Showing posts with label covid-19. Show all posts
Showing posts with label covid-19. Show all posts

Sunday, July 18, 2021

CERITA UNTUK CUCUKU TENTANG COVID-19 (part 1)

 


Source : orami.co.id
Source : orami.co.id


Cu.. ikutilah cerita kami ini...

Tak pernah terbayangkan oleh nenekmu ini, untuk mengalami masa yang akan Nenekmu ceritakan ini. Tak pernah. Semua terjadi begitu saja, mendadak. Tiba-tiba dunia serentak mengalaminya.

Cu... Saat itu, 16 Maret 2020, Nenek masih bekerja di kantor, sekitar  2 (dua) hari sebelum jadwal Nenek mengikuti diklat keesokan harinya. Hari itu Nenek begitu sibuk, mempersiapkan segala rupa, untuk Nenek tinggalkan selama Nenek mengikuti diklat tersebut. Berita tentang wabah Covid-19 (Corona) yang mulai masuk ke Indonesia memang sudah mulai santer terdengar. Isu kota akan ditutup pun sudah ada terdengar. Itu pulalah yang membuat Nenek bersiap-siap dengan kemungkinan penutupan kota (lock down) tersebut. 

Kalau tidak salah, siang menjelang sore hari, akhirnya  keluarlah Surat Edaran dari pimpinan di kantor Nenek bahwa kantor akan di-lock down, mulai keesokan hari, 17 Maret 2020, mengikuti ketetapan pemerintah. Kami pun patuh. Rencana kerja, serta rencana-rencana lainnya mendadak berubah. Diklat yang akan Nenek ikuti pada tanggal 18 Maret pun akhirnya dibatalkan, demi menjaga kebaikan bersama. Bagi peserta dari daerah yang sudah memesan tiket dan berbagai akomodasinya pun serta merta ikut dibatalkan. Opsi kegiatan kerja Nenek ke Yogyakarta yang akan dilakukan pada akhir bulan pun, dicancel, padahal tiket sudah diambil. Nenek ajukan refund, namun hingga Nenek tulis ini, belum ada kejelasan refund tersebut. Mungkin situasinya memang cukup sulit ya untuk mengupayakan refund tersebut.

Cu... hari-hari selanjutnya, kami "dikurung" di dalam rumah. Dari yang awalnya hanya 2(dua) minggu, lalu diperpanjang berulang kali hingga total 3(tiga) bulan kami "di rumah-kan." Kami benar-benar di rumah, tidak diperkenankan ke mana-mana. Satpol PP serta petugas lainnya bertebaran menyisir jalan, "memaksa" warga untuk mekukan berbagai aktifitas "hanya" dari rumah saja. Bahkan anak-anak yang berkeliaran pun diperintahkan untuk pulang oleh mereka. Pekerja pemerintah/swasta/pengusaha mau pun pekerja lepas harian,buruh dilarang berkeliaran, kecuali untuk hal yang benar-benar mendesak. Kegiatan belajar mengajar di sekolah, kampus, dan sebagainya pun dihentikan. Semuanya dilakukan dan terpusat hanya di rumah saja.

Perubahan yang mendadak, membuat banyak pihak tidak siap, terkaget-kaget. Banyak hal yang mesti dirubah, di antaranya :

Pertama, offline menjadi online

Bagi pegawai atau karyawan, mau pun pelajar atau mahasiswa atau peserta didik lainnya, "diharuskan" untuk mengubah cara lamanya yang offline (on-site / luring) menjadi online / daring. Pekerjaan dan belajar dilakukan dari rumah dengan mengandalkan jaringan internet. Bagi yang masih agak gagap teknologi, "dipaksa" untuk belajar dan memahaminya. Anak-anak pun "harus" lebih mengerti tentang IT. Di sinilah terjadi perubahan lainnya. Permintaan akan jaringan internet, baik itu yang wifi atau pun melalui jaringan internet di hand phone, meningkat. Karena komunikasi dan sarana kerja/belajar, menggunakan gadget. Sepertinya, permintaan pasar akan gadget, terutama hape dan laptop (komputer jinjing) juga meningkat. 

Tapi di lain sisi, anak-anak yang semula dibatasi aksesnya untuk menggunakan gadget karena belum cukup umur atau belum tiba saatnya, akhirnya kini malah lebih akrab dengan gadget. Gadget dibawa kemana-mana. Dari yang usia SD (bahkan dari yang TK, mungkin), kebutuhan HP (handphone) untuk belajar meningkat. Bagi yang bisa mengontrol diri atau anak-anaknya, penggunaan HP hanya sekadarnya. Namun bagi yang tidak bisa mengontrol atau pun mengarahkannya, banyak yang kebablasan. Penggunaan HP untuk belajar hanya beberapa saat, namun setelah itu, HP digunakan untuk bermain game online atau banyak hal lainnya yang kurang berguna.

Jadi, untuk perubahan offline ke online ini, sisi positifnya antara lain, bagi yang semula agak Gaptek, jadi terpacu untuk mempelajarinya. Namun sisi negatifnya, banyak anak-anak yang waktu menatap layar gadgetnya jadi lebih lama. Hal ini berpeluang mempengaruhi kesehatan mata mereka.


=====================

In syaa Allah, to be continued...





Sunday, February 14, 2021

INI DIA 10 SISI POSITIF CORONA...

 
Foto : Ilustrasi

“(yaitu) orang-orang yang mengingat ALLAH sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ”Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini sia-sia; Maha suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Ali Imron : 191)


Hampir setahun sudah, setidaknya sejak bulan Maret 2020, dunia "dipaksa" berubah pada berbagai sisi. Virus Corona yang juga adalah makhluk Allah, telah menguasai dunia dengan caranya sendiri. Makhluk berukuran sangat mikro itu, telah merombak banyak sisi kehidupan dunia. Dengan tubuh kecilnya, dia mampu menyerang manusia yang berukuran jauh lebih besar dan memiliki akal tersebut.   


Benarlah apa yang dikatakan Allah, bahwa jika DIA sudah berkehendak, maka tak ada yang sanggup menghalangi Nya. Adalah mudah saja bagiNya untuk melakukan itu. Bahkan lebih mudah dari membalikan telapak tangan, atau lebih cepat dari kedipan mata. DIA lah yang Maha Menciptakan. 


“Dialah yang menghidupkan dan mematikan. Maka apabila DIA hendak menetapkan sesuatu urusan, DIA hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” maka jadilah sesuatu itu” (QS. Al Ghafir : 68)


Allah yang telah menurunkan virus Corona ini. Dan apa-apa yang diciptakan nya tidak ada yang sia-sia. Ini artinya, penciptaan Corona tersebut ada tujuan serta ada manfaatnya juga, di samping efek kurang baik yang disebabkannya.


“Dan pada penciptaan dirimu dan pada makhluk bergerak yang bernyawa yang bertebaran di (bumi) terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) untuk kaum yang meyakini” (QS. Al-Jasiyah : 4)


Berikut adalah 10 hal dari beberapa sisi positif yang mungkin tercipta dengan adanya Virus Corona :


  1. Disediakan-Nya keleluasaan yang lebih untuk berinteraksi dengan-Nya. Selama ini, barangkali karena kesibukan mengejar duniawi, waktu untuk berduaan dengan-Nya sangat terbatas. Namun dengan keadaan saat ini, waktu untuk berkhalwat (berduaan), bertafakkur, mengingat-Nya, mau pun bermuhasabah, seolah jadi terbentang lebih luas. Manusia diberi kesempatan untuk memaksimalkan moment ini.

  2. Lebih banyak waktu untuk bercengkerama dengan keluarga. Corona telah memaksa Manusia untuk lebih banyak berada di rumah dan keluar jika ada keperluan mendesak saja. Mungkin ini adalah cara ALLAH untuk hamba-hambaNya yang selama ini jauh, dan jarang berinteraksi mau pun bercengkerama dengan keluarga, untuk kembali ke rumah. Untuk memberikan waktu lebih banyak dalam keluarganya. Barangkali juga ada hamba yang sudah melenceng jalurnya karena lebih banyak di luar dari pada di rumah, diluruskan kembali jalannya, dengan berada lebih dekat dengan keluarganya. ALLAH memberi kesempatan untuk memperbaiki hubungan keluarga. Baik itu hubungan antar pasangan, mau pun hubungan orang tua dan anak. 

  3. Mengembalikan fitrah wanita sebagai ibu dan guru bagi anak-anaknya. Adalah tugas seorang Ibu untuk mendidik dan mengajarkan banyak hal anak-anaknya. "Ibu adalah madrasah (sekolah) pertama bagi anak-anaknya". Dalam perjalanan waktu, karena satu dan lain hal, kadang fungsi tersebut tidak terlaksana atau tidak dapat dilaksanakan dengan baik. Dengan moment #dirumahaja, ALLAH memberikan peluang yang lebih banyak bagi seorang Ibu untuk berinteraksi dengan anak-anaknya. Peran ayah pun bisa lebih dikuatkan di sini. 

  4. Memberi kesempatan bagi anak untuk bereksplorasi lebih banyak dari rumahnya. Anak-anak yang biasanya begitu disibukan dengan tugas-tugas sekolah, terutama yang full day school, diberikan ruang lebih besar untuk mengeksplorasi, menggali, mengasah hobi dan keahlian mereka yang lainnya. 

  5. Memberi waktu lebih banyak untuk beristirahat. Bagi yang biasa berjibaku dan berjejalan di kendaraan umum, stress di jalanan menuju tempat bekerja bersekolah atau aktifitas lainnya, diberikanNya kesempatan untuk relaksasi dari hal tersebut. Dengan kegiatan berpusat dari rumah, maka stress di jalanan dapat dikurangi. Yang bersangkutan juga bisa lebih tenang saat di rumah, walau pun masih tetap harus bekerja.

  6. Seleksi alam bagi pekerja atau jenis pekerjaan tertentu. Dengan bekerja dari rumah, akan nampak, SDM mana yang bisa bertanggung jawab terhadap pekerjaannya, mana yang bisa menyesuaikan diri dengan baik, dan seterusnya. Bagi sisi pekerjanya, ini bisa dipergunakan untuk mengukur dan meningkatkan kemampuan diri. Sementara dari sisi pengusaha/pemimpin usaha/lembaga, hal ini bisa dipergunakan untuk menyeleksi dan mengevaluasi kegiatan mereka. 

  7. Hampir semua jadi belajar teknologi informasi (IT). Setidaknya yang berhubungan dengan pekerjaan atau proses belajarnya, mau tidak mau, smua harus lebih memahami IT. Karena kegiatan yang jadi berbasis di rumah sangat tergantung kepada IT dan jaringan internet.

  8. Permintaan akan penyedia internet meningkat. Penjualan handphone pun sepertinya begitu. Ini berhubungan dengan kebutuhan pekerjaan, belajar, dan berkegiatan lainnya yang dilakukan secara daring (online). 

  9. Bumi jadi lebih sehat. Atmosfer lebih bersih. Dikabarkan bahwa atmosfer bumi membaik. Lebih bersih. Bahkan hijaunya bumi bisa lebih nampak dari udara yang biasanya kurang jelas. Biota-biota yang biasanya terhambat hidupnya karena jejak kaki manusia ada di mana-mana yang mengganggu kehidupan mereka, kita hidup lebih baik. Rumput-rumput jadi lebih subur. Dan karena kegiatan berpusat di rumah, ada lebih banyak waktu bagi sebagian masyarakat untuk menyalurkan hobinya atau menjalankan hobi barunya dalam bercocok tanam. Tanaman ada di mana-mana. Tanaman menghasilkan  oksigen. Dan inilah yang membuat udara semakin bersih, lebih kaya oksigen. Bumi me-recovery dirinya. Lebih segar. Ekosistem membaik. 

  10. Manusia mulai terbiasa untuk hidup lebih sehat dan bersih. Mencuci tangan lebih sering, segera mandi setelah bepergian, menggunakan masker, senantiasa membekali diri dengan hand sanitizer, menjaga jarak, hal-hal ini akhirnya menjadi hal yang biasa untuk dilihat dan dilakukan.



    Foto : Ilustrasi

Dari berbagai efek negatif dan kerugian yang disebabkannya, tak dapat dipungkiri bahwa virus Corona tetaplah memiliki sisi positif. Itu tadi hanya beberapa di antaranya. 


Semoga ini bisa membukakan mata kita bahwa di balik hal buruk, senantiasa ALLAH sisipkan hikmah atau manfaat di dalamnya untuk menjadi pelajaran bagi orang-orang yang berfikir. 


“DIA memberi hikmah kepada siapa yang DIA kehendaki. Barangsiapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat.”  (QS. Al Baqoroh : 269)


Wallahu 'alam bi showab



Sunday, July 12, 2020

Sang Pengusaha..

Bismillah..

Setiap anak itu unik. Setiap anak itu punya keistimewaan masing-masing. Emak harus percaya itu. Emak kudu yakin. Jadi tidak boleh men-generalisir, menyamakan semua anak, main pukul rata saja. Ingat itu ya Mak... hehehe.. self reminder ini..:)

Saat anak-anak tidak berangkat ke sekolah offline seperti saat ini, terkadang ada rasa iba juga bagi mereka. Terkadang gabut, tidak jelas apa yang akan dilakoninya. Apalagi kalau Emak juga tidak kreatif menciptakan kegiatan yang menarik bagi mereka. Alih-alih libur bermanfaat, yang ada bisa saja jadi budak gadget. Na'udzubillah.

Di rumah, si Kakak (nomor urut 2), tidak terlalu suka dengan kemonotonan. Jiwanya seolah lebih suka "merdeka", lebih terbuka. Bergaul pun lebih cair, lebih fleksibel. Dari awal SD, menyukai berniaga. Apa saja. Dibawalah ke sekolah. Jual penghapus, pensil, stiker, dan sebagainya. Memang masih skala kecil. Tapi Emak ga masalah. Malahan Emak mensupportnya, secara Emak kan juga menyukai perniagaan, hehehe. Agaknya darah "niaga" Emak mengalir turun kepadanya.

Berbagai pengalaman dijalaninya. Dari yang pembayarannya agak telat, nyaris lupa malah, hingga sebagian modal terpakai untuk jajan. Hehehe.. Emak sih tidak banyak protes. Tak apa. Ini proses pembelajaran baginya. Dengan maunya saja untuk berniaga, berdagang, itu sudah menjadi nilai plus untuknya. Mentalnya ditempa. Tidak setiap orang memiliki keberanian untuk menawarkan barang atau produk kepada orang lain. Jempol untuk ke-pede-annya.

Belakangan, vakum, tidak bawa dagangan ke sekolah. Katanya, sempat tidak diperkenankan untuk berdagang di lingkungan kelas (atau sekolah yaa ? Emak lupa !). Ya sudahlah. Anaknya juga sedang ingin off dulu juga barangkali.

Corona datang. Manusia di"kurung". Tiga bulan sudah berada dalam rumah. Entah mengapa, Emak yang dulunya memang suka berdagang, tiba-tiba dapat ide untuk melakoninya lagi. Mungkin karena makin banyak dagangan online yang berseliweran di medsos. Ini jadi "kompor" juga bagi Emak untuk menjalaninya lagi.

Jadilah, Emak buka list orderan. "Ikan Bilih Goreng Asli Singkarak", itu yang jadi produknya. Alhamdulillah, orderan masuk, dari mana-mana (kesannya ramai amat yak ? :) ) Beberapa di antaranya harus dikirimkan melalui ekspedisi, karena berada di luar kota. Beberapa lagi juga ada yang diantar dengan ojek online. 

Prosesi penerimaan barang, memilah-milah produk, packing-packing, hingga pengiriman tersebut, ternyata dinikmati oleh Kakak yang ikut terlibat di dalamnya. Bersemangat. Apalagi, ketika diberi komisi persenan oleh Emak dari barang yang dia antarkan. Bahagianya si Kakak.. (sederhana ya...?!)

Kemarin, ketika ada paket datang ke rumah, ini sih Emak yang belanja, tiba-tiba Kakak bilang kurang lebih, "Bun, kardusnya jangan digunting yaa.. biar bisa untuk kirim paket lagi..". Hehehe... siap Kak.. !

Malamnya, dengan gunting, dibongkarnya beberapa kardus bekas. Lumayan hati-hati dan rapih cara bongkarnya. Tapi jelas nampak gabutnya.


Yang lagi gabut..


"Kenapa Kak ? Kangen packing-packing ya ?"
"Iya, senang aja kirim-kirim, Bun.."

Di situ Emak tersentuh.

"Sabar ya Kak.. In syaa Allah, sebentar lagi kita packing dan kirim-kirim lagi.."

Emak jadi semangat dan memutar otak untuk melanjutkan "perniagaan" lagi. Secara online terutama. Produk sudah ada. Pasar sudah ada. In syaa Allah lanjut lagi.

Beberapa pekan sebelum ini memang kami, yaitu Emak, Kakak, dan juga Abang (nomor urut 1), pernah diskusi untuk melanjutkan dagang secara online ini, salah satunya dengan melalui marketplace. Terlebih mereka juga sedang libur. Kalau pun masuk sekolah, masih banyak secara daring. Respon mereka positif. Apalagi ketika disepakati tentang bagi hasilnya. Semakin semangatlah duo sulung ini. 

Namun, karena berbagai hal, mengisi marketplace belum lagi terealisasi. Akhirnya, Emak memanfaatkan medsos, terutama aplikasi WA (Whatsapp)  untuk memasarkannya. Jadilah seperti yang di atas tadi.

Kini masuk PO kedua. Alhamdulillah... masih positif respon pasarnya. Semoga berkelanjutan. Jadi Kakak, tidak gabut lagi. Hehehe..

Dengan terlibatnya Kakak dalam proses-proses tersebut, ini jadi pembelanjaran baginya. Ajang berlatih untuk lifeskill-nya. Bekal hidupnya. Keahlian dalam hidup. In syaa Allah, suatu ketika, ini akan berguna. Kakak jadi pengusaha ? Why not ? Pengusaha sukses shalih sebagaimana sahabat nabi : Abdurrahman bin "Auf,  yang juga hafidz, In syaa Allah. 

Gantungkanlah cita-cita setinggi langit, dengan hati yang tetap membumi ya Nakk... In syaa Allah, dengan tetap berpegang terhadap  tuntunanNya, dirimu tak akan tersesat.. In syaa Allah, dunia akan berada di tanganmu, saat engkau tetap berikhtiar di atas jalanNya. Kejarlah akhirat, maka dunia akan mengikutimu. Itu pesan Emak.

Sholeh, kaya, berkah, berlimpah... Aamiin.. !!


=====

Coretan dari Emak yang fakir ilmu..

=====

Kamar belakang, waktu Dhuha
09.55 WIB








Friday, May 29, 2020

Bersiap untuk New Normal?



Tersiar kabar beberapa waktu belakangan ini, bahwa pemerintah akan segera melaksanakan "New Normal" atau kenormalan baru, yaitu suatu tatanan kehidupan yang baru, berbeda dengan sebelumnya. Aktifitas pun akan segera diberlakukan secara bertahap menuju kepada kenormalan seperti dahulu, dengan gaya yang berbeda. Dengan ini, rakyat diajak berdamai dan bisa berada berdampingan dengan pandemic corona ini. Tidak lagi berdiam di rumah, namun silakan keluar rumah dengan memperhatikan protap kesehatan terhadap Pandemic Covid-19 ini. 

Ini artinya, dengan terang-terangan rakyat akan berhadapan langsung dengan virus Corona. Ibaratkan perang terbuka, maka adu kuatlah di sini. Adu kuat dengan makhluk bernama Corona, sang musuh yang wujudnya tak nampak itu. Imun tubuh harus kuat,agar tak mudah dijadikan bulan-bulanannya. Yang merasa imunnya kurang bagus, maka segeralah perbaiki. Inilah mungkin yang dinamakan dengan Herd Imunity. Siapa yang kuat akan bertahan. Dan siapa yang kurang beruntung akan tereliminasi. Seperti itulah kira-kira gambaran Herd Imunity. Jadi yang akan terjadi nanti, jika memang jadi dilaksanakan, adalah Herd Imunity, dalam tatanan New Normal.

Sebagai seorang Emak pekerja seperti Saya, dengan imunitas yang saat ini belum dalam keadaan maksimal, tentu hal ini sedikit membuat kegalauan. WFH yang tengah dijalani saat ini akan segera berlalu. Sebenarnya, Saya sudah mulai beradaptasi dengan keadaan WFH, menikmatinya. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, kegiatan di rumah saja, menjadi momen yang cukup berharga bagi Saya. Setidaknya, saya tidak perlu berdesak-desakan di dalam commuterline seperti biasanya. Saya tidak perlu berlari-lari untuk mengejar absen finger print yang tinggal beberapa detik lagi. Saya tidak perlu menunggu ojol yang agak lama aksesnya, karena jaringan yang lemot, server ojol error, atau pun paket data yang habis.

Saya memiliki waktu yang lebih banyak bersama anak-anak di rumah. Setidaknya sedikit mengobati rasa kehilangan Saya dalam mendampingi hari-hari penting mereka selama ini. Melihat bagaimana mereka dalam seharian penuh. Sedikit mencicip bagaimana rasanya menjadi seorang mentor pada home schooling, seperti yang Saya impikan dari dulu. Meskipun Saya sendiri juga dalam status WFH (work from home). Juga merangkap sebagai Ibu rumah tangga. Mesti membagi-bagi diri, membagi-bagi waktu. Tidak perlu bahas mengenai bagaimana kualitas kebersamaan tersebut. Tapi yang jelas, Saya, secara fisik, telah menjalani sejumlah hari secara penuh bersama anak-anak. Dan Saya sungguh menikmati momen-momen tersebut, dengan segala tantangan, kekurangan, dan kelebihannya.



Dan kini, saat pandemik Covid-19 masih berlangsung, WFH dikabarkan akan segera berakhir. Kehidupan akan dicoba memasuki New Normal, kehidupan dengan kebiasaan baru. Muncul kegalauan dalam hati. Kegalauan karena kemungkinan akan kembali menggunakan transportasi umum (meskipun masih dalam pertimbangan). Kegalauan juga karena mesti kembali meninggalkan anak-anak. Apalagi mereka masih menjalani LFH (Learn From Home), hingga waktu yang belum jelas. Terbayang aktifitas yang kembali akan dilakukan di kantor, yang memang banyak membutuhkan kekuatan fisik. Kegalauan terhadap kondisi imun tubuh yang hingga saat ini belum maksimal, sedangkan di luar sana, Corona masih berkeliaran. Berbagai kegalauan, yang sedikit banyak membuat parno, paranoid.

Tapi, Saya hanyalah seorang staf biasa. Tak banyak yang bisa Saya lakukan. Jika tiba waktunya Saya harus kembali bekerja di kantor (WFO), kepasrahan dan keikhlasan harus Saya hadirkan. Berprasangka baik terhadap-Nya senantiasa dimiliki.  Dengan demikian, semoga imun tubuh bisa semakin baik, dan semua akan berjalan baik-baik saja. Semoga saja.

Friday, May 22, 2020

Jumat terakhir di Ramadhan 1441 H


(sumber : monitor.co.id)


Hari ini, Jumat, 28 Ramadhan 2020. Detik-detik terakhir di bulan mulia pada tahun ini. Detik-detik sang tamu agung berkemas untuk kembali pergi. Meninggalkan berbagai rasa dalam hati.
Ramadhan kali ini memang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Sangat berbeda. Kita "dipaksa" dikarantina oleh makhluk Allah bernama Corona. Jauh sebelum setan dikarantina pada bulan Ramadhan. Tidak ada tarawih berjama'ah di mesjid. Tidak ada tadarus dalam lingkaran di Mesjid. Bahkan Shalat Jumat yang sifatnya wajib saja, sudah sejak pertengahan Maret lalu ditiadakan. Aturan yang sama juga berlaku untuk umat beragama lainnya. Tidak ada perkumpulan, keramaian. Apalagi yang biasa peluk cium, salaman, jauh berkurang. Social distancing serta PSBB pun berlaku.

Aktifitas di luar rumah sangat dibatasi. Pertemuan jauh berkurang. Interaksi berubah jadi komunikasi virtual. Bekerja dari rumah (work from home/WFH), belajar dari rumah ( Learning from home / LFH). Semua jadi berbasis rumah. Bahkan belanja dan berniaga pun berubah tanpa interaksi langsung. Kurir dan ekspedisilah yang menjembataninya. Penggunaan paket data internet melonjak. Permintaan terhadap wifi pun sepertinya meningkat. Tiba-tiba hampir semua aspek kehidupan berubah jadi virtual, beralih ke dunia maya. 



Ramadhan kali ini banyak imam sholat baru yang bermunculan. Para ayah atau pemimpin keluarga banyak yang mulai terbiasa dengan peran ini. Dinikmati atau pun tidak, toh hal ini tetap dijalani. 

Namun sebagai makhluk sosial, keterkurungan membuat ketaknyamanan bagi sebagian besar manusia saat ini. Bertemu secara langsung dengan kehadiran fisik dengan sesama manusia menjadi suatu kebutuhan yang sulit untuk digantikan. 2 (dua) bulan lebih dikurung di rumah, memunculkan kerinduan untuk bertemu dengan sejawat, dengan keluarga lainnya. Kerinduan yang mungkin semakin membuncah. 

Rasa rindu yang sudah begitu dalam, rasa terkurung lama, kejenuhan yang mulai memuncak,kebutuhan hidup yang terus berjalan, sementara Idhul Fitri pun sudah semakin dekat, membuat sebagian di antara kita nekat. Akhirnya, beberapa hari yang lalu terjadilah kepadatan, keriuhan di pusat perbelanjaan. Jalan-jalan mulai kembali ramai. Seperti tidak sedang ada apa-apa saat ini. Belum lagi yang memaksakan diri pulang ke kampung halaman, tanpa alasan yang mendesak.

Lalu apa yang terjadi ? Tanpa bermaksud menyalahkan siapa-siapa, pada hari Kamis, 21 Mei 2020 tercatat lonjakan korban positif Covid-19. Hampir 1000 (seribu) kasus baru. Peningkatan yang luar biasa.

Kesulitan perekonomian banyak dialami oleh Rakyat Indonesia. Bahkan untuk sekedar memenuhi kebutuhan dasar saja, tidak bisa. Kegiatan untuk mencari nafkah dibatasi. Banyak pula yang mengalami pemutusan hubungan kerja, karena perusahaan tempat bekerja tak lagi sanggup membayar gaji pekerjanya. Sementara kebutuhan hidup terus berjalan. Bantuan pemerintah, dan kepedulian sesama menjadi salah satu sandarannya.

Hari ini, Jumat terakhir di Ramadhan kali ini. Hari ini dilakukan Shalat Jumat (yang digantikan dengan shalat Dzuhur) terakhir di Ramadhan tahun ini. Ramadhan yang unik. Ramadhan yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Ramadhan yang barangkali akan memberikan banyak cerita kepada anak cucu kita kelak.

Mungkin tak ada yang pernah membayangkan akan mengalami hal seperti ini. Melewati hari-hari hanya dengan berada dalam rumah. Menjalani keseharian dengan tetap berada dalam rumah, dengan segala keterbatasannya. 

Namun, ada baiknya untuk tetap bersabar dengan keadaan ini. Tetap bertahanlah di rumah. Pertajam kepedulian dengan sesama. Ingatlah pengorbanan para tenaga medis selama ini. Ingatlah pula bahwa mereka juga memiliki keluarga yang menanti mereka dengan harap-harap cemas.

Bersabarlah, bertahanlah. Dan pada Jumat terakhir di Ramadhan kali ini, marilah kita berdoa kepadaNya, agar semua ini segera berlalu. Agar semua kembali membaik. Berdoa untuk kembali bertemu dengan Ramadhan di tahun depan, dengan suasana yang jauh lebih baik dari tahun ini. Dan semoga Idhul Fitri tahun depan, kita bisa kembali mudik, dan berkumpul serta bersilaturahiim dengan keluarga besar.

Ya, bersabarlah. Bertahanlah. Demi sebuah akhir yang manis. In syaa Allah.


====================

Kamar Belakang, 29 Ramadhan 1441 H

Bekasi