Showing posts with label perpustakaan. Show all posts
Showing posts with label perpustakaan. Show all posts

Sunday, October 18, 2020

Hipotesa Sang "Dokter" di Ruang Konservasi...



"Apa yang saat ini dirasa Bu ? Keluhannya apa saja ?".. "Mari coba kita cek yaa... ".... "Ooo.. ga apa-apa..ini hanya flue biasa.."... atau.. "ooh, ini ada gangguan pada lambung Bapak..." dan seterusnya, dan sebagainya..

Begitulah kira-kira yang disampaikan seorang Dokter, ketika ada pasien yang mengunjunginya untuk berobat.

"Ada alergi obat, Bu ?"... ... "Ada riwayat operasi, Pak ?"... "Ada riwayat hipertensi Mba ?' dan sejenisnya..

Hal ini hampir sama dengan yang terjadi di ruang konservasi kertas... Lho, kok bisa ?? Maksudnya bagaimana ?

Jadi begini...Bahan perpustakaan dari tempat koleksi layanan, setelah melewati sortir, dan berdasarkan skala prioritas dari pustakawan di layanan, akan dibawa ke ruang workshop konservasi untuk dilakukan treatment perawatan, dan perbaikan fisiknya. Koleksi BP inilah sebagai pasiennya. Pustakawan di konservasi sebagai dokternya.

"Pasien" tersebut akan diamati dan didata keluhan serta penyakitnya. Ada form"survey kondisi" namanya. Form berisi data-data fisik, termasuk jumlah halaman, tingkat keasaman (pH), luntur / tidaknya bahan perpustakaan tersebut, serta data berbagai kerusakan koleksi tersebut.


Dari data yang diperoleh, analisa akan dilakukan. Hipotesa siap dikeluarkan. Bermodalkan data tersebut, maka "dokter" di workshop konservasi akan mengusulkan treatment yang akan dilakukan terhadap bahan pustaka tadi.

Mengapa namanya "usulan" perbaikan ? Karena pada saat proses konservasi berlangsung, bukan tidak mungkin akan terjadi situasi yang berbeda dari analisa awal. Bisa saja usulan perlakuannya ada 5 langkah, tapi pada akhirnya ketika proses berjalan, treatment hanya 3 (tiga) yang dipergunakan.

Di sini terdapat lagi kemiripan pustakawan di ruang konservasi dengan dokter sebenarnya. Bisa saja di awal dokter mengusulkan obat A terhadap penyakit si X. Tapi dalam perjalanannya, bisa saja si X tidak cocok terhadap obat A. Dengan demikian, ada prosedur yang berubah, menyesuaikan kondisi dan kebutuhan si pasien (si X).

Jadi bgitu kurang lebih penjelasan tentang kata-kata "usulan" pada form survey kondisi tersebut.

Survey kondisi sendiri dilakukan terhadap koleksi/bahan pustaka yang masuk ke ruang konservasi. Termasuk di dalamnya diminta untuk mebuat foto dokumentasi before dan after treatment. Sehingga bisa diketahui perubahan koleksi tersebut sebelum dan sesudah dilakukan konservasi. 

Fungsi lainnya dari foto dokumentasi tersebut adalah sebagai antisipasi jika terjadi hal-hal yang di luar prediksi pustakawan konservasi. Apalagi jika bahan pustaka yang datang sudah dalam keadaan yang terputus-putus, mirip puzzle. Foto di awal bisa jadi alat bantu atau acuan untuk penyusunan "puzzle" tersebut dalam proses konservasinya.

Setelah semua tahapan konservasi bahan pustaka dilakukan, tibalah saatnya koleksi tersebut "diperiksa" kembali, sebelum dikembalikan ke layanan. Inilah yang merupakan survey pasca konservasi. Di form pasca ini (biasanya berada di halaman belakang dari form survey pra konservasi) akan didata kondisi akhir koleksi : pH (tingkat keasaman), bentuknya, jilidannya, dan sebagainya. Foto pasca konservasi juga diminta untuk disertakan. 


Bagi koordinator kegiatan konservasi tersebut ada tugas tambahan lagi. Koordinator akan mengecek kualitas (Quality Control) dari output konservasi tersebut. Jika kondisi sudah sesuai yang diharapkan, maka koleksi dapat dikembalikan ke unit layanan bahan pustaka. Namun jika kondisi jauh dari yang diharapkan, maka koordinator akan meminta pustakawan konservasi yang mengerjakan sebelumnya, untuk memperbaiki/mengulang perlakuan konservasinya.

Di sinilah dibutuhkan ketelatenan, kesabaran, keuletan dari seorang pustakawan 'dokter' konservasi. Harus sabar menghadapi koleksi yang terkadang sudah sangat rapuh, sehingga menanganinya mesti sangat hati-hati, sebagaimana merawat orang tua yang sudah sangat renta. Harus telaten dalam proses "pengobatan" perbaikannya. Dan juga "Ulet" ! Karena bukan tidak mungkin, bahan pustaka yang dihadapi memiliki tingkat kesulitan penanganan yang cukup tinggi. Terkadang begitu memacu adrenalin, memainkan emosi. Jika tidak ulet, maka tidak mustahil pustakawan konservasi akan menyerah di tengah jalan.

cek di sini untuk cerita konservasi lainnya..

Namun sebagaimana profesi dokter yang sesungguhnya, seorang pustakawan konservasi juga adalah manusia. Memiliki rasa, emosi, nafsu. Tak jarang terjadi kesalahan, gangguan, atau kegagalan di tengah jalan proses perbaikannya. Dan bisa jadi itu adalah di luar bayangan, di luar ekspektasi sang pustakawan. Setelah usaha maksimal yang dilakukan, terkadang ada saja terjadi, di luar perkiraan. Adanya bahan pustaka yang berdasarkan uji atau berdasarkan pengalaman sebelum-sebelumnya tidak luntur, ternyata mengalami kelunturan. Ada juga bahan pustaka yang nampak masih kuat, ternyata saat dilakukan proses konservasi jadi koleksi yang begitu rapuh. Inilah yang kadang membuat pustakawan konservasi terkaget-kaget, kecewa, bahkan sedih. Apalagi jika kemudian hal tersebut jadi bahan cercaan atau cemoohan terhadapnya. Seolah hilang wujud usahanya yang telah semaksimal mungkin pada koleksi tersebut. Ibarat "akibat nila setitik, rusak susu sebelanga."



Yaa... pustakawan konservasi juga manusia. Bisa saja gagal. Sebagaimana profesi dokter yang sebenarnya.  Usaha dilakukan semaksimal mungkin. Namun keputusan akhir tentang hasilnya, tetaplah DIA yang menentukan. Jadi, mungkin kita bisa coba mulai berempati terhadap pustakawan konservasi tersebut.

Mau tau lebih banyak tentang preservasii bahan pustaka ? Silakan berkunjung ke sini...

Wallahu'alam


=======================

Kamar tengah, saat WFH



Sunday, October 4, 2020

Apa saja yang masuk ke ruangan Konservasi bahan pustaka ?





Konservasi bahan pustaka (sekarang : konservasi bahan perpustakaan) menjadi bagian dari Preservasi  Bahan Perpustakaan. Tujuan utama dari konservasi bahan perpustakaan ini adalah untuk melestarikan bentuk fisik dari bahan perpustakaan, agar tetap dapat dipergunakan oleh generasi yang akan datang. Ini artinya, konservasi bahan perpustakaan berupaya untuk memperpanjang usia da    ri bahan pustaka tersebut.

Bidang konservasi tidak berwenang untuk memperbaiki kandungan isi (konten) dari bahan pustaka tersebut. Jadi yang diperbaiki benar-benar hanyalah bentuk fisik alias tampilan luarnya saja.

Konservasi bisa dibagi menjadi 2 (dua) jenis, yaitu : 

a. Konservasi preventif

Yaitu tindakan preventif atau pencegahan terhadap kerusakan bahan perpustakaan. Termasuk di dalamnya adalah antara lain : pembuatan sirkulasi udara yang baik, filter terhadap cahaya UV, desain ruang koleksi sesuai standar, pembersihan debu, 

b. Konservasi kuratif

Yaitu tindakan perbaikan terhadap berbagai kerusakan bahan perpustakaan. Termasuk di dalamnya adalah tindakan/treatment : bleaching, deasidifikasi, lining, laminasi, enkapsulasi, mending, dan sebagainya.


Untuk koleksi bahan perpustakaan sendiri, setidaknya bisa dibagi menjadi 2(dua) kelompok besar berdasarkan jenisnya, yaitu :

1. Koleksi Bahan Perpustakaan Karya Cetak

Umumnya berbahan dasar kertas. Tetapi ada beberapa juga yang non kertas. Termasuk di dalamnya :adalah : peta, gambar, buku, majalah, koran, naskah, dan sebagainya. Sedangkan karya cetak non kertas misalnya : naskah lontar, naskah pada batang bambu, kayu atau pun tulang, dan sebagainya.



2. Koleksi Bahan Perpustakaan  Karya Rekam 

Misalnya : CD, VCD, DVD, betamax, disket, mikrofilm, mikrofis, dan sebagainya.



Khusus untuk bidang konservasi bahan perpustakaan di Perpustakaan Nasional RI, untuk saat ini yang ditangani barulah karya cetak.

Untuk bahan perpustakaan karya cetak, yang masuk ke ruang konservasi bahan perpustakaan  adalah koleksi yang telah memenuhi skala prioritas, dan dipilihkan oleh staf di bagian layanan koleksi. 

Dasar pertimbangan koleksi tersebut dikirim antara lain :

a.  langka / kuno

 Langka artinya di luar sudah tidak ada lagi salinannya yang beredar atau sudah sulit dicari          salinannya. Kuno artinya  sudah berusia setidaknya sudah 50 (lima puluh) tahun.

b. banyak dibutuhkan / dicari oleh pemustaka

 Artinya koleksi tersebut bernilai, atau mengandung isi yang berharga

c. kondisi fisik bahan perpustakaan tersebut (rapuh, rusak, dan sebagainya)



Bahan perpustakaan yang telah disortir atau dipilih tersebut selanjutnya akan dibawa ke ruang konservasi, untuk diperbaiki sesuai dengan kondisi kerusakannya.

Untuk di Perpustakaan Nasional RI, yang rutin diperbaiki (masing-masing sesuai skala prioritas) setiap tahunnya adalah : Buku langka, majalah langka, koran langka, peta, gambar, naskah kuno (kertas atau pun lontar), 

Terhadap bahan perpustakaan yang masuk ke ruang konservasi akan diberikan treatment atau pun tindakan kuratif (perbaikan) sesuai kebutuhannya.

Sunday, September 27, 2020

SELAMATKAN DOKUMEN NEGERI DENGAN DEASIDIFIKASI


Salah satu penyebab utama bagi kerusakan bahan perpustakaan adalah 'asam'. Kondisi  asam ini secara sepintas bisa dikenali melalui aromanya yang khas. Secara visual, bahan perpustakaan (terutama yang berbahan kertas) yang asam cenderung berwarna kuning kecoklatan. 

Asam bisa menurunkan kondisi atau kualitas fisik kertas. Selain berwarna kuning kecoklatan tadi,  jika terus dibiarkan, maka kertas akan menjadi rapuh. Dan jika ini berlanjut, maka kertas tersebut bisa hancur, dan informasi di dalamnya pun bisa ikut lenyap.

Pada koleksi tertentu, terutama pada koleksi naskah kuno yang ditulis dengan menggunakan tinta yang mengandung ion Fe (ion besi), asam bersama dengan oksigen akan memicu terjadinya semacam perkaratan pada tulisan di naskah kuno tersebut. Kondisi inilah yang dikenal dengan istilah 'korosi tinta atau ink corrotion'. Naskah yang mengalami korosi tinta mungkin saja menjadi berlubang-lubang. Tinta yang 'berkarat' tersebut akan menggerus kertas, dan jika dibiarkan, kertas akan menjadi berlubang, mengikuti bentuk tulisan yang menggunakan tinta tersebut.

Selain mendegradasi kertas, asam pun bisa bermigrasi, bisa menularkan kondisinya ke 'tetangga sekitarnya', terutama yang langsung menempel kepadanya. Itulah mengapa, sebisa mungkin, koleksi bahan perpustakaan yang kondisinya bagus, jangan diletakan bersebelahan langsung dengan bahan perpustakaan yang asam. Ini untuk menghindari 'penularan' asam tersebut.

Pertanyaannya adalah, apakah kondisi asam tersebut dapat diperbaiki, agar tidak jadi semakin parah ? Atau setidaknya dihambat peningkatan kadar asamnya ? Jawabnya, BISA !

Adalah  suatu proses kimiawi yang bernama 'deasidifikasi'. Proses ini menghilangkan atau setidaknya mengurangi kadar asam yang terdapat pada bahan perpustakaan. 

Setidaknya ada 3 (tiga) jenis deasidifikasi. Namun yang akan dibahas kali ini hanya 2 (dua) jenis, yaitu :

1. Deasidifikasi Kering

Tindakan deasidifikasi kering biasa dilakukan terhadap koleksi bahan perpustakaan yang tidak bisa diperlakukan dengan menggunakan banyak bahan air. Biasanya adalah untuk koleksi yang mudah luntur dalam air. Contohnya adalah : naskah kuno yang ditulis tangan. Apalagi yang di dalamnya ada tulisan atau pun gambar yang menggunakan tinta warna merah. Warna merah memiliki ikatan kimia yang cukup lemah di antara warna-warna lainnya.Itulah mengapa warna merah mudah luntur bila terkena air. 

Selain naskah, gambar, atau peta pun bisa rawan kelunturan. Terutama yang ditulis tangan, terlebih yang ada warna merah atau turunannya di dalamnya.

Untuk mengetahui luntur atau tidaknya suatu bahan perpustakaan, maka sebelum perlakuan atau tindakan, akan dilakukan uji luntur terlebih dahulu. Bisa dengan menggunakan kapas yang dibasahi air, dan ditotolkan sedikit pada bagian naskah yang agak tersembunyi, dan ada tulisannya. Jika luntur, maka pada kapas tersebut akan nampak noda warna tibta tersebut. Dan jika tidak ada, berarti bahan perpustakaan tersebut kemungkinan besar tidak luntur.

Bagi bahan perpustakaan yang luntur dengan air tadi, maka bisa digunakan deasidifikasi kering. Pada deasidifikasi ini, pelarutnya (methanol) mudah menguap. Jadi tulisan lebih kecil kemungkinannya akan mengembang, 

Proses deasidifikasi jenis ini menggunakan bahan kimia : Barium Hidroksida dengan pelarutnya adalah Methanol. Konsentrasi yang biasa digunakan adalah 2% (berat/volume). Artinya, 2 gram serbuk Barium Hidroksida dimasukan ke dalam methanol, sehingga volume totalnya adalah 1 (satu) liter.

 


 Proses penyemprotan pada deasidifikasi kering

Perlakuannya adalah dengan menyemprotkan bahan kimia tersebut menggunakan sprayer yang mengeluarkan bulir-bulir yang halus, di ruang khusus, yang jauh dari interaksi dengan manusia lainnya, serta bersirkulasi udara yang baik. Bisa digunakan fumehood (lemari asam), yaitu tempat seperti lemari, yang memiliki exhaust di dalamnya, bisa ditutup, dan berkaca. Fumehood dikhususkan untuk melakukan tindakan kimia yang menggunakan bahan berbahaya seperti methanol tadi. Petugas yang melakukannya pun haruslah menggunakan masker dan bersarung tangan, untuk meminimalisir interaksi dengan bahan kimia. Koleksi yang sudah dibersihkan debu atau kotorannya dengan kuas atau vacuum cleaner disemprot lembar demi lembar, merata ke semua permukaannya. Setelah itu dikering anginkan. Harap diingat bahwa menyemprot adalah searah angin. Jangan sampai saat menyemprot, angin malah mengarah ke petugas, karena malah akan menyemprot petugas itu sendiri.

Setelah beberapa jam, koleksi akan kering. Siap untuk melanjutkan tahap konservasi atau preservasi selanjutnya.

 

2. Deasidifikasi Basah

Deasidifikasi ini dapat dilakukan terhadap bahan perpustakaan yang tidak luntur dengan air. Biasanya adalah bahan perpustakaan yang merupakan hasil cetakan mesin, seperti majalah, koran, buku, dan sebagainya.

Bahan yang dipergunakan adalah larutan Magnesium karbonat 2%. Serbuk Magnesium hidroksida seberat 2 gram akan dilarutkan dalam air hingga volume total 1 liter. Setelah disatukan, larutan akan dialiri gas karbondioksida selama kurang lebih 1 (satu) jam.

Koleksi akan direndam dalam larutan tersebut selama 1-2 jam. Setelah itu koleksi akan dikeringanginkan pada rak pengering. Tidak dengan penyinaran sinar matahari langsung, karena sinar UV pada matahari bisa merusak  bahan perpustakaan. Pengerjaan tetap lembar demi lembar. Artinya, jika itu adalah buku atau majalah, maka bahan perpustakaan tersebut akan dibongkar terlebih dahulu jilidannya, setelah diberi penomoran urut halamannya (paginasi). Dan setelah semua rangkaian konservasi selesai, maka bahan perpustakaan tersebut akan dijilid kembali.

 

Proses perendaman pada deasidifikasi basah (aquaeous deacidification)


Setelah melewati proses deasidifikasi tersebut, diharapkan nilai pH, yang menunjukan kadar keasaman, akan meningkat dari pH sebelumnya. Seperti diketahui,bahwa semakin kecil nilai pH, maka semakin tinggi kadar asamnya. Jadi semakin besar nilai pH, berarti kadar asam semakin rendah pH 1-6 itu artinya asam. pH 7 adalah netral.dan pH di atas 7adalah basa.

Dengan meningkatnya nilai pH, maka ini berarti kandungan asam sudah terkurangi. Dan itu mencegah atau minimal menghambat degradasi kertas lebih lanjut, dengan catatan penyimpanannya sesuai standar penyimpanan koleksi yang benar. Lebih jauh lagi, penghambatan degradasi kertas karena kondisi asam tersebut, akan dapat memperpanjang usia koleksi tersebut. Ini artinya, masih akan banyak generasi yang dapat memanfaatkan koleksi tersebut. Deasidifikasi dilakukan untuk pelestarian dokumen penting negeri.



=================

Referensi :

Sudiarti, L., Nurjanjati, C., Ranti, S., Wardhani, W. K.. (2019). Metode deasidifikasi basah dengan larutan magnesium karbonat pada konservasi kuratif naskah kuno media kertas, Jakarta : Perpustakaan Nasional RI

 

 

  

Friday, May 29, 2020

Buku dan Ilmu




Buku adalah sesuatu yang bila Anda membacanya
makin banyaklah kekayaan Anda
makin kuat kepribadian Anda
makin luas kekuasaan Anda
makin kokoh raga Anda
makin kaya perbendaharaan kata Anda
makin lapang dada Anda
serta menjanjikan penghargaan dari masyarakat 
dan persahabatan para raja
                                            (Abu Amr Al Jahizh)



Buku yang kubaca
selalu memberi sayap-sayap baru.
Membawaku terbang
ke taman-taman pengetahuan paling menawan,
melintasi waktu dan peristiwa,
berbagi cerita cinta, menyapa semua tokoh yang ingin kujumpai,
sambil bermain di lengkung pelangi
                                            ( Abdurahman Faiz- (Aku lnl Puisi Cinta))



Ilmu itu lebih baik daripada harta.
Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta.
Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum.
Harta itu kurang apabila dibelanjakan
tapi ilmu bertambah bila dibelanjakan
                                            (Sayyidina Ali Bin Abi Thalib r.a.)




Friday, May 15, 2020

Beberapa Media Naskah Kuno di Perpusnas RI

Perpustakaan Nasional RI menyimpan berbagai koleksi bahan perpustakaan, dari berbagai tahun terbitan, dari berbagai sumber, dan berbagai media (media cetak dan media rekam). Media cetaknya pun beraneka rupa.

Berbagai jenis koleksi tersebut tersimpan di 2 (dua) lokasi gedung Perpusnas RI, yaitu di Jl. Merdeka Selatan No. 11 Jakarta Pusat (24 lantai) serta di Jl. Salemba Raya 28A, Jakarta Pusat. Sekitar 75% koleksi berada di Merdeka Selatan. Selebihnya di Jl. Salemba Raya (koleksi koran langka dan koleksi deposit).

Dari berbagai koleksi yang dimiliki Perpusnas, ada beberapa koleksi khusus Perpustakaan Nasional RI. Salah satunya adalah koleksi Naskah Kuno. Koleksi ini berada di gedung Jl. Merdeka Selatan, lantai 9. 

Banyak sekali naskah kuno juga langka yang disimpan di sini. Contohnya : Negarakretagama, Babad Diponegoro, Dan karena kondisi yang sudah tua atau karena beberapa faktor lainnya, maka beberapa naskah tersebut sudah dikonservasi untuk menjaga kondisi fisiknya. Sebagian juga sudah dialihmedia ke dalam bentuk digital.

Naskah-naskah tersebut ditulis di atas berbagai media. Umumnya memang di atas kertas. Tapi banyak juga di atas media lainnya, misalnya : daluang, bambu, dan sebagainya.

Daluang adalah kulit kayu yang diolah sedemikian rupa, hingga menjadi lembaran yang bisa ditulisi. Dan karena proses pembuatannya secara manual, maka ketebalannya juga tidak rata sebagaimana ratanya kertas yang diproduksi pabrikan.

Berikut adalah beberapa media selain kertas yang dipergunakan untuk menulis naskah kuno yang kini tersimpan di Perpustakaan Nasional RI :

1. Lontar

Terbuat dari daun lontar yang melalui proses panjang hingga bisa ditulisi.

                                              

Bahan : Lontar ; Aksara Jawa Kuno ; Bahasa Jawa Kuno


2. Daluang / Dalwang

Merupakan kulit kayu yang diproses sedemikian rupa (secara manual) hingga jadi lembaran yang siap untuk ditulisi.

                                          


3. Bambu

Bahan : Bambu ; Aksara Batak ; Bahasa Batak

Bahan : Bambu ; Aksara : Batak ; Bahasa : Batak

                                         



4. Kayu

Bahan : Kayu ; Aksara Batak ; Bahasa Batak. Sebenarnya merupakan souvenir.


Bahan : Kayu ; Aksara Batak ; Bahasa Batak. Merupakan souvenir


Bahan : Kayu ; Aksara Batak ; Bahasa Batak. Merupakan souvenir


5. Kayu Alim

    Naskah yang menggunakan kayu alim umumnya memiliki ciri seperti Akordeon, yaitu memanjang      dan dilipat bolak balik.



Bahan : Kayu alim ; Aksara Batak ; Bahasa Batak. 


Bahan : Kayu alim ; Aksara Batak ; Bahasa Batak. 


6. Tulang


Bahan : Tulang ; Aksara Batak ; Bahasa Batak. 


8. Labu
Isi naskah dituliskan di permukaan buah labu yang telah diproses sedemikian rupa sebelumnya.

Bahan : Labu ; Aksara Batak ; Bahasa Batak. 

    
Demikianlah beberapa varian koleksi manuskrip yang ada di Perpusnas RI. Untuk informasi lebih lanjut, silakan menghubungi pihak koleksi Naskah Kuno, Gedung Perpustakaan Nasional RI lt. 9, Jl. Merdeka Selatan No. 11, Jakarta Pusat.

Monday, April 1, 2019

MELEPAS SELOTAPE DENGAN BENZENA (C6H6)

Selotape adalah satu hal yang mengganggu dalam konservasi, terutama konservasi kertas. Bagaimana tidak, untuk melepaskannya, diperlukan treatment khusus/ekstra. Tipikalnya pun berbeda-beda. Ada selotape yang mudah dilepaskan (bahkan hanya dengan dilepaskan dengan tangan), ada yang butuh air panas, cukup dengan minyak kayu putih, atau yang lebih berat, dengan menggunakan benzena.

Mengapa selotape begitu mengganggu bagi koleksi pustaka ? Begini penjelasannya...

Pernah melihat selotape menempel pada suatu dokumen/kertas, dan kertas tersebut (yang tertutupi oleh selotape tadi) cenderung berwarna lebih gelap dari bagian lainnya ? Mengapa bisa begitu ??


Kertas di bawah selotape berwarna lebih coklat
 
Kertas lebih coklat

Well, selotape yang beredar di pasaran, cenderung bersifat asam. Kertas yang tertempel selotape ini akan terkontaminasi oleh kandungan asam tersebut. Jadi, asam akan menyebabkan kertas perlahan cenderung berwarna kecoklatan. Dan asam ini lambat laun akan terus merusak kertas. Hasilnya, kertas kecoklatan tersebut malah cenderung menjadi lebih rapuh. Ini artinya, lambat laun koleksi akan mengalami kerusakan yang lebih parah, jika tidak segera tertangani.

Bagaimana menangani selotape tersebut ? Lepaskan !

Seperti yang telah ditulis di atas, selotape berbeda-beda cara penanganannya. Tergantung karakteristiknya masing-masing.

Untuk selotape yang terbuat dari kertas, umumnya bisa dilepaskan dengan bilasan air panas. Caranya adalah dengan meletakan kertas ber-selotape tersebut di dalam wadah (bak/baskom, dan sejenisnya) yang dialiri oleh air panas. Selotape bisa saja lepas dengan sendirinya, atau kalau tidak, bisa dibantu dengan melepaskannya dengan tangan.

Selotape kertas

Selotape bisa juga dilepaskan dengan menggunakan minyak kayu putih. Caranya adalah dengan mengolesi selotape (dengan menggunakan kapas/kuas kecil) dengan minyak kayu putih. Bolak balik. Artinya bagian depan kertas yang berselotape, dan bagian belakang kertas tersebut. Jadi minyak kayu putih tersebut lebih cepat meresap, dan lebih memudahkan untuk melepas selotape tersebut. (cara ini mirip dengan cara melepaskan selotape dengan menggunakan benzen). Namun perlu diingat, bahwa metode dengan minyak kayu putih ini, biasanya akan meninggalkan noda minyak di kertas / dokumen tersebut.

Untuk penanganan yang lebih serius, bisa dengan menggunakan Benzena. Benzena / Benzene adalah bahan kimia berbahaya yang mudah terbakar, dan bersifat karsinogen. Karenanya, penggunaan benzena diminimalisir, dan menjadi alternatif terakhir. Pengerjaannya dilakukan di ruang khusus, dengan ventilasi yang lancar. Hindari semaksimal mungkin kontak dengan uap dari Benzena. Lakukan di fumehood / lemari asam. Namun jika fumehood tidak ada, lakukanlah di dekat jendela atau ruang terbuka (namun hindari ada manusia di sekitarnya). Perhatikan arah angin. Jangan melawan arah angin. Karena jika berlawanan, maka uap Benzen akan terhirup oleh kita. Jangan lupa, GUNAKAN MASKER !

Namun sekali lagi, penggunaan Benzen adalah sebagai alternatif terakhir !!




Alat dan bahan yang dipergunakan dalam melepaskan selotape dengan metode Benzena

Perlu diperhatikan di sini, sekali lagi, karakteristik dari selotape ini berbeda-beda. Termasuk di dalamnya, mudah/sulitnya untuk dilepaskan dari dokumen/kertas. Ada yang mudah, ada yang sulit. Jika berbagai cara telah dilakukan, namun selotape tidak bisa lepas, dan malah berpotensi merusak konten (kandungan isi) dari dokumen, lebih baik tinggalkan/biarkan saja selotape tersebut. Kita harus memilih kondisi yang lebih baik, dari dua (2) pilihan  yang sama-sama kurang baik.


Selotape yang sulit untuk dilepaskan


Satu lagi, tempat menempelnya selotape tadi, setelah lepas pun, biasanya masih akan meninggalkan bekas, antara lain : warna kecoklatan/ warna berbeda dari sekelilingnya, mau pun masih ada perekat yang tersisa.

Ada noda/bekas di tempat menempelnya selotape







Wednesday, March 27, 2019

TIPS SEDERHANA PERAWATAN KOLEKSI PUSTAKA

 
Koleksi Pustaka di rumah
Source : google.com



Koleksi bahan pustaka (buku, majalah, dsb) yang kita miliki, butuh perawatan, agar bisa dipergunakan dalam waktu yang lebih panjang. Hal ini karena diharapkan koleksi tersebut bisa terus diambil manfaatnya di masa depannya.




Berikut tips-tips sederhana perawatan koleksi bahan pustaka, yang bisa dilakukan, bahkan untuk perpustakaan pribadi sekalipun :



1. Biasakan menyentuh / memegang koleksi dengan tangan yang bersih

Tangan yang tidak bersih bisa meninggalkan kotoran di koleksi. Termasuk di dalamnya, tangan yang berminyak. Keadaan ini bisa mengundang serangga, jamur, maupun meningkatkan kadar asam pada koleksi.
Bersihkan tangan dulu.
Source : google.com


2. Hindari meletakan makanan/minuman di dekat koleksi pustaka

Remah makanan dapat mrngotori koleksi. Apalagi jika meletakan makanan/minuman tersebut di dekat koleksi hingga bermalam, dan dalam keadaan terbuka pula. Hal ini beresiko tumpah, menimbulkan noda, dan mengundang serangga, jamur, dsb.
Jauhkan dari makanan dan minuman.
Source : google.com


3. Jangan menyimpan koleksi langsung di atas ubin (tanpa alas)
Ubin cenderung dingin dan lembab. Kondisi lembab disukai oleh jamur. Untuk lokasi yang rawan rembes/bocor, akan lebih parah lagi. Apalagi yang rawan banjir. Akan bisa berdampak langsung terhadap koleksi tersebut.

Hindari meletakan koleksi langsung di atas ubin.
Source : google.com



4. Hindari sinar matahari langsung



Gunakan tirai (gordyne/sejenisnya) untuk menghalangi sinar tersebut. Sinar dan panas yang terus menerus terpapar pada koleksi, akan membuat koleksi cenderung rapuh. Warna permukaan koleksi yang terpapar pun, akan mengalami pemudaran.

Berikan penghalang dari sinar matahari langsung.
Source : google.com



5. Tempatkan koleksi di ruangan yang sirkulasi udaranya baik dan lancar


Hindari ruangan/tempat yang perbedaan suhunya ekstrim. Akan lebih baik jika ditempatkan di ruangan ber-AC yang menyala selama 24 jam penuh. Namun jika tidak, sirkulasi udara yang baik saja sudah lebih baik, dibandingkan jika 12 jam AC hidup, 12 jam lagi suhu ruangan panas. Inilah yang dimaksud keadaan suhu ekstrim. Suhu ekstrim menyebabkan koleksi lebih mudah rusak.


Sirkulasi yang baik, bisa dengan adanya jendela / ventilator.
Source : google.com

Jika memungkinkan, sebaiknya gunakan AC selama 24 jam.
Source : google.com





6. Letakan silica gel pada koleksi yang disimpan dalam tempat tertutup (box/ laci/ lemari tertutup/sejenisnya)



Butiran silica gel yang masih bagus
Source : google.com

Silica gel berfungsi mengurangi kelembaban udara, karena bersifat higroskopis (menyerap air/ uap air). Sifat ini pula yang menyebabkan silica gel seringkali digunakan dan diletakan pada kemasan sepatu/tas/baju dll. Udara yang lembab dapat menyuburkan jamur, yang bisa merusak koleksi pustaka. Ganti silica gel secara berkala, terutama jika warna butirannya telah berubah jadi warna pink.



Silica gel dikemas dalam kantong katun, diletakan dalam laci koleksi.
Kondisi silica sudah berwarna pink, sudah perlu diganti.
Source : pribadi



7. Berikan naftalen ball (kapur barus), untuk koleksi yang diletakkan di ruang terbuka


Kapur Barus / naftalen ball
Source : google.com
Kapur barus tidak disukai oleh ngengat, disamping  bisa mengurangi kelembaban udara. Letakkan beberapa  butir di sudut2 rak koleksi.



Naftalen Ball di atas permukaan rak buku.
Source : pribadi



8. Bersihkan koleksi dan rak/tempat penyimpanannya secara berkala


Membersihkan buku dengan kain lap.
Source : google.com

Hindari penggunaan kemoceng, karena kemoceng hanya cenderung "memindahkan", bukan "membersihkan" kotoran/debu. Menggunakan lap akan lebih baik. Lebih baik lagi, jika bisa menggunakan vacuum cleaner. Karena dengan vacuum cleaner, kotoran dan debu tersebut akan dihisap, bukan "dipindahkan"ke tempat lain, sebagaimana jika menggunakan kemoceng.


Membersihkan rak dan koleksi buku dengan vacuum cleaner.
Source : google.com

Demikian sedikit tips sederhana perawatan koleksi pustaka. Semoga bermanfaat.

Untuk videonya, bisa dibuka di sini : https://www.youtube.com/watch?v=da59rB5dK4M