Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Sunday, June 6, 2021

MANFAAT BERMAIN LEGO BAGI ANAK

                                                         ilustrasi lego :  viva.co.id          

                                            

 Anak Anda menyukai permainan lego ? Biarkanlah... Ada banyak manfaat yang bisa diperoleh oleh anak dari permainan tersebut.

 Berikut beberapa manfaat dari permainan lego :

1. Mengalihkan perhatian anak dari bermain gadget

   Di era pandemi ini, salah satu godaan terbesar bagi anak-anak yang sekaligus menjadi ujian kesabaran bagi orang tua adalah maraknya penggunaan gadget. Beberapa anak bahkan bisa  asik dengan gawainya hingga seharian penuh. Hal ini tentu saja tidak baik. Mata yang terus menerus menatap layar gawai berpeluang mengalami gangguan.

Lego yang berwarna warni dapat menjadi alternatif pilihan anak-anak dalam mengisi waktu luangnya. Saat anak bermain lego maka dengan sendirinya interaksi dengan gawai akan berkurang.

2. Mengasah kemampuan dasar

Lego mengenalkan beberapa kemampuan dasar pada anak, yaitu mengenai warna (kombinasi warna, dan sebagainya), jumlah (berhitung, dan sebagainya), space (ukuran, jarak). 

3. Menguatkan kesabaran dan ketekunan

Untuk mendapatkan bangun yang diinginkan, maka diperlukan kesabaran dan ketekukan dalam menyusun lego tersebut. Jika tidak, maka bentuk bangun yang diharapkan akan sulit diwujudkan.

4. Mengasah daya imajinasi dan kreatifitas

Lego bisa disusun menjadi berbagai bentuk, sesuai keinginan. Ini memerlukan kreatifitas. Pada masa yang akan datang, kreatifitas ini sangat diperlukan. Untuk bisa lebih bertahan hidup pada masanya kelak, kreatifitas akan memegang peranan penting. Siapa yang bisa berpikir dan bersikap kreatif, mereka lebih bisa melihat celah peluang untuk bertahan dan maju dalam berbagai permasalahan hidupnya.

5. Melatih konsentrasi

Saat membuat atau pun saat melihat tutorial mau pun contoh suatu bentuk, konsentrasi sangatlah diperlukan. Konsentrasi diperlukan agar bentuk yang diinginkan bisa dibuat dengan sebaik mungkin. Jika konsentrasi buyar, maka bisa jadi bentuk bangun tersebut tidak akan dapat diperoleh. Dalam kehidupan nyata, konsentrasi, fokus dalam mengerjakan atau pun mencapai suatu cita-cita sangat diperlukan. 

6. Mengasah kemampuan kerjasama dan mengontrol ego

Ada kalanya suatu "bangunan" lego dikerjakan secara bersama, terutama untuk yang berukuran besar dan memerlukan detil yang cukup banyak. Jika kerjasama yang baik tidak terbina di antara anggota team, maka apa yang akan direncanakan akan sulit untuk diwujudkan. Jika ada anggota yang ingin menang sendiri tanpa peduli dengan yang lain, maka rencana tidak akan berjalan dengan baik. Anggota team harus bisa menahan ego ingin menang sendiri dan lebih bisa bekerja sama agar apa yang diharapkan dapat diwujudkan.

7. Menstimulasi daya estetika

Dalam menyusun lego, biasanya anak-anak akan berusaha membuatnya secantik mungkin, semenarik mungkin. Maka dengan sendirinya, sesungguhnya mereka sedang belajar tentang bagaimana membuat sesuatu menjadi lebih indah dan menarik.

8. Meningkatkan rasa percaya diri

Anak akan merasa lebih percaya diri dengan apa yang telah dibuatnya dan cenderung akan menunjukannya kepada orang lain.

Dari beberapa manfaat yang bisa diperoleh (masih banyak yang lainnya), maka sepertinya tidak ada salahnya memberikan mereka keleluasaan untuk bermain dengan benda-benda yang bisa disusun tersebut. Dan lagi, bukankah bagi anak-anak, bermain itu adalah proses mereka juga belajar... ?? Bermain sambil belajar..  Bagaimana, Bun ??

Monday, April 19, 2021

10 KATA CINTA DARI BUYA HAMKA


Source :soundcloud.com


Prof. DR. H. Abdul Malik Karim Amrullah gelar Datuk Indomo, populer dengan nama pena Hamka (dalam Bahasa Arab : عبد الملك كريم أمر الله‎; lahir di Sungai Batang, Tanjung Raya, Agam, Sumatera Barat pada tanggal 17 Februari 1908. Beliau meninggal di Jakarta, pada 24 Juli 1981 dalam usia 73 tahun. Buya Hamka adalah seorang ulama dan sastrawan Indonesia. Ia berkarier sebagai wartawan, penulis, dan pengajar. Pada 1975 Buya Hamka dilantik nmenjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang pertama.

Universitas Al-Azhar dan Universitas Nasional Malaysia memberikannya gelar Doktor Kehormatan. Universitas Moestopo Jakarta mengukuhkannya sebagai guru besar. Beliau pun termasuk Pahlawan Nasional Indonesia. 

"Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck" dan "Di bawah Lindungan Ka'bah" adalah 2 (dua) buku fenomenal karya Buya Hamka. Sementara "Si Sabariyah" adalah buku roman pertamanya yang berbahasa Minang yang berhasil dicetak tiga kali. Dari honor "Si Sabariyah" Buya Hamka kelak bisa membiayai pernikahannya dengan Sitti Raham (1929-1972). "Laila Majnun" adalah buku selanjutnya yang diterbitkan pada tahun 1932 oleh Balai Pustaka yang merupakan penerbit utama saat itu.

Buya Hamka tidak pernah  mengeluarkan kata-kata keras, apalagi kasar dalam komunikasinya. Beliau lebih suka memilih menulis roman atau cerpen dalam menyampaikan pesan-pesan moral Islam. 

Berikut beberapa kata-kata penuh hikmah dari Buya Hamka bertemakan cinta yang disampaikan dalam berbagai kesempatan :

Source : all-free-download.com



1. Bahwasanya cinta yang bersih dan suci (murni) itu, tidaklah tumbuh dengan sendirinya.

2. Cinta bukan mengajar kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan. Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat.

3. Bahwasanya cinta yang bersih dan suci (murni) itu, tidaklah tumbuh dengan sendirinya.

4. Apakah keuntungan dan bahagianya cinta yang tiada berpengharapan? Bukankah cinta itu sudah satu keuntungan dan pengharapan?

5. takut akan kena cinta, itulah dua sifat dari cinta, cinta itulah yang telah merupakan dirinya menjadi suatu ketakutan, cinta itu kerap kali berupa putus harapan, takut cemburu, hiba hati dan kadang-kadang berani. (Sumber : Di bawah lindungan Ka'bah)

6. Kadang-kadang cinta bersifat tamak dan loba, kadang-kadang was-was dan kadang-kadang putus asa

7. Cinta bukan melemahkan hati, bukan membawa putus asa, bukan menimbulkan tangis sedu sedan. Tetapi cinta menghidupkan pengharapan, menguatkan hati dalam perjuangan menempuh onak dan duri penghidupan. (Sumber : Tenggelamnya Kapal Van der Wijck)

8. Jelas sekali bahwasanya rumah tangga yang aman damai ialah gabungan di antara tegapnya laki-laki dan halusnya perempuan.

9. Cinta itu perang, yakni perang yang hebat dalam rohani manusia. Jika ia menang, akan didapati orang yang tulus ikhlas, luas pikiran, sabar dan tenang hati. Jika ia kalah, akan didapati orang yang putus asa, sesat, lemah hati, kecil perasaan dan bahkan kadang-kadang hilang kepercayaan pada diri sendiri.

10. Cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia, ia laksana setetes embun yang turun dari langit, bersih dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlain-lainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus, tumbuhlah oleh kerana embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipu, langkah serong dan lain-lain perkara yang tercela. Tetapi jika ia jatuh kepada tanah yang subur, di sana akan tumbuh kesuciaan hati, keikhlasan, setia budi pekerti yang tinggi dan lain-lain perangai yang terpuji.

Source : freevector.com




======================

Dari berbagai sumber

==================

Bekasi, 6 Ramadhan 1442

Sunday, February 14, 2021

INI DIA 10 SISI POSITIF CORONA...

 
Foto : Ilustrasi

“(yaitu) orang-orang yang mengingat ALLAH sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ”Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini sia-sia; Maha suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Ali Imron : 191)


Hampir setahun sudah, setidaknya sejak bulan Maret 2020, dunia "dipaksa" berubah pada berbagai sisi. Virus Corona yang juga adalah makhluk Allah, telah menguasai dunia dengan caranya sendiri. Makhluk berukuran sangat mikro itu, telah merombak banyak sisi kehidupan dunia. Dengan tubuh kecilnya, dia mampu menyerang manusia yang berukuran jauh lebih besar dan memiliki akal tersebut.   


Benarlah apa yang dikatakan Allah, bahwa jika DIA sudah berkehendak, maka tak ada yang sanggup menghalangi Nya. Adalah mudah saja bagiNya untuk melakukan itu. Bahkan lebih mudah dari membalikan telapak tangan, atau lebih cepat dari kedipan mata. DIA lah yang Maha Menciptakan. 


“Dialah yang menghidupkan dan mematikan. Maka apabila DIA hendak menetapkan sesuatu urusan, DIA hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” maka jadilah sesuatu itu” (QS. Al Ghafir : 68)


Allah yang telah menurunkan virus Corona ini. Dan apa-apa yang diciptakan nya tidak ada yang sia-sia. Ini artinya, penciptaan Corona tersebut ada tujuan serta ada manfaatnya juga, di samping efek kurang baik yang disebabkannya.


“Dan pada penciptaan dirimu dan pada makhluk bergerak yang bernyawa yang bertebaran di (bumi) terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) untuk kaum yang meyakini” (QS. Al-Jasiyah : 4)


Berikut adalah 10 hal dari beberapa sisi positif yang mungkin tercipta dengan adanya Virus Corona :


  1. Disediakan-Nya keleluasaan yang lebih untuk berinteraksi dengan-Nya. Selama ini, barangkali karena kesibukan mengejar duniawi, waktu untuk berduaan dengan-Nya sangat terbatas. Namun dengan keadaan saat ini, waktu untuk berkhalwat (berduaan), bertafakkur, mengingat-Nya, mau pun bermuhasabah, seolah jadi terbentang lebih luas. Manusia diberi kesempatan untuk memaksimalkan moment ini.

  2. Lebih banyak waktu untuk bercengkerama dengan keluarga. Corona telah memaksa Manusia untuk lebih banyak berada di rumah dan keluar jika ada keperluan mendesak saja. Mungkin ini adalah cara ALLAH untuk hamba-hambaNya yang selama ini jauh, dan jarang berinteraksi mau pun bercengkerama dengan keluarga, untuk kembali ke rumah. Untuk memberikan waktu lebih banyak dalam keluarganya. Barangkali juga ada hamba yang sudah melenceng jalurnya karena lebih banyak di luar dari pada di rumah, diluruskan kembali jalannya, dengan berada lebih dekat dengan keluarganya. ALLAH memberi kesempatan untuk memperbaiki hubungan keluarga. Baik itu hubungan antar pasangan, mau pun hubungan orang tua dan anak. 

  3. Mengembalikan fitrah wanita sebagai ibu dan guru bagi anak-anaknya. Adalah tugas seorang Ibu untuk mendidik dan mengajarkan banyak hal anak-anaknya. "Ibu adalah madrasah (sekolah) pertama bagi anak-anaknya". Dalam perjalanan waktu, karena satu dan lain hal, kadang fungsi tersebut tidak terlaksana atau tidak dapat dilaksanakan dengan baik. Dengan moment #dirumahaja, ALLAH memberikan peluang yang lebih banyak bagi seorang Ibu untuk berinteraksi dengan anak-anaknya. Peran ayah pun bisa lebih dikuatkan di sini. 

  4. Memberi kesempatan bagi anak untuk bereksplorasi lebih banyak dari rumahnya. Anak-anak yang biasanya begitu disibukan dengan tugas-tugas sekolah, terutama yang full day school, diberikan ruang lebih besar untuk mengeksplorasi, menggali, mengasah hobi dan keahlian mereka yang lainnya. 

  5. Memberi waktu lebih banyak untuk beristirahat. Bagi yang biasa berjibaku dan berjejalan di kendaraan umum, stress di jalanan menuju tempat bekerja bersekolah atau aktifitas lainnya, diberikanNya kesempatan untuk relaksasi dari hal tersebut. Dengan kegiatan berpusat dari rumah, maka stress di jalanan dapat dikurangi. Yang bersangkutan juga bisa lebih tenang saat di rumah, walau pun masih tetap harus bekerja.

  6. Seleksi alam bagi pekerja atau jenis pekerjaan tertentu. Dengan bekerja dari rumah, akan nampak, SDM mana yang bisa bertanggung jawab terhadap pekerjaannya, mana yang bisa menyesuaikan diri dengan baik, dan seterusnya. Bagi sisi pekerjanya, ini bisa dipergunakan untuk mengukur dan meningkatkan kemampuan diri. Sementara dari sisi pengusaha/pemimpin usaha/lembaga, hal ini bisa dipergunakan untuk menyeleksi dan mengevaluasi kegiatan mereka. 

  7. Hampir semua jadi belajar teknologi informasi (IT). Setidaknya yang berhubungan dengan pekerjaan atau proses belajarnya, mau tidak mau, smua harus lebih memahami IT. Karena kegiatan yang jadi berbasis di rumah sangat tergantung kepada IT dan jaringan internet.

  8. Permintaan akan penyedia internet meningkat. Penjualan handphone pun sepertinya begitu. Ini berhubungan dengan kebutuhan pekerjaan, belajar, dan berkegiatan lainnya yang dilakukan secara daring (online). 

  9. Bumi jadi lebih sehat. Atmosfer lebih bersih. Dikabarkan bahwa atmosfer bumi membaik. Lebih bersih. Bahkan hijaunya bumi bisa lebih nampak dari udara yang biasanya kurang jelas. Biota-biota yang biasanya terhambat hidupnya karena jejak kaki manusia ada di mana-mana yang mengganggu kehidupan mereka, kita hidup lebih baik. Rumput-rumput jadi lebih subur. Dan karena kegiatan berpusat di rumah, ada lebih banyak waktu bagi sebagian masyarakat untuk menyalurkan hobinya atau menjalankan hobi barunya dalam bercocok tanam. Tanaman ada di mana-mana. Tanaman menghasilkan  oksigen. Dan inilah yang membuat udara semakin bersih, lebih kaya oksigen. Bumi me-recovery dirinya. Lebih segar. Ekosistem membaik. 

  10. Manusia mulai terbiasa untuk hidup lebih sehat dan bersih. Mencuci tangan lebih sering, segera mandi setelah bepergian, menggunakan masker, senantiasa membekali diri dengan hand sanitizer, menjaga jarak, hal-hal ini akhirnya menjadi hal yang biasa untuk dilihat dan dilakukan.



    Foto : Ilustrasi

Dari berbagai efek negatif dan kerugian yang disebabkannya, tak dapat dipungkiri bahwa virus Corona tetaplah memiliki sisi positif. Itu tadi hanya beberapa di antaranya. 


Semoga ini bisa membukakan mata kita bahwa di balik hal buruk, senantiasa ALLAH sisipkan hikmah atau manfaat di dalamnya untuk menjadi pelajaran bagi orang-orang yang berfikir. 


“DIA memberi hikmah kepada siapa yang DIA kehendaki. Barangsiapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat.”  (QS. Al Baqoroh : 269)


Wallahu 'alam bi showab



Thursday, January 14, 2021

SENI ALA SAYA...




Kalau ada yang bertanya tentang seni yang Saya minati saat ini, sepertinya Saya akan bingung menjawabnya. Bernyanyi ? Suara Saya sember, fals. Menari? Saya tidak gemulai. Bermain seni peran? Saya datar, kurang pandai berekspresi. 


Mungkin yang agak mendingan adalah dalam melukis. Saya sedikit bisa menikmati proses pembuatannya. Meski tidak bagus-bagus amat, tapi Saya pernah dapat nilai 9 untuk sebuah lukisan batik yang Saya buat saat SMA. Tapi itu pun lukisan yang Saya "contek" dari sebuah kain batik milik Ibu Saya. Jadi bukan murni karya Saya juga, hehehe… 


Begitulah…  


Sebutan "orang seni" agaknya jauh dari Saya. "Bukan gue banget… " Hehehe… 


Entahlah, mungkin faktor lingkungan berpengaruh juga ya. Di keluarga inti Saya, boleh dibilang memang tidak ada yang punya darah seni. Jadi atmosfer rumah pun kurang terbiasa dengan aktifitas seni. Paling sesekali saja bisa terdengar nasyid / musik dari tempat kami berada. 


 Ya sudahlah. 


Akan tetapi, menurut Saya, seni bukan saja apa-apa yang sudah dituliskan di atas. Tetapi bisa lebih luas dari itu. Seperti misalnya, seorang sales perlu memiliki skill/ kemampuan dalam "membujuk" seseorang untuk mau membeli produknya. Skill inilah yang bisa diartikan  sebagai seni. Seni sebagai sales dalam hal ini. Di dalamnya ada seni membujuk, seni menghadapi berbagai sikap pelanggan, entah itu penerimaan atau penolakan, seni dalam mengelola komplain, dan sebagainya. Ya itulah seni, menurut Saya. Sekali lagi, menurut Saya. 


Tidak semua orang memiliki seni atau skill tersebut. Namun asalkan mau sungguh belajar, maka kemampuan tersebut akan dapat dicapai. 


Skill atau kemampuan memimpin juga ada seninya. Seni mempengaruhi dan menguasai sekelompok orang, agar mau melaksanakan apa yang diinginkannya. Seni menghadapi anak buah yang berbeda-beda. Seni mengelola emosi bawahannya. Seni melobby atasan, dan sebagainya. 


Jadi kalau menurut Saya, kemampuan adalah Seni. Seni dalam arti luas. Bukan Seni dalam arti khusus atau spesifik, seperti yang umumnya dipahami oleh kebanyakan  orang. Seni dapat mempengaruhi, menggugah perasaan seseorang. Dan dalam hal bisnis, bukankah mempengaruhi perasaan ini memang diperlukan, terutama terhadap customer nya? Jadi, secara universal, seni memang dibutuhkan dalam kehidupan, dalam berbagai aspeknya. 


Seperti itulah kurang lebih pengertian seni, sesuai yang Saya pahami. Pengertian yang saya tarik secara bebas. Tak harus sependapat dengan yang Saya sampaikan ini. 


Wallahu 'alam bi showab


====


#odopiccday14
#1M1C
=====

Bis jemputan dan kamar tengah

18.05 WIB


Tuesday, January 5, 2021

JL. KARTINI : KULINER JALANAN DI KOTA BEKASI

 


Foto : Ilustrasi



Jika di Yogyakarta ada gang-gang di sekitar Malioboro , Bukittinggi ada Pasa Lereng dekat

Jam Gadang, Bandung ada Jalan Dago dengan aneka jajanan tradisional hingga modernnya,

maka Kota Bekasi ada Jalan Kartini, tempat yang biasa digunakan untuk hang out dari

kalangan muda hingga tua. Hang out keluarga juga, untuk kelas food street.

Jalan Kartini terletak tak jauh dari pusat kota Bekasi.Berdekatan dengan Pasar Proyek atau Pasar Lama, dua buah rumah sakit (salah satunya Rumah Sakit Bhakti Kartini). Perumahan Villa Kartini dan lingkungan padat lainnya berada di sekitar jalan Kartini ini. Jalan Kartini juga merupakan jalan yang cukup ramai, karena merupakan jalan yang menghubungkan jalan Ir. Haji Juanda dengan jalan M. Hasibuan.

Sebenarnya ini bukan lokasi yang dikhususkan bagi aktifitas kuliner. Di sini juga terdapat bengkel, minimarket, salon, dan aktifitas ekonomi lainnya. Namun jika waktu telah menjelang sore, mulai sekitar Ashar, lokasi ini perlahan berubah. Seolah sesi kehidupan yang baru akan segera dimulai. Para pedagang mulai mempersiapkan segalanya. Pemasangan tenda, menata meja dan bangku di bawahnya, mempersiapkan alat dan bahan masak, dan seterusnya.  Menejelang Maghrib, lokasi ini semakin ramai. Tenda-tenda dadakan teah dipasang, lampu-lampu penunjangnya juga sudah terpasang. Pembeli pun mulai berdatangan. Area ini jadi lebih meriah.

Terdapat berbagai pilihan kuliner yang ada di sini. Selain toko makanan seperti Toko Kue Venny, terdapat juga rumah makan lainnya, seperti Kedai Soto Solo, Ayam Bakar Kalasan, dan sebagainya, yang memang sudah buka dari pagi hari. Sementara beraneka hidangan dengan tenda dadakan jadi memeriahkan lokasi ini. Ada seafood, sate, nasi uduk, dan sebagainya. Pengunjung baik yang datang dengan berjalan kaki, mau pun dengan berkendara motor atau pun mobil, ramai ke sana.

Jalan Kartini hampir selalu Saya lewati saat pulang dari bekerja bersama suami. Kami biasa menggunakan motor, sehingga untuk berhenti di tepi jalan untuk sekedar jajan atau mengisi perut, bisa lebih mudah. 

Ada makanan favorite kami jika malam sepulang bekerja kami lapar dan kebetulan lewat jalan ini.  Nasi goreng gerobak di pinggir  Mesjid Bani Shaleh, di ujung Jalan Kartini. Lokasinya sangat mudah ditemui, karena berada memang di paling ujung Jalan Kartini, dekat persimpangan jalan Ir. Juanda. Sementara suami kalau kebetulan pedagangnya ada, lebih memilih untuk memesan Sate, baik sate ayam, atau pun sate kambing. Rasanya bagi kami cukup lumayan enak. Terkadang (sebelum pandemi), kami sampai agak antri, karena bangku yang disediakan penuh. Syukurnya tidak lama. Biasanya kami memesan juga minuman jeruk hangat untuk melengkapi santapan kami. Dan memang, rasanya jadi lebih nikmat. Apalagi dengan kondisi fisik yang sudah cukup lelah dan juga lapar. 

Sementara untuk makanan favorite kami jika ke lokasi ini sebelum malam adalah Ayam Bakar Kalasan yang kiosnya juga berada di bagian agak ujung, arah ke Jl. Ir. Juanda. Letaknya berseberangan jalan dengan nasi goreng gerobak tadi. Ayam bakar Kalasan yang juga punya beberapa cabang di tempat lain, menjadi alternatif kuliner bagi keluarga kami. Saya sendiri suka dengan pepes jamurnya, selain ayam bakarnya. Sambelnya ada pedas manisnya. Kabarnya, walaupun bernama "Kalasan" dan sedikit bercita rasa Jawa, namun pemilik asli usaha ini adalah orang Minang. Akan tetapi ini perlu dipastikan lagi kebenarannya. 

Sementara itu, toko kue Veny yang memiliki gedung cukup megah, searah dengan Ayam Bakar Kalasan, menawarkan aneka kue dan camilan. Baik kue basah mau pun kue kering. Toko kue Veny juga ada di area Pasar Proyek (Pasar Proyek), yang sudah lebih dulu eksis. Toko ini juga melayani pemesanan kue dalam jumlah cukup besar serta snack box

Memang belum seramai Malioboro, Pasa Lereng, atau Jalan Dago, namun kuliner Jalan Kartini bisa menjadi alternatif wisata kuliner jalanan (food street) bagi Warga Bekasi, atau pun tamu yang kebetulan berada di Bekasi. Jadi, jika Anda berkesempatan ke Kota Bekasi, silakan mampir ke Jalan Kartini, untuk menikmati kulinernya, terutama setelah Ashar. 


======


Bekasi, 05. 51 WIB







PARENTING : BELAJAR JADI ORANG TUA



Sesungguhnya, Saya malu untuk membahas hal ini. Diperlukan keberanian dan kesiapan mental untuk menguraikan nya. Mengapa? Karena rasanya Sayalah yang perlu belajar dengan sangat tentang parenting ini. Saya belum berhasil menjadi orang tua yang baik bagi anak-anak Saya. Saya belum bisa menjadi contoh bagi mereka. Saya juga belum bisa mencetak anak-anak yang penuh dengan prestasi gemilang. Bahkan kenyataan di lapangan, barangkali Saya adalah sosok orang tua yang tidak patut dijadikan contoh bagi yang lain. 


Akan tetapi, akhirnya Saya berfikir bahwa dengan mencoba menguraikan perihal parenting sesuai dengan apa yang Saya pahami dan fikirkan, Saya malah jadi ikut belajar juga. Tulisan ini semoga menjadi pengingat bagi Saya, sebagai penyemangat bagi Saya, dan juga suami, untuk terus memperbaiki diri, untuk bisa menjadi orang tua yang sholeh/sholeha bagi anak-anak kami. Dan semoga juga ini bisa diambil manfaatnya bagi semua. Bukankah belajar hendaknya tidak melulu dari keberhasilan? Kegagalan atau pun ke-belum berhasilan, bisa menjadi pembelajaran juga, agar tidak diulangi lagi, agar ke depannya jadi lebih baik. Semoga. 


Baiklah. Jadi begini, bagi Saya, parenting bukan saja berarti belajar tentang bagaimana mengasuh anak usia sekian, bagaimana mengelola menyemangati mereka, bagaimana menghadapi permasalahan anak pada tahapan tertentu dan seterusnya. Namun bagi Saya, parenting juga adalah tentang belajar mengenai bagaimana menjadi orang tua yang seharusnya bagi anak-anak. Tentang bagaimana mengatur diri menjadi orang tua yang sholeh/sholehah bagi anak-anak. Parenting tidak saja tentang mencetak anak-anak yang berkualitas, tapi juga tentang bagaimana menjadi orang tua yang berkualitas bagi mereka. 


Setahu Saya, belum ada sekolah yang benar-benar ditujukan pendiriannya bagi orang tua. Belum ada sekolah yang materinya full tentang bagaimana menjadi orang tua yang baik. Karena, pendidikan untuk menjadi orang tua yang sholeh/sholeha adalah pendidikan  yang terus menerus dan diaplikasikasi langsung di lapangan. 


Diperlukan pembelajaran secara masiv bagi setiap orang tua, tanpa lelah, tanpa henti, mengenai bagaimana mengelola diri agar bisa menjadi orang tua yang berkualitas. Sumber belajar bisa dari mana saja. Bahkan bisa dari sang anak. Banyak hal yang bisa dicontoh dari polosnya mereka, apalagi yang masih kecil. Contohnya : sikap pemaaf nya, sikap jujurnya, sikap cerianya, sikap semangatnya, dan sebagainya. 


Beberapa point yang perlu diperhatikan dalam upaya menjadi orang tua yang baik:


  1. Luruskan niat. 

Apa yang kita lakukan untuk memperbaiki kualitas diri sebagai orang tua niatkanlah sebagai ibadah kepada -Nya. Agar apa-apa yang kita lakukan juga tidak sia-sia di mata-Nya. 


  1. Ingat bahwa anak adalah amanah dari-Nya.

Karena anak-anak adalah amanah langsung dari-Nya, titipan-Nya, maka kelak akan dimintai pertanggungjawabannya. Titipan dari orang lain saja kita cenderung menjaganya dengan baik, maka apalagi ini, titipan langsung dari Sang Pencipta. Sangatlah patut untuk dijaga semaksimal mungkin. Baik dan buruknya sang anak, dengan kuasaNya, kitalah yang mewarnainya. 


  1. Senantiasa berdo'a.

Teruslah mohonkan pertolonganNya dalam memperbaiki diri, dan juga dalam mengasuh anak-anak. Libatkan DIA, karena DIA-lah yang telah menciptakan. Ini artinya DIA punya alat-alat mau pun kelengkapan lainnya untuk memperbaiki diri hamba-Nya. Yakinlah. 


  1. Hindari rasa, malu, gengsi, dan ego. 

Abaikan hal-hal tersebut jika kita memang serius, sungguh-sungguh ber'azzam untuk belajar jadi lebih baik. Barangkali memang tidak mudah, karena manusia memiliki nafsu. Namun jika kita menginginkan kebaikan bagi anak-anak kita, keluarga kita, maka mulailah dari diri sendiri. Ibda' bi nafsik. 


  1. Belajar dari mana saja

Pembelajaran untuk menjadi orang tua yang lebih baik bisa berlangsung di mana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja. Bahkan sekali lagi, dari anak-anak kita sendiri. Jangan menutup diri untuk menerima masukan yang membangun. 


  1. Teruslah bersemangat. 

Jaga stabilitas mood untuk terus belajar dan mempraktekkannya. Benahi terus diri kita sebagai orang tua. Perbaiki attitude kita. Anak-anak lebih suka mencontoh dari pada sekedar mendengarkan ocehan atau pun nasehat panjang dari orang tuanya. Karenanya, berikanlah contoh yang baik. Termasuk di dalamnya adalah sikap mau meminta maaf, jika melakukan kesalahan. 


  1. Ingat bahwa anak-anak kita adalah manusia juga. 

Bersiaplah dan bersegeralah, perlakukan mereka sebagaimana memperlakukan manusia seharusnya. Mereka memiliki rasa, hati, dan juga akal. Beri mereka ruang untuk itu. Beri mereka kesempatan untuk menunjukannya, mengeksplorasi nya. Tugas kita membimbing, mengarahkan, serta membekali mereka dengan iman yang akan menjadi penjaga mereka. 


Itulah beberapa hal yang seharusnya menjadi perhatian kita untuk memperbaiki diri sebagai orang tua bagi anak-anaknya. Inilah mungkin, sedikit gambaran ideal bagi orang tua yang sedang berjuang untuk kebaikan keluarganya. 


Meskipun ini begitu membuat Saya malu, karena belum bisa merealisasikannya dengan sepenuhnya, namun sekali lagi, Saya berharap semoga ini bisa menjadi manfaat bagi para orang tua lainnya. Dan juga menjadi pengingat bagi Saya dan suami, dalam rangka proses terus memperbaiki diri sebagai orang tua. 


Semoga ini menjadi tabungan amalan bagi Saya. Dan semoga pula, Allah mengampuni Saya dan suami karena kekeliruan, kesalahan, yang pernah kami lakukan terhadap anak-anak. Astaghfirullahal 'adziim…  !! 


Wallahu'alam bi showab. 


======


Salemba, 08.01 WIB


Monday, January 4, 2021

ATUR UANGMU !

 

DISCLAIMER : Sebelum melanjutkan membaca, perkenankan Saya menyampaikan Disclaimer bahwa apa-apa yang Saya sampaikan di sini bukan berarti begitulah Saya adanya. Karena yang Saya sampaikan ini  adalah berdasarkan apa-apa yang Saya pahami, Saya fikirkan. Saya sendiri juga belum mahir mengelola keuangan dengan baik. Semoga ini pun menjadi pembelajaran bagi Saya pribadi, dan juga bisa bermanfaat bagi yang lain. Semoga.






Keuangan yaaa?? Hmhhh…Suatu tema yang cukup sensitif sekaligus menarik untuk dibahas bagi Saya. 


Baiklah, Saya coba menuliskannya, membahas keuangan dari sisi yang berbeda...


Ketakmampuan mengelola nafsu terhadap godaan duniawi, seringkali menjadi penyebab keterpurukan ekonomi keluarga. Bahkan mungkin saja akan merambat kepada ekonomi masyarakat dan bangsa. Nafsu yang tak terkontrol, terhadap berbagai hal, telah terlampau sering membuat manusia jatuh, hancur, dan bahkan mungkin terhina. 


Cerita berikut semoga bisa menjadi inspiasi bagi kita semua...

Masih jelas dalam ingatan Saya, bagaimana seorang kerabat mengalami keterpurukan ekonomi. Secara bertahap namun dalam waktu yang tidak terlalu jauh bedanya, perlahan satu demi satu properti mau pun benda yang sempat dimilikinya, lepas darinya. Mobil yang dimilikinya secara mencicil, hanya mampu di bayarnya sekitar satu tahun. Rumah keduanya yang dibelinya secara cash kepada developer dengan uang yang dipinjamnya dari bank, akhirnya dijualnya. Perhiasan emas maupun logam mulia yang dimilikinya satu demi satu lepas darinya. 


Pertanyaannya : "Kok bisa? "


Tentu bisa. 


Mobil yang dicicil tersebut, diambil saat perekonomiannya belum cukup kuat. Masih labil. Usaha yang dirintisnya belum stabil, meski sudah berjalan beberapa tahun. Hasil yang dicapai baru cukup untuk menambah memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hal ini diperparah dengan prosesi resign yang bersangkutan dari pekerjaannya, beberapa bulan setelah mengambil kredit mobil. Entah bagaimana pertimbangannya saat mengambil keputusan tersebut. 


Lalu rumah. Ini adalah rumah kedua yang diambilnya. Merasa yakin dengan penghasilan dari usahanya, gaji dari tempatnya bekerja, serta ditambah dengan istri yang juga a worker lady, mereka nekad membeli rumah secara cash, dengan uang yang dipinjamnya dari bank. Ini dilakukan karena prosedur peminjaman uang multiguna adalah lebih mudah untuk disetujui pihak bank dari pada harus mengambil rumah dengan sistem KPR. Ini disebabkan karena mereka sebelumnya telah memiliki rumah yang dibayarkan secara KPR. Pinjaman multiguna lebih mudah diperoleh, karena pihak bank telah menjalin kerjasama finansial dengan tempat sangat istri bekerja. 


Sebelum itu semua, bahkan hingga beberapa property besar telah "melayang", beberapa perhiasan emas, termasuk logam mulia yang mereka miliki telah beralih kepemilikan. Sebagian besar karena ketaksanggupan membayar cicilan atau menebusnya dari lembaga penggadaian. Bahkan termasuk di dalamnya mahar pernikahan mereka. 


Ketidakmampuan dalam mengelola keuangan dengan baik, bisa berujung penumpukan hutang. Sementara hutang adalah sesuatu yang harus dibayarkan. Apalagi juga berhutang kepada lembaga finansial yang menerapkan bunga pinjaman. Keterlambatan mau pun kegagalan bayar akan menyebabkan tagihan kian menumpuk. Sementara kebutuhan hidup pun masih terus ada. Di sinilah berpeluang munculnya berbagai masalah turunannya. Termasuk di dalamnya masalah keluarga : kekurangharmonisan, keretakan, bahkan mungkin hingga perceraian. Na’udzubillah min dzaalik.


Berkaca dari kasus kerabat tersebut, sepertinya ada beberapa hal yang bisa memicu permasalahan dalam hal keuangan ini. Antara lain : 


Pertama, ketakmampuan mengelola nafsu. Seringkali masalah keuangan muncul karena hal ini. Karena nafsu untuk mencapai atau memiliki sesuatu, apa pun bisa saja ditempuh. Terkadang mata lebih lapar dari pada perut. Terkadang hasrat untuk memiliki begitu tinggi, tanpa peduli hal/benda tersebut memang dibutuhkan atau tidak. Yang parahnya adalah ketika keinginan tersebut tidak sesuai dengan kemampuan finansial. Jadinya lebih besar pasak dari pada tiang. Nafsu, gengsi, mengalahkan segalanya.


Kedua, minimnya pengetahuan tentang pengelolaan keuangan. Sedikit banyaknya memang dibutuhkan pengetahuan tentang pengelolaan keuangan. Akan lebih mantap jika memang sudah memiliki banyak pengalaman dalam mengelolanya. Faktor keluarga mau pun lingkungan memberikan cukup banyak pengaruh.  Anak yang dibesarkan dalam keluarga yang sudah terbiasa mengelola keuangan dengan baik, berpeluang untuk bisa engelola keuangannya dengan baik dari sejak belia. Orang yang terbiasa mengelola keuangan, akan lebih mudah untuk  menentukan skala prioritas  dalam menggunakan uangnya. Mereka pun jadi lebih mudah dalam membuat perencanaan keuangannya.


Sepertinya, itulah masalah utama kekurangsuksesan pengelolaan keuangan pada umumnya. Ini adalah berdasarkan pengamatan Saya secara pribadi ya. Tanpa dalil ilmu ekonomi tertentu, karena Saya memang bukan berlatar pendidikan ekonomi.

Masih berdasarkan pengamatan, pengalaman dan sedikit bekal ilmu yang sempat Saya tau dari berbagai sumber, maka setidaknya, hendaknya kita bisa membuat perencanaan dan mengatur keuangan dengan menggunakan pos-pos tertentu. Pos-pos ini diperlukan, agar kita lebih bisa teratur. Berikut beberapa pos yang perlu ada, yang bisa dimulai dari diri sendiri :


  1. Pos pengeluaran rutin

Termasuk di dalamnya (menjadi sub-pos) : biaya sekolah anak, cicilan hutang, biaya belanja rutin rumah tangga (belanja bulanan, listrik, PAM, internet, dan sebagainya), dan seterusnya.


  1. Pos ibadah 

Terdiri atas sub-pos : Zakat, infaq, shodaqoh, untuk Kurban, untuk Haji dan Umroh, dan seterusnya. Untuk agama lain, menyesuaikan.


  1. Pos Liburan, travelling

Digunakan untuk persiapan liburan, travelling, refreshing. Jika dalam satu tahun belum mencukupi, bisa digabung dengan tabungan tahun selanjutnya.


  1. Pos Tabungan dan cadangan emergency

Dapat dibagi menjadi sub-pos : tabungan (bisa digunakan untuk kepentingan masa depan), dan sub pos emergency (untuk keperluan mendadak atau urgen lainnya).


  1. Pos Investasi

Meski tidak wajib, namun usahakan untuk memiliki pos ini. Hal ini adalah karena pos ini bersifat jangka panjang.


Demikianlah kira-kira pembagian pos-pos keuangan dalam skala kecil. Untuk suatu perusahaan, sepertinya akan diperlukan pembagian yang lebih kompleks lagi. Namun, betapa pun hebatnya teori penataan keuangan ini, betapa pun canggihnya sistem yang digunakan, tetaplah dibutuhkan komitmen dari yang bersangkutan. Tanpa adanya komitmen yang kuat dalam pelaksanaannya, perencanaan tersebut akan percuma adanya. Niatkan dari awal, semua ini adalah demi kebaikan. Niatkan ini sebagai ibadah. In syaa Allah akan dimudahkan-Nya, dan akan bernilai ibadah jua di mata-Nya.


Satu hal yang perlu diingat adalah, jika tiba waktunya kelak, kita akan ditanyakan tentang harta yang ada pada kita. Dari mana harta tersebut diperoleh, serta bagaimana harta tersebut dipergunakan. Pertanggungjawaban atas titipan-Nya terhadap kita di dunia ini. Semoga kita bisa menggunakan dan mengelolanya dengan sebaik-baiknya.




====================


Bandung & Bekasi
19.31 WIB









Saturday, January 2, 2021

BYE 2020, HI 2021...

 


Beberapa menit sebelum tutup tahun 2020 di Wilayah Indonesia Bagian Barat. Sebuah tahun dengan angka cantik. Sebuah tahun yang begitu unik, karena memiliki kenangan bagai seluruh umat di dunia. Sebuah tahun yang pada sebagian orang sempat dibuatkan candaan seperti ini : tahun 2020 itu hanya terdiri atas bulan Januari, Februari, Maret, dan …. Desember!  

Hehehe.. Tentu Anda paham alasannya yaaa..?! 


Betul, karena pada Maret pertengahan, hingga Desember pun sebenarnya, pandemi COVID-19 melanda dunia. Kegiatan outdoor, apalagi yang melibatkan banyak orang sangat dibatasi. Ekonomi terpuruk. Anak-anak belajar dari rumah. Pekerja pun banyak beralih ke rumah. Ibadah di rumah. Hampir semua terpusat di rumah. Keluar hanya untuk urusan yang penting-penting saja. Ketergantungan akan jaringan internet pun jadi meningkat, karena banyak aktifitas yang pada akhirnya menjadi online, daring. Biaya kuota membengkak, kalau tidak menggunakan wifi yang bisa digunakan oleh seluruh anggota keluarga. 


Ritme dan gaya kehidupan "dipaksa" berubah secara mendadak. Selain "dikurung" dalam rumah, manusia pun diharuskan lebih memahami teknologi IT. Sistem online membuat orang yang gaptek "harus" belajar banyak dan intens tentang teknologi. Bukan hanya anak-anak yang masih belia, yang pada zaman normal malah diusahakan untuk menjauh dari gadget, namun juga yang sudah paruh baya, harus memahami penggunaan IT tersebut. Mau tidak mau. Setidaknya yang berhubungan langsung dengan kebutuhan tugas sekolah (proses belajar-mengajar), atau pun pekerjaan. Bagaimana tidak? Absensi para pekerja yang biasanya dengan sistem 'setor jari' pada mesin presensi, kini beralih ke sistem absensi online. Tentunya ini untuk meminimalisir perpindahan virus Corona pada mesin tersebut. Di samping juga karena pekerjaan beralih menjadi dilakukan di kediaman masing-masing. 


Penggunaan masker, mencuci tangan di tempat umum berulang kali, menjaga jarak antar sesama, menjadi suatu kebiasaan baru. Kepadatan di kendaraan umum pun berkurang, setidaknya sekitar 50%. Para penumpang commuter pun jadi terbiasa menggunakan pakaian berlengan panjang, karena ini menjadi syarat untuk diizinkan/tidaknya naik moda tersebut. 


Para ibu dituntut untuk bisa menjadi seorang guru bagi anak-anak nya, meski dengan segala keterbatasannya. Dan tak jarang karena hal ini, tekanan darah meningkat. Anak-anak juga kurang nyaman belajar dengan para orang tua yang kurang memahami cara menyampaikan materi pembelajaran sekolah dengan baik. Bukan tidak mungkin, hubungan orang tua dan anak menjadi kurang baik karenanya. 


Dan berbagai hal lainnya yang serta merta terjadi dalam masa pandemi ini. 


Bahasan tentang hal ini tentu sudah banyak disampaikan. 


Yang ingin Saya sampaikan di sini adalah harapan ke depannya. Bukan untuk mengkultuskan moment tahun baru Masehi ini. Namun lebih kepada harapan di hari-hari esok, yang menurut agama Islam, agama yang Saya anut, mestilah lebih baik dari hari ini, apalagi kemarin. Hal ini adalah agar kita tidak menjadi hamba yang merugi.


Setiap orang memiliki keinginan dan harapan untuk masa depannya. Biasanya disebut sebagai resolusi. 


Secara pribadi, Saya ingin jadi lebih baik dari yang sebelumnya. Keluarga makin harmonis. Anak-anak makin sholeh-sholehah. Serta makin berprestasi, makin bahagia. Satu lagi, semoga keinginan Saya untuk bisa pindah ke rumah kami, yang 2 (dua) tahun kemarin dikontrakan, bisa terkabul. Keinginan untuk membangun keluarga secara mandiri. Menata kehidupan keluarga kami, semaksimal yang bisa kami upayakan. Semoga hambatan yang ada untuk kami bisa melaksanakan keinginan tersebut, segera bisa terselesaikan dengan baik. Aamiin. Kami hanya ingin bahagia. Dunia dan akhirat. Itu saja. In syaa Allah dimudahkan-Nya. Aamiin. 


Lalu bagaimana dengan Anda? Bagaimana resolusi atau harapan Anda? 

Buatlah resolusi sebaik mungkin, untuk berbagai hal. Resolusi yang penuh kebaikan dan manfaat. In syaa Allah. 


****

Kamar tengah, 31 Desember 2010

23.44 WIB


Leni Sudiarti