hamba…  


Kabulkanlah permohonanku ini…  Aamiinnn.. !! 


Daaann…  Aku tertunduk sangat dalam, melepas apa yang kurasa, Tanpa peduli lg airmata yg begitu deras keluar, membasahi sejadah dan sarungku.. Aku tergugu.. Dan, mataku kembali bengkak.. 


Malam yang sunyi pun menjadi saksinya.. Saksi bahwa Aku telah menitipkan wanita itu kepada-Nya.. Saksi bahwa Aku berharap, agar dia menjadi yang terbaik bagiku.. 


Dan suatu saat nanti, atas kehendak dan ridho-Nya, aku akan datang untuk menghalalkannya bagiku.. Semoga! 


Tapiiii… jika kelak yang terjadi adalah yang sebaliknya, meski saat ini rasanya berat, kuharap, Allah bisa menenangkan diri ini.. Menghadirkan diri ini dalam taman keikhlasan.. Dan aku dapat menjalaninya dengan senyum, serta kepala tegak.. Dengan tetap berhusnuzon kepada-Nya.. 

Semoga ya Allah…  





==========================


#Fastwriting
19 Sept 2019

Based on true story*****

Sunday, September 6, 2020

CHECK UP

Ruang tunggu

Sabtu, 5 September 2020 kemarin, Emak ke RS, dokter SpOg. Untuk kepentingan kontrol pasca tindakan medis (kuret dan transfusi) pekan lalu. Ternyata hari itu banyak yang melahirkan sepertinya. Hal ini dibuktikan dengan bberapa kali Dr. Lina Meilina Sp.Og keluar ruangan periksa untuk melakukan tindakan medis. Bolak balik. Ruang operasi. Ruang bersalin. Ruang periksa. Kebayanglah bagaimana letihnya Beliau, yang sudah buka praktek dari pagi hari di Rumkit ini.

Setelah menunggu lebih dari 3 jam (itu pun dari rumah berangkatnya setelah waktu shalat Zuhur), akhirnya dapat giliran juga. Aslinya nomer antrian 44, tapi ternyata dipanggil di nomer 41. Okelah kalau begitu. Alhamdulillah.

Ditanya-tanya, lalu cek USG, lalu cek lagi (maaf) kondisi pembalut, lalu berbincang lagi. Alhamdulillah, hasilnya baik-baik saja. So far so good. Tidak ada penambahan obat. Cukup menghabiskan yang masih ada saja. Alhamdulillah. Lega sudah. Akhirnya Emak dan Babeh balik pulang segera, karena pekerjaan Babeh sudah menunggu.

Sampai situ, Emak tak henti bersyukur atas kelancaran prosesi tindakan medis ini. Tidak terbayang kalau Emak mesti operasi angkat rahim, seperti yang sebelumnya pernah Dokter lain sampaikan ke Emak sebelumnya. Alhamdulillah, miom Emak cukup dipotong saja, dan tali penggantung miom tersebut dikuret, sementara Emak dibuat tertidur dengan obat bius yang disuntikkan oleh Dokter Spesialis Anestesi. Tindakan cukup di ruang bersalin, bukan di ruang operasi.

Alhamdulillah, proses tindakan medis berlangsung lancar dan cepat. Hanya butuh waktu sekitar 10-15 menit untuk pelaksanaannya. Tak lama kemudian Emak pun dibangunkan oleh Dokter Anestesi. Saat itu sekitar pukul 20.30 - 21.00 WIB. Malam. Emak lupa jam tepatnya. Transfusi darah Emak baru saja dimulai, begitu tindakan selesai. Alhamdulillah pada akhirnya ada 3 kantong darah AB +, dari 4 kantong yang dibutuhkan. Emak pun jadi seperti "vampire" yang kehausan darah, hingga sekitar jam 5 keesokan paginya, dengan "menghabiskan" 3 kantong darah tersebut.

Belakangan, Emak baru melihat langsung potongan miom tersebut. Ternyata sebesar baso telor, dan padat. Cukup berat. Yang awalnya berwarna kemerahan, perlahan berubah warna jadi keabu-abuan, mirip warna baso, dan tersimpan di dalam larutan tertentu (mungkin boraks atau formalin) di dalam plastik. Sementara potongan "penggantungnya" dimasukan ke dalam plastik berbeda. Masih ada darahnya saat Emak lihat. Yang ini agaknya tidak diberi cairan atau larutan seperti pada miom tadi.

Emak pun baru paham setelah Dr. Lina kemarin menjelaskan, bahwa jika penggantung miom kemarin berukuran cukup tebal/besar, maka operasi pengangkatan rahim memang mungkin akan dilaksanakan. Kalau pun tidak diangkat rahimnya, maka miom tetap harus dikeluarkan dari atas. Jadi ini seperti operasi sesar pada proses kelahiran. Hanya saja, kalau sesar biasa yang dikeluarkan adalah bayi, kalau ini, yang dikeluarkan adalah miom tadi.Sekali lagi, Emak bersyukur, operasi tersebut tidak dilaksanakan. Alhamdulillah, penggantung miom Emak berdiameter hanya sekitar 1 cm. Jadi cukup dengan di-kuret saja. Dan Alhamdulillah lagi, semua itu tanpa jahitan !

Sebenarnya, jika proses kuret saja, bisa dilakukan secara ODC (One Day Care). Artinya tidak perlu menginap, bisa langsung pulang pada hari yang sama. Hanya berhubung Hb Emak yang begitu rendah, jadi perlu transfusi untuk mengkatrol kadar Hb tersebut. Dan itu butuh waktu. Karenanya, mau tidak mau, menginap jugalah Emak 1 malam di RS. Sekitar 1 jam setelah proses transfusi 3 kantong darah, Emak kembali diambil sampel darahnya untuk diuji di laboratorium. 


Ruang Dokter yang terbuka saat Dokter sedang melakukan tindakan medis

Setelah kantong darah selesai, sambil menunggu hasil labnya, dan menunggu visit dokter, Emak tetap dalam kondisi diinfus. Entah cairan bening apa itu. Mungkin NaCl. Oiya, Emak baru dipindah dari ruang bersalin ke ruang perawatan, setelah proses transfusi selesai. Dan selama itu Emak di ruang bersalin, Babeh melewati malam dengan tidur 'ayam' di bangku depan ruang bersalin. Posisi Babeh bersiaga, karena tak ada kejelasan kapan Emak dipindah ke ruang rawat biasa. Jadi, nyaris tak bisa tidur Bliau. Dan ternyata, Emak baru dipindah ke ruang rawat, setelah Babeh kembali dari Musholla untuk shalat Shubuh. 

Pagi itu, Dokter visit ke ruang perawatan untuk cek kondisi Emak. Alhamdulillah, bagus progresnya. Dan kata Beliau, kalau Hb sudah 8 nanti, bolehlah pulang. Nanti didopping saja untuk menaikkan Hb lagi, dengan bekal obat-obatan dan makanan lainnya yang bisa digunakan untuk menaikan Hb. Alhamdulillah. Dan yang Emak syukuri lagi adalah, ternyata yang visit ini adalah dokter pengganti, karena pada hari itu (Sabtu) kebetulan Dokter Lina cuti. Maa Syaa Allah !! Kebayang kaannn ??? Seandainya kemarin (Jum'at) Emak tidak langsung memutuskan untuk ditindak pada hari itu juga, maka entah kapan akan bisa ditindak. Akn ter-pending beberapa hari, karena Dokter Lina cuti. Dan kebayang juga kaaan, bagaimana parnonya Emak, karena ada bagian dari dalam tubuh, yang mencuat keluar, dan dibiarkan berhari-hari .. ?!  Bagaimana kalau terkena kuman, bagaimana kalau bususk, bagaimana kalau.. bagaimana kalau... dsb, dst...  Bagaimana tidak nyamannya duduk, karena ada yang mengganjal. Bagaimana harus bersikap hati-hatinya... dsb, dst. Yaaa..... Alhamdulillah, Emak langsung putuskan hari itu juga ditindaknya, tanpa berpikir panjang, tanpa berdiskusi dulu dengan Babeh (kebetulan saat Emak masuk ruang periksa dokter kemarin itu, Babeh sedang Shalat Jumat). Emak mantap saja memutuskannya. Alhamdulillah... Syukur yang tak berhingga, atas berbagai kemudahan dan kelancaran proses yang telah diberikan-Nya.

Sekitar jam 10 pagi, saat Babeh pulang sebentar ke rumah, perawat masuk untuk memberitahukan hasil Lab. Alhamdulillah Hb Emak sudah naik jadi 7,9. Masih di bawah standar memang. Setidaknya, Hb Emak seharusnya 10. Normalnya 12. Tapi Emak sudah diperkenankan pulang siang itu. Senangnyaaa... Bergegas Emak kontak Babeh unuk tidak berlama-lama di rumah, karena Emak sudah boleh pulang.

Oiya, ini yang jadi ciri khas peraturan opname di rumkit ketika pandemi seperti saat ini, disampaikan di awal, sesaat akan masuk ke tempat tindakan : yang menjaga hanya satu orang, jadwal besuk diTIADAkan ! Jadi Babeh aja yang menunggui..

Akhirnya... dengan dibekali sejumlah jenis obat, Emak pulang ke rumah. Alhamdulillah...

Semoga, selanjutnya, Emak sehat-sehat terus yaaa... Mohon doanya..


Satu lagi, setelah beberapa bulan, inilah kali pertama lagi Emak melihat tangan Emak berwarna'merah" lagi. Sebelumnya yang nampak adalah "putih", "pucat".. Ya..karena ternyata, Hb Emak yang parah tadi. (Emak sendiri sempat terkaget saat mendengar Suster bilang bahwa Hb Emak 4,3. Serendah itu ??!!). Alhamdulillah..


========


Bekasi, kamar tengah

07.20 WIB

Emak yang Alhamdulillah sudah mulai "merah" lagi... :)


Friday, August 28, 2020

Di ruang bersalin (lagi)..

Antri di depan ruang periksa dokter

Utk kesekian kalinya emak diberi "rehat" olehNya.. Diberi waktu utk sejenak menarik diri dari hingar bingar khidupan sehari2nya. Diberi kesempatan untuk mengurangi dosa2 yg dimiliki. 

Yaa.. Emak masuk RS lagi, dan akan diberi tindakan medis. Kali ini, Miom yg tlh bertengger sekitar 5 bulan d tubuh Emak, minta perhatian utk segera ditindak. Qodarullah, Alhamdulillah, Allah memberi kemudahan. Ketika 5 bulan yll Emak dianjurkan utk pengangkatan rahim, yg jelas Emak kaget n tdk siap. Hari ini, karena suatu hal dan sekaligus cari second opini jg, Emak dtg k dktr SP OG yg menangani sesar ke-4 krucil. Alhamdulillah, melihat sikon saat tadi, Beliau bilang, tdk perlu diangkat rahimnya. In syaa ALLAH operasi kecil. Dan bisa ODC (One day care), artinya bisa pulang hr itu jg. Hanya memang harus dibius secara umum (Emak dibuat tertidur selama tindakan berlangsung). Tak apalah. Bgtu sj Emak sdh terharu, krn bagian tubuh Emak yg ada nama mulia Allah di sana, in syaa Allah ga jd diangkat. Emak smp menitikan air mata saat berita k Babeh, yg baru sj dtg menemui Emak di dekat laboratorium sehabis Jumatan. 


Dr SpOg tanya kpn Emak siap. Spontan Emak jwb "klo hr ini gmn Dok? "Alhamdulillah.. Dokter setuju aj. 


Ya sudah.. Emak ikuti prosedurnya. Termasuk puasa dan cek darah. Finally, Emak stay d ruang bersalin utk persiapan tindakan. Tindakan direncanakan mmg d ruang bersalin sj, tdk d ruang operasi. 


Namun…  Emak dikasih kesempatan lagi belajar bersabar.. Hb Emak rendah banget. Hanya 4,3 ! Jadi, Emak kudu transfusi darah dl, minimal 1 kantong. Stlh itu bs ditindak sambil masuk kantong selanjutnya. Direncanakan totally ada 4 kantong darah yg dibutuhkan. 

Cairan infus pertama Emak


Allah kasih keistimewaan kpd Emak. Darah Emak bergolongan AB+. Darah langka! Butuh waktu utk dpt 4 kantong itu. D kota n kab. Bekasi, stok nya kosong! Alhamdulillah, Jakarta punya stok. 2 kantong! Ya sudah, diuber lah oleh orang Bank Darah RS emak ini. Dan diperkirakan akan sampai d RS sekitar j 8 malam. Itu artinya, tindakan baru akan bisa dilakukan sekitar jam 10 malaman.. Krn utk 1 kantongnya dibutuhkan waktu transfusi stidaknya sekitar 2 jam. Dan itu artinya, Emak berpuasa makan sekitar 12 jam menjelang tindakan.. Kebayang gmn lapernya Emak kan? Hehehehe.. 


Saat ini Emak msh mnunggu kedatangan si "merah" yg 2 kantong itu. Udah kayak vampire aja deehh.. Haus darah!! Hahaha.. 


Untuk yg 2 kantong lg, msh terus diusahakan, dan sambil dilihat perkembangan kondisi Emak. Ya semoga aja yg 2 kantong yg in syaa Allah ada ini, sdh cukup utk memulihkan kondisi Emak. Aamiin.. 


Tindakan tetap direncanakan malam ini jg. Kebetulan Dr SP OG nya jg ada tindakan lainnya : sesar. Jd ya, sekalian jalan deh nanti, in syaa Allah. Jadi, yg tadinya direncanakan ODC, karena kondisi Hb Emak yg rendah, n perlu transfusi, maka Emak dipersiapkan jd dirawat inap. Tp baru masuk ruang perawatan nanti, pasca tindakan. Kelas 3 cukuplah.. In syaa Allah Emak hy nginep semalam kok di sini. Ga pingin berlama2 jg d sini.. Emak pengen sehat …  


Di ruang bersalin, mengetahui Emak sdh berpuasa dr jam 10an pagi, dan baru akan ditindak skitar jam 10 malam, ada suster yg perhatian sm Emak. Dikonsulnya k dokter anestesi, utk kemungkinan ngasih minum k Emak. Krn kebayang donk, gmn keringnya kerongkongan Emak?? 


Alhamdulillah, dr anestesi ACC utk ksh minum. Daaann…  taraaa.. Emak dikasih teh manis hangat oleh susternya…  trimakasih Ya Sus… . Dirimu baik deehh…  luv.. Luv.. 


Sementara Emak, jd spt org yg menemukan mata air di gurun pasir.. Seneng banget. Alhamdulillah.. Pelan2, sedikit2, Emak minum tehnya pake sedotan. Legaaa… segeeerrr…  


Daan.. Ini, Emak msh menunggu kedatangan darah itu… 


Cepatlah datang, biar segera jg bs dilakukan tindakan.. Dan pasca tindakan, Emak sadar, Emak bisa makan lagi, hehehe… laper!! 


Semoga semua berjalan baik2 saja.. Lancar2 saja.. Dan menjadi penggugur sebagian dosa2 Emak.. Aamiin allahumma aamiin…  !! 


=====


Ruang Bersalin 

RS Mitra Keluarga Bekasi Barat


19.33 WIB





Friday, July 17, 2020

Bahagianya Emak : Buku !!


sumber foto : penerbitdeepublish.com

Emak terharu, campur aduk perasaannya, ketika akhirnya ada 2 (dua) buku yang tercetak, dengan nama Emak tertulis di sana. Syukur Alhamdulillah, Emak mengalami fase ini. Fase dimana tulisan Emak akhirnya ada dalam buku. Senyum bahagia, dan seperti biasa, Emak nyaris nangis. (Ini mah memang karena Emak doyan nangis kali yaa..)

Bagi sebagian orang, barangkali ini tidak ada artinya. Belum apa-apa. Karena mungkin kualitas dan kuantitas tulisan Emak memang belum layak dibilang bagus. Emak juga belum jadi juara penulisan apa pun. Emak belum punya publikasi di penerbitan yang ber"kelas". Belum. Emak hanya penulis "ecek-ecek" di media yang yaaahhh... apalah.. Emak menulis juga dengan gaya suka-suka Emak, yang mungkin bagi orang lain membingungkan, karena pakemnya tidak ada yang sesuai dengan cara Emak menulis. Tapi yaa.. sudahlah. Tak apa. Ini saja sudah cukup membuat Emak senang.

Emak menulis, seringkali untuk menyalurkan apa-apa yang Emak rasakan dan apa yang ada di fikiran Emak. Terkadang sedikit berbagi dengan secuil pengetahuan dan pengalaman yang Emak kebetulan punya. Mungkin juga sebagai terapi bagi jiwa Emak, karena biasanya setelah menulis, ada perasaan "plong" yang Emak alami.  Ada sesuatu yang menjadi lebih ringan terasa. 

Dengan menulis, Emak mentransfer uneg-uneg, ide, pengetahuan dan segala macam yang ada dalam fikiran Emak. Ada kebebasan yang Emak rasakan di sana. 


Duo Buku Emak. Alhamdulillah..


Salah satu amalan yang tidak terputus balasannya, meski jasad sudah tidak ada di dunia adalah ilmu yang bermanfaat. Sumber ilmu tersebut bisa darimana saja. Salah satunya adalah dari tulisan. Ini artinya, tulisan yang bermanfaat bisa menjadi 'passive income' bagi penulisnya kelak. Ini jugalah yang jadi inspirasi bagi Emak dalam menulis. Emak tak ingin, apa yang ingin Emak tuliskan berdasarkan sedikit pengetahuan dan pengalaman yang ada pada Emak, hilang begitu saja, tanpa meninggalkan bekas. Belajar dari apa yang Emak alami pada masa lalu. Emak ingat, saat itu ada keinginan Emak untuk menuliskan dalam bentuk buku, berbagai rumus-rumus atau cara simpel dalam penyelesaian soal-soal kimia SMA yang Emak tau. Saat itu kebetulan Emak adalah salah satu tentor pada lembaga bimbel terkenal, guru sekolah dan juga guru privat. Jadi sedikit banyak Emak punya bekal rumus-rumus cepat tersebut. Namun, dengan berbagai sebab, keinginan itu tertunda-tunda untuk direalisasi. Waktu terus berjalan. Emak sudah tidak lagi mengajar sebagai guru maupun tentor. Lama tak terpakai, lambat laun rumus-rumus tersebut beranjak pergi dari ingatan Emak. Sementara Emak belum sempat menuliskannya. Disitulah Emak merasa sedih. Ada penyesalan. Tapi penyesalan memang datangnya belakangan. Cukup itu jadi pelajaran bagi Emak ke depannya. Kini, Emak ingin, saat Emak ingin berbagi pengalaman atau pengetahuan yang ada pada diri Emak, diusahakan untuk segera menuliskannya. Dimana saja. Kapan saja. Itu keinginan Emak. Semoga Emak bisa komit dengan hal tersebut. 

Emak bukanlah siapa-siapa. Emak juga bukan ahli apa-apa. Tapi Alhamdulillah, Emak yakin, sedikit banyaknya, ALLAH ada menitipkan ilmu atau pun pengalaman dari perjalanan hidup Emak yang bisa Emak bagi kepada yang lainnya. In syaa Allah, semoga bermanfaat.

Mungkin cara Emak menulis, bahasa tulisan Emak, gaya Emak menyampaikan, tidaklah berkelas menurut sebagian orang. Tapi, biarlah... itu hak mereka. Sebagaimana Emak juga berhak memilih bagaimana Emak ingin menulis. Woles saja. Namun, bukan berarti Emak sudah tidak mau belajar yaa... Bukankah sebagai seorang Muslimah, Emak tetap harus belajar kan ? Tentang apa saja. Semoga Allah memberikan kemudahan kepada Emak untuk tetap bisa belajar dari mana saja dan kapan saja. Dan semoga Emak juga bisa terus menulis, mencoba menebar manfaat. Semoga saja... :)

===

Curhatan gabut Emak, yang lagi bahagia dengan 2 (dua) bukunya..

(mohon doanya, semoga lahir buku-buku selanjutnya.. :) )


====

Bekasi, Jum'at, kamar tengah,
pada saat jadwalnya Emak WFH

====









Sunday, July 12, 2020

Sang Pengusaha..

Bismillah..

Setiap anak itu unik. Setiap anak itu punya keistimewaan masing-masing. Emak harus percaya itu. Emak kudu yakin. Jadi tidak boleh men-generalisir, menyamakan semua anak, main pukul rata saja. Ingat itu ya Mak... hehehe.. self reminder ini..:)

Saat anak-anak tidak berangkat ke sekolah offline seperti saat ini, terkadang ada rasa iba juga bagi mereka. Terkadang gabut, tidak jelas apa yang akan dilakoninya. Apalagi kalau Emak juga tidak kreatif menciptakan kegiatan yang menarik bagi mereka. Alih-alih libur bermanfaat, yang ada bisa saja jadi budak gadget. Na'udzubillah.

Di rumah, si Kakak (nomor urut 2), tidak terlalu suka dengan kemonotonan. Jiwanya seolah lebih suka "merdeka", lebih terbuka. Bergaul pun lebih cair, lebih fleksibel. Dari awal SD, menyukai berniaga. Apa saja. Dibawalah ke sekolah. Jual penghapus, pensil, stiker, dan sebagainya. Memang masih skala kecil. Tapi Emak ga masalah. Malahan Emak mensupportnya, secara Emak kan juga menyukai perniagaan, hehehe. Agaknya darah "niaga" Emak mengalir turun kepadanya.

Berbagai pengalaman dijalaninya. Dari yang pembayarannya agak telat, nyaris lupa malah, hingga sebagian modal terpakai untuk jajan. Hehehe.. Emak sih tidak banyak protes. Tak apa. Ini proses pembelajaran baginya. Dengan maunya saja untuk berniaga, berdagang, itu sudah menjadi nilai plus untuknya. Mentalnya ditempa. Tidak setiap orang memiliki keberanian untuk menawarkan barang atau produk kepada orang lain. Jempol untuk ke-pede-annya.

Belakangan, vakum, tidak bawa dagangan ke sekolah. Katanya, sempat tidak diperkenankan untuk berdagang di lingkungan kelas (atau sekolah yaa ? Emak lupa !). Ya sudahlah. Anaknya juga sedang ingin off dulu juga barangkali.

Corona datang. Manusia di"kurung". Tiga bulan sudah berada dalam rumah. Entah mengapa, Emak yang dulunya memang suka berdagang, tiba-tiba dapat ide untuk melakoninya lagi. Mungkin karena makin banyak dagangan online yang berseliweran di medsos. Ini jadi "kompor" juga bagi Emak untuk menjalaninya lagi.

Jadilah, Emak buka list orderan. "Ikan Bilih Goreng Asli Singkarak", itu yang jadi produknya. Alhamdulillah, orderan masuk, dari mana-mana (kesannya ramai amat yak ? :) ) Beberapa di antaranya harus dikirimkan melalui ekspedisi, karena berada di luar kota. Beberapa lagi juga ada yang diantar dengan ojek online. 

Prosesi penerimaan barang, memilah-milah produk, packing-packing, hingga pengiriman tersebut, ternyata dinikmati oleh Kakak yang ikut terlibat di dalamnya. Bersemangat. Apalagi, ketika diberi komisi persenan oleh Emak dari barang yang dia antarkan. Bahagianya si Kakak.. (sederhana ya...?!)

Kemarin, ketika ada paket datang ke rumah, ini sih Emak yang belanja, tiba-tiba Kakak bilang kurang lebih, "Bun, kardusnya jangan digunting yaa.. biar bisa untuk kirim paket lagi..". Hehehe... siap Kak.. !

Malamnya, dengan gunting, dibongkarnya beberapa kardus bekas. Lumayan hati-hati dan rapih cara bongkarnya. Tapi jelas nampak gabutnya.


Yang lagi gabut..


"Kenapa Kak ? Kangen packing-packing ya ?"
"Iya, senang aja kirim-kirim, Bun.."

Di situ Emak tersentuh.

"Sabar ya Kak.. In syaa Allah, sebentar lagi kita packing dan kirim-kirim lagi.."

Emak jadi semangat dan memutar otak untuk melanjutkan "perniagaan" lagi. Secara online terutama. Produk sudah ada. Pasar sudah ada. In syaa Allah lanjut lagi.

Beberapa pekan sebelum ini memang kami, yaitu Emak, Kakak, dan juga Abang (nomor urut 1), pernah diskusi untuk melanjutkan dagang secara online ini, salah satunya dengan melalui marketplace. Terlebih mereka juga sedang libur. Kalau pun masuk sekolah, masih banyak secara daring. Respon mereka positif. Apalagi ketika disepakati tentang bagi hasilnya. Semakin semangatlah duo sulung ini. 

Namun, karena berbagai hal, mengisi marketplace belum lagi terealisasi. Akhirnya, Emak memanfaatkan medsos, terutama aplikasi WA (Whatsapp)  untuk memasarkannya. Jadilah seperti yang di atas tadi.

Kini masuk PO kedua. Alhamdulillah... masih positif respon pasarnya. Semoga berkelanjutan. Jadi Kakak, tidak gabut lagi. Hehehe..

Dengan terlibatnya Kakak dalam proses-proses tersebut, ini jadi pembelanjaran baginya. Ajang berlatih untuk lifeskill-nya. Bekal hidupnya. Keahlian dalam hidup. In syaa Allah, suatu ketika, ini akan berguna. Kakak jadi pengusaha ? Why not ? Pengusaha sukses shalih sebagaimana sahabat nabi : Abdurrahman bin "Auf,  yang juga hafidz, In syaa Allah. 

Gantungkanlah cita-cita setinggi langit, dengan hati yang tetap membumi ya Nakk... In syaa Allah, dengan tetap berpegang terhadap  tuntunanNya, dirimu tak akan tersesat.. In syaa Allah, dunia akan berada di tanganmu, saat engkau tetap berikhtiar di atas jalanNya. Kejarlah akhirat, maka dunia akan mengikutimu. Itu pesan Emak.

Sholeh, kaya, berkah, berlimpah... Aamiin.. !!


=====

Coretan dari Emak yang fakir ilmu..

=====

Kamar belakang, waktu Dhuha
09.55 WIB








Thursday, June 11, 2020

WFO VS WFH


Alat dan bahan di workshop kami
(foto koleksi pribadi)


Emak sudah mulai WFO lagi, tapi dengan jadwal selang seling. On-off. Sehari masuk (wfo), sehari tidak (wfh). Akhirnya Emak memilih naik jemputan (Alhamdulillah, itu jemputan masih menerima anggota baru yaa...).  Ehh.. sebenarnya Emak adalah anggota baru yang lama deh. Karena dulu pernah ikut jemputan, lalu DO, off, dengan satu dan dan lain hal penyebabnya. Salah satunya adalah karena jadwalnya yang pagi sekali (jam 5.30 WIB) bis sudah berangkat. Ini artinya Emak harus berangkat dari rumah lebih pagi dari itu kan ?! Padahal krucil di rumah bererot.. (iih..."bererot"..  apaa ya padanan katanya dalam Bahasa Indonesia ?? ) Lagi ribet-ribetnya. Lalu juga saat pulang, perasaan sudah tidur, terus bangun, kok belum sampai-sampai juga yaa... Macetnya ituuuu... !! Akhirnya kemudian Emak memutuskan mengalah. Emak mulai naik kereta commuter. Jadi berangkat bisa lebih siang. Pulang lebih fleksibel (bisa lebih mundur). Dan, biasanya waktu perjalanan dengan commuter lebih singkat. Tapi konsekuensinya adalah... bea transportasi jadi membengkak, belum lagi muatan commuter yang sering kali membludak, berjubel, bahkan untuk sekedar berdiri secara benar saja, sulit. Mungkin lebih mirip dengan pepes, perkedel, atau ikan sardens dalam kaleng yaaa... :) Dempet-dempetan sekali. Karenanya, Emak lebih sering memilih gerbong wanita, agar tidak terlalu risih, dibandingkan dengan gerbong campuran. Hiiii....

Kembali ke jemputan. Yaa.. akhirnya Emak kembali. (Lagu "aku pulaaang" mode on.. :)) Kembali naik jemputan. Karena apa ? Ini masih musim Coronaa... si musuh yang tak tampak ituuu. Dan beberapa kasus disinyalir terjadi dengan penularan di atas commuterline. Parno !! Manusia berkewajiban berusaha menjaga diri, meskipun keputusan ada di tangan-Nya. Emak kembali naik jemputan, setelah sebelumnya memastikan dulu bahwa bis tersebut masih ada kuota untuk ikutnya anggota baru. Alhamdulillah, ALLAH mempermudah. Masih bisa. 

Mulai Senin, 8 Juni 2020 kemarin, Emak ikut jemputan lagi. Dan seperti dahulu, bis akan berangkat pukul 5.30 WIB dari Superindo Bulakkapal, Bekasi Timur. Baru 2 (kali) pagi yaa.. Dan 2 (dua) kali juga pagi-pagi dihiasi drama. Si bontot merengek ! Heboh melarang Emak untuk kerja ! Mungkin karena ikatan emosi antara anak dan Emak kuat  barangkali yaa... Jadi di menit-menit keberangkatan dari rumah, si bontot yang tadinya tidur, mendadak terbangun, dan menyadari Emaknya akan berangkat. Auto hebohlah dia. Segala cara diupayakan untuk menghalangi keberangkatan Emaknya. Tak relaaa. Akhirnya, di pagi pertama, bontot diajak bermotor (bertiga dengan ayahnya) hingga ke paangkalan bis jemputan. Tapi di pagi kedua, Emak tak bisa menghadapi si bontot. Agak siang barulah Emak berangkat dengan diantar oleh Pak Suami dengan motor kebesarannya, cusss ke kantor. Itupun setelah melakukan beberapa trik terhadap si bontot :).

Kembali ke WFO dan WFH. Hampir 3 (tiga) bulan berada di rumah, mungkin otot-otot jadi agak kaku untuk diajak kerja WFO lagi. Akibatnya, 2(dua) kali WFO, sesampainya di rumah Emak merasakan keletihan yang lumayan waah. Untungnya, keesokannya Emak off ngantor, alias WFH. Jadi bisa lebih rileks. Nah, dari pengalaman beberapa hari ini, Emak merasakan, bahwa jika dibanding dengan pola kerja yang dulu (full WFO), Emak lebih memilih pola kerja yang seperti saat ini. Selang-seling. Karena apa ? Karena bisa mengurangi stress di perjalanan, tidak harus berhadapan dengan kepadatan jalanan setiap hari.Secara tidak langsung, pola ini pun bisa mengurangi kepadatan kendaraan di jalanan. Dan ini akan memperbaiki keadaan bumi, karena polusi berkurang. (cieee.. Emak ceritanya menganalisa niiihh... :) ).

Jenis pekerjaan kami yang sangat teknis, banyak menggunakan peralatan yang berada di workshop di kantor. Peralatan dan lahan terbatas. Kami seringkali perlu bergantian untuk menggunakan alat dan tempat. Ini artinya, kami tidak melulu juga bisa menggunakan alat dan tempat tersebut. Maka, lebih baik memang sebagian yang tidak memakai alat tersebut melakukan WFH, bekerja dari rumah, melakukan pekerjaan yang tidak memerlukan alat dan tempat tersebut. Waktu bisa lebih efektif dipergunakan. Waktu dengan keluarga mungkin juga akan lebih banyak. Tidak melulu menghadapi padatnya jalanan. Stress berkurang. Dan secara tidak langsung, ini akan membuat stress berkurang, Staff mungkin akan lebih bahagia. Lalu, dengan keadaan bahagia tersebut, bukankah idealnya kreatifitas akan lebih mudah berkembang ?? Akan banyak ide-ide cemerlang yang bermunculan. Akan lebih banyak karya-karya baru yang bisa dihasilkan. Dan ini artinya, kualitas instansi bisa jadi akan lebih baik. Kali ini, Emak serius. Ini analisa Emak. 


Sekitar 6.30 WIB. Sudah sampai kantor. Kepagiaaannn... :)
(foto koleksi pribadi)


Sementara jika setiap hari WFO, stress di jalanan sudah jelas. Bagi yang rumahnya agak jauh, seringkali mengalami kelelahan saat baru tiba di kantor. Untuk di tempat kami, kadang sampai kantor pun tak bisa pakai alat atau tempat, karena bukan gilirannya. Memang bisa mengerjakan pekerjaan yang lain. Tapi kadang bahkan nyaris tidak bekerja sama sekali, karena satu dan lain hal. Fisik memang di kantor, tapi produktif, belum tentu. Sebabnya ? Ya itu tadi...  banyak hal di atas : keterbatasan alat dan tempat, lelah, dan sebagainya.

Kalau sudah seperti itu, bukannya lebih baik WFH ? Bawa pekerjaan yang bisa diolah di rumah, pekerjaan yang tidak harus di kantor. Buat laporan, ketak-ketik, dan sebagainya, itu bisa dilakukan di rumah. Memang bukan tanpa tantangan atau gangguan. Karena satu dan lain hal. Tapi setidaknya, stress di jalanan sudah berkurang. Keluarga bisa lebih terpantau, atau minimal bisa lihat anak-anak di rumah, apalagi saat ini mereka masih menjalani belajar dari rumah. Fikiran lebih tenang. Fisik sedikit bisa lebih rileks.

Itu analisa sederhana Emak. Tentu saja tidak lepas dari faktor subjektifitasnya yaa.. Maklum, ini adalah analisa dari seorang pekerja, yang kebetulan adalah emak-emak dari beberapa bocil. :)

Boleh sangat, untuk tidak sependapat dengan Emak. Bebas kok. Emak cuma membuat ulasan sederhana. Sedikit curcol, di pagi-pagi jadwal WFH hari ini. Mulai menulis dari ba'da Shubuh, di saat hari belum terlalu "bising". Kalau ada yang kurang berkenan dengan tulisan Emak ini, maafkan ya.. Tidak ada tendensius apa-apa kok. Kalau tulisan ini ada manfaatnya, Alhamdulillah. Kalau tidak, yaa.. anggap saja ini untuk refreshing yaa..  Wallahu 'alam bi showab.

====================

Kamar Belakang, pagi-pagi.