Showing posts with label cerita. Show all posts
Showing posts with label cerita. Show all posts

Sunday, July 18, 2021

CERITA UNTUK CUCUKU TENTANG COVID-19 (part 1)

 


Source : orami.co.id
Source : orami.co.id


Cu.. ikutilah cerita kami ini...

Tak pernah terbayangkan oleh nenekmu ini, untuk mengalami masa yang akan Nenekmu ceritakan ini. Tak pernah. Semua terjadi begitu saja, mendadak. Tiba-tiba dunia serentak mengalaminya.

Cu... Saat itu, 16 Maret 2020, Nenek masih bekerja di kantor, sekitar  2 (dua) hari sebelum jadwal Nenek mengikuti diklat keesokan harinya. Hari itu Nenek begitu sibuk, mempersiapkan segala rupa, untuk Nenek tinggalkan selama Nenek mengikuti diklat tersebut. Berita tentang wabah Covid-19 (Corona) yang mulai masuk ke Indonesia memang sudah mulai santer terdengar. Isu kota akan ditutup pun sudah ada terdengar. Itu pulalah yang membuat Nenek bersiap-siap dengan kemungkinan penutupan kota (lock down) tersebut. 

Kalau tidak salah, siang menjelang sore hari, akhirnya  keluarlah Surat Edaran dari pimpinan di kantor Nenek bahwa kantor akan di-lock down, mulai keesokan hari, 17 Maret 2020, mengikuti ketetapan pemerintah. Kami pun patuh. Rencana kerja, serta rencana-rencana lainnya mendadak berubah. Diklat yang akan Nenek ikuti pada tanggal 18 Maret pun akhirnya dibatalkan, demi menjaga kebaikan bersama. Bagi peserta dari daerah yang sudah memesan tiket dan berbagai akomodasinya pun serta merta ikut dibatalkan. Opsi kegiatan kerja Nenek ke Yogyakarta yang akan dilakukan pada akhir bulan pun, dicancel, padahal tiket sudah diambil. Nenek ajukan refund, namun hingga Nenek tulis ini, belum ada kejelasan refund tersebut. Mungkin situasinya memang cukup sulit ya untuk mengupayakan refund tersebut.

Cu... hari-hari selanjutnya, kami "dikurung" di dalam rumah. Dari yang awalnya hanya 2(dua) minggu, lalu diperpanjang berulang kali hingga total 3(tiga) bulan kami "di rumah-kan." Kami benar-benar di rumah, tidak diperkenankan ke mana-mana. Satpol PP serta petugas lainnya bertebaran menyisir jalan, "memaksa" warga untuk mekukan berbagai aktifitas "hanya" dari rumah saja. Bahkan anak-anak yang berkeliaran pun diperintahkan untuk pulang oleh mereka. Pekerja pemerintah/swasta/pengusaha mau pun pekerja lepas harian,buruh dilarang berkeliaran, kecuali untuk hal yang benar-benar mendesak. Kegiatan belajar mengajar di sekolah, kampus, dan sebagainya pun dihentikan. Semuanya dilakukan dan terpusat hanya di rumah saja.

Perubahan yang mendadak, membuat banyak pihak tidak siap, terkaget-kaget. Banyak hal yang mesti dirubah, di antaranya :

Pertama, offline menjadi online

Bagi pegawai atau karyawan, mau pun pelajar atau mahasiswa atau peserta didik lainnya, "diharuskan" untuk mengubah cara lamanya yang offline (on-site / luring) menjadi online / daring. Pekerjaan dan belajar dilakukan dari rumah dengan mengandalkan jaringan internet. Bagi yang masih agak gagap teknologi, "dipaksa" untuk belajar dan memahaminya. Anak-anak pun "harus" lebih mengerti tentang IT. Di sinilah terjadi perubahan lainnya. Permintaan akan jaringan internet, baik itu yang wifi atau pun melalui jaringan internet di hand phone, meningkat. Karena komunikasi dan sarana kerja/belajar, menggunakan gadget. Sepertinya, permintaan pasar akan gadget, terutama hape dan laptop (komputer jinjing) juga meningkat. 

Tapi di lain sisi, anak-anak yang semula dibatasi aksesnya untuk menggunakan gadget karena belum cukup umur atau belum tiba saatnya, akhirnya kini malah lebih akrab dengan gadget. Gadget dibawa kemana-mana. Dari yang usia SD (bahkan dari yang TK, mungkin), kebutuhan HP (handphone) untuk belajar meningkat. Bagi yang bisa mengontrol diri atau anak-anaknya, penggunaan HP hanya sekadarnya. Namun bagi yang tidak bisa mengontrol atau pun mengarahkannya, banyak yang kebablasan. Penggunaan HP untuk belajar hanya beberapa saat, namun setelah itu, HP digunakan untuk bermain game online atau banyak hal lainnya yang kurang berguna.

Jadi, untuk perubahan offline ke online ini, sisi positifnya antara lain, bagi yang semula agak Gaptek, jadi terpacu untuk mempelajarinya. Namun sisi negatifnya, banyak anak-anak yang waktu menatap layar gadgetnya jadi lebih lama. Hal ini berpeluang mempengaruhi kesehatan mata mereka.


=====================

In syaa Allah, to be continued...





Sunday, June 6, 2021

MANFAAT BERMAIN LEGO BAGI ANAK

                                                         ilustrasi lego :  viva.co.id          

                                            

 Anak Anda menyukai permainan lego ? Biarkanlah... Ada banyak manfaat yang bisa diperoleh oleh anak dari permainan tersebut.

 Berikut beberapa manfaat dari permainan lego :

1. Mengalihkan perhatian anak dari bermain gadget

   Di era pandemi ini, salah satu godaan terbesar bagi anak-anak yang sekaligus menjadi ujian kesabaran bagi orang tua adalah maraknya penggunaan gadget. Beberapa anak bahkan bisa  asik dengan gawainya hingga seharian penuh. Hal ini tentu saja tidak baik. Mata yang terus menerus menatap layar gawai berpeluang mengalami gangguan.

Lego yang berwarna warni dapat menjadi alternatif pilihan anak-anak dalam mengisi waktu luangnya. Saat anak bermain lego maka dengan sendirinya interaksi dengan gawai akan berkurang.

2. Mengasah kemampuan dasar

Lego mengenalkan beberapa kemampuan dasar pada anak, yaitu mengenai warna (kombinasi warna, dan sebagainya), jumlah (berhitung, dan sebagainya), space (ukuran, jarak). 

3. Menguatkan kesabaran dan ketekunan

Untuk mendapatkan bangun yang diinginkan, maka diperlukan kesabaran dan ketekukan dalam menyusun lego tersebut. Jika tidak, maka bentuk bangun yang diharapkan akan sulit diwujudkan.

4. Mengasah daya imajinasi dan kreatifitas

Lego bisa disusun menjadi berbagai bentuk, sesuai keinginan. Ini memerlukan kreatifitas. Pada masa yang akan datang, kreatifitas ini sangat diperlukan. Untuk bisa lebih bertahan hidup pada masanya kelak, kreatifitas akan memegang peranan penting. Siapa yang bisa berpikir dan bersikap kreatif, mereka lebih bisa melihat celah peluang untuk bertahan dan maju dalam berbagai permasalahan hidupnya.

5. Melatih konsentrasi

Saat membuat atau pun saat melihat tutorial mau pun contoh suatu bentuk, konsentrasi sangatlah diperlukan. Konsentrasi diperlukan agar bentuk yang diinginkan bisa dibuat dengan sebaik mungkin. Jika konsentrasi buyar, maka bisa jadi bentuk bangun tersebut tidak akan dapat diperoleh. Dalam kehidupan nyata, konsentrasi, fokus dalam mengerjakan atau pun mencapai suatu cita-cita sangat diperlukan. 

6. Mengasah kemampuan kerjasama dan mengontrol ego

Ada kalanya suatu "bangunan" lego dikerjakan secara bersama, terutama untuk yang berukuran besar dan memerlukan detil yang cukup banyak. Jika kerjasama yang baik tidak terbina di antara anggota team, maka apa yang akan direncanakan akan sulit untuk diwujudkan. Jika ada anggota yang ingin menang sendiri tanpa peduli dengan yang lain, maka rencana tidak akan berjalan dengan baik. Anggota team harus bisa menahan ego ingin menang sendiri dan lebih bisa bekerja sama agar apa yang diharapkan dapat diwujudkan.

7. Menstimulasi daya estetika

Dalam menyusun lego, biasanya anak-anak akan berusaha membuatnya secantik mungkin, semenarik mungkin. Maka dengan sendirinya, sesungguhnya mereka sedang belajar tentang bagaimana membuat sesuatu menjadi lebih indah dan menarik.

8. Meningkatkan rasa percaya diri

Anak akan merasa lebih percaya diri dengan apa yang telah dibuatnya dan cenderung akan menunjukannya kepada orang lain.

Dari beberapa manfaat yang bisa diperoleh (masih banyak yang lainnya), maka sepertinya tidak ada salahnya memberikan mereka keleluasaan untuk bermain dengan benda-benda yang bisa disusun tersebut. Dan lagi, bukankah bagi anak-anak, bermain itu adalah proses mereka juga belajar... ?? Bermain sambil belajar..  Bagaimana, Bun ??

Tuesday, February 16, 2021

BAHAGIA DI BALIK DUKA

Judul Asli : Percakapan "Awangan"



Pada suatu ketika .. :

Kakak (Kk) : Mi.. itu mobilnya om Aidil ya ?
Ummi : Iy Kak..
Kk : Baru beli ya Mi ?
Ummi : (mengangguk)
Kk : Bagus....
Ummi : he'eh...

Senyap sesaat..


Kk : Mi..
Ummi : iya Kak..
Kk : Om Aidil beli mobil baru.. kalau kita, malah ngejual-jualin..
Ummi : (menahan napas, menunggu kelanjutannya..)

Kk : Rumah kita yang satu dah dijual... trus, mobil juga dijual.. sekarang, rumah satu-satunya kita, juga dah mau dijual lagi..


Mulai ada mendung terasa...

Ummi paham, anak lelakinya ini, meski cenderung berwatak keras, namun memiliki hati yg mudah tersentuh.. mudah menitikan air mata (namun bukan cengeng !)

Ummi tarik perlahan tangan Kk, menuju ke dalam pelukannya..


Kk : kenapa ya Mi.. ??


(Dan benar, ada butiran bening yg mulai jatuh di sudut matanya)

Ummi belai dengan penuh sayang anak bujangnya yang berusia 9 tahun itu.. dikecup perlahan keningnya..


Ummi : Kak..
(Ummi belai lembut lagi rambut lelaki kecilnya)

Ummi : Allah sangat penyayang kepada semua hambaNya... apalagi yang bertaqwa kepadaNya..
Kita Hamba Allah bukan Kak ?

Kk : Iya Mi..

Ummi : Mungkin saat ini, Allah menyayangi Om Aidil dan kluarganya, dengan cara memberinya kemudahan untuk memiliki mobil yang mungkin memang sangat dibutuhkannya..

(Kakak menyimak, masih dalam harunya..)

Ummi : Dan mungkin pula, saat ini Allah menyayangi kita dengan cara "mengharuskan" kita menjual barang-barang tersebut...

Kk : "mengharuskan", Mi ? Kok "mengharuskan", Mi ?


Ummi : iya..
Allah mungkin "mengharuskan" kita melakukan hal tersebut, hal yang bisa jadi sangat tidak kita sukai, agar kita jadi semakin baik..
Allah membuat kita jadi belajar, sehingga kita lebih paham dan tau apa yang mungkin kurang dari kita..

(Ummi terus mencoba menyusun kata-kata, agar bisa dipahami Kakak, walau ummi sendiri mencoba meredam gejolak hatinya.. miris !)

Kk : (menunduk dalam, sambil terus pasang telinga)


Ummi : Kak.. Allah sayang, sangat sayaaaang bahkan, sama kita..
Allah kasih kesempatan pada kita, untuk berbuat baik lebih banyak...
Allah mengingatkan kita, biar ga kebablasan dan salah jalan.. Allah "mengharuskan" kita untuk terus belajar... Allah "nyentil" kita dengan sayang..

(mungkin bahasanya agak berat untuk anak seumur itu, tapi biarlah... In shaa Allah nanti dia juga akan paham. Dan ummi lanjut lagi..)

Kak.. kadang kita suka lupa sama Allah..
Apalagi kalau kita lagi seneng...

Kk : Kakak shalat ga bolong-bolong lagi kok Mi..
(Kk membela diri..)

Ummi : iya Kak.. Ummi tau kok..

Kk : trus..?


Ummi : shalat mungkin kita memang ga bolong-bolong Kak..
Tapi, sering ga kita bersyukur, minimal ngucap "Alhamdulillah" ketika dikasih ni'mat atau kesenangan ?

Kk : sering Mi...

Ummi : mungkin belum cukup Kak...

Kk terdiam.. keningnya agak berkerut.

Ummi : Kak.. bisa jadi, saat ini, Allah sedang sangaaat sayang sama kita. Bisa jadi, Allah sedang sangat kangen dengan kita..

Kk : maksudnya Mi ?


Ummi : Kak.. bisa jadi Allah sedang kangen, pake bingits, sama kita..

Kk : (tersenyum simpul kecil)

Ummi : Allah ingin, kita ga melupakanNya..
Allah suka jika kita meminta sama Dia..

Kk : (alis dan keningnya berkerut)

Senyap sesaat..


Ummi : Kak.. banyak cara Allah menunjukkan rasa sayangNya kepada hambaNya..

Mgkn Om Aidil dengan mobilnya, sehingga Om Aidil bisa bersyukur kepadaNya..

Sementara kita, mungkin, saat ini, dengan keadaan kita sekarang...

Kk : (setia mendengarkan, dan menyender gelendotan ke Ummi)


Ummi : Allah ingin kita mendekat padaNya.. ingin agar kita bermohon padaNya..
agar kita semakin sering berdoa kepadaNya..
Allah suka jika kita meminta padaNya.. menangis dalam doa kepadaNya

Allah ingin kita juga menyadari dosa dan kesalahan-kesalahan kita.. lalu meminta ampun kepadaNya..
agar kita ga terus-terusan salah jalan, itu kalau ternyata kita memang telah salah jalan..

Allah ingin kita bermohon, berdoa, meminta terus menerus kepadaNya..

(Ummi menarik nafas agak panjang.. lalu melepaskannya perlahan)

Kak... Allah senang jika kita merintih memohon kepadaNya... menangis di do'a-do'a malam kita...

Allah senang mendengar hambaNya menyebut namaNya dalam setiap do'anya.. Allah senang mendengar hambaNya meminta kpdNya..bukan kepada yg lain !

Kata Allah : 'HambaKu sedang menyebut namaKu..
HambaKu sedang meminta...' begitu..

Kak... ?

Kk : Iya Mi...

Ummi : Kakak tau, bahwa setiap doa hamba akan dikabulkanNya..??

Kk : iya Mi.. Kakak pernah denger..

Ummi : Iya Kak.. Allah akan mengabulkan setiap doa hambaNya..

Hanyaaa...

Kk : apa Mi ??

Ummi : Masalah kapan waktu dikabulkannya, itu terserah Allah.. karena Allah yang Maha Tau yang terbaik untuk kita...

Kk : jadi kapan Mi kita bisa seperti dulu ??

Ummi : Allah saja yang Maha Tau..

Kk : (terdiam)




Ummi : tugas kita saat ini adalah : banyak istighfar, banyak minta ampun padaNya, lalu berdoa dan memohon kepadaNya... serta senantiasa bersyukur atas semua yang telah Allah kasih ke kita..
samaa... satu lagi: ikhtiar, usaha !
In shaa Allah apa pun yang terjadi pada kita saat ini adalah yang terbaik untuk kita menurut Allah...

Kita ga bisa paham tentang semua hal, Kak... Allah sajalah yang Maha Tau tentang semuanya juga kesudahan segalanya...

Jadi, kita tidak perlu kecewa, apalagi marah, sama Allah..

oke Kakak shaleh ?! (senyum, sambil pegang dagu Kk)

(tak ada jawaban..senyaap..)


Ummi : satu lagi Kak..
Kk : apa Mi ?
Ummi : kita ga pernah kelaparan, kan ?
Kk : iya Mi..
Ummi : kita masih bisa naik motor kan ?
Kk : iya Mi...

Ummi : Naah... syukuri itu Nak.. Alhamdulillah..
Jangan terus melihat ke atas, pegel ! sekali-sekali lihat juga ke bawah !
masih banyak yang bahkan untuk makan aja susah, sampai. kelaparan..
masih banyak gelandangan, ga ada rumah, kehujanan, kepanasan.. Kita? Alhamdulillah, masih ada tempat berteduh..
Alhamdulillah kita bisa hidup dengan tenang..
Coba kalau seperti Muslim Rohingya, Muslim di Gaza..
ngeri kaan ??

Kk : hii.. jgn sampai, Mi..

Ummi : naah, bersyukurlah, Nak..
jangan sampai kita kufur ni'mat..
Kakak tau artinya, kan ??

Kk : iy Mi...ga bsyukur sama Allah..

Ummi : Naah... !! pinter !!
(ummi kasih jempol)


Kk : Astaghfirullah..
Alhamdulillah..

(Ummi belai lembut kepala Kakak.. senyap lagi..)


Kk : Mi..
Ummi : iya sayang...
Kk : Om Aidil beli mobilnya nyicil atau lunas, Mi ?

Ummi : (agak kaget dengan pertanyaan ini)
Lho, Kenapa memangnya, Kak ?

Kk : ga Mi..

Ummi : Cash, lunas, Kak !
Kk : Alhamdulillah... (legaa dia..)
Baguslah..
(senyum misterius)


Ummi : kenapa memangnya, Kak ?
Kk : jadi ga pusing mikirin cicilan hutangnya Mi..

Ummi : (dalam hati, geli : aaahhh... lelaki satu ini !)


Kk : eehh... kok Ummi tau om Aidil beli lunas ?
Ummi : ya tau laah... Om Aidil kan adik Ummi..
Kk : hehe.. iy ya...

(tergelak agak lebar dia)


Kk : Mi..
Ummi : iy Kak..
Kk : Doain Kakak y Mi..
Ummi : apa kak ?
Kk : Kakak pengen jadi pengusaha shaleh yg hafidz, Mi..

Ummi : (terkejut, bahagia, speechless) Aamiin.. !!

Kk : Biar bisa nyenengin Ummi. sama Abi..
sama biar bisa sedekah dan beramal yang banyaaaak banget !

Ummi : Aamiin !!

Kk : Kakak juga ingin kasih mahkota buat Ummi sama Abi di syurga nanti, karena Kakak bisa jadi hafidz 30 juz..

Ummi : (terharu, sumringah..)
Aamiin allahumma Aamiin.. !!
In shaa Allah, Ummi selalu doain Kakak..
walau Kakak ga minta..

In shaa Allah, cita-cita Kakak bisa terkabul, sayang..

Kk : terimakasih ya Mi..
Ummi : iya Sholeh...
(Kk dan Ummi berpelukan erat)


Kk : Mi..
Ummi : iya Nak..
Kk : maafin Kakak ya Mi..kalau sering bikin Ummi susah, repot, bikin Ummi sedih..

Ummi : iya Kak.. ga apa-apa..
In shaa Allah Ummi bahagia kok, punya anak sholeh seperti Kakak.. karena Kakak harta terbesar untuk Ummi dan Abi..

Kk : terima kasih ya Mi..

Ummi : iya sayang..

(Kakak dan Ummi tersenyum bersama)


===* Dan mendung yang tadi sempat ada, perlahan pergi, berganti dengan kecerahan.. *==


#finish
#ceritaawangan
#ceritaimajiner
#selfreminder
#doaharapan
#introspeksi
#catatankecil
#wallahu'alam (12102017)



=====

Bekasi, 13082020


Repost :
Hasil kompilasi postingan FB tgl 11-12 Oktober 2017

Thursday, January 14, 2021

SENI ALA SAYA...




Kalau ada yang bertanya tentang seni yang Saya minati saat ini, sepertinya Saya akan bingung menjawabnya. Bernyanyi ? Suara Saya sember, fals. Menari? Saya tidak gemulai. Bermain seni peran? Saya datar, kurang pandai berekspresi. 


Mungkin yang agak mendingan adalah dalam melukis. Saya sedikit bisa menikmati proses pembuatannya. Meski tidak bagus-bagus amat, tapi Saya pernah dapat nilai 9 untuk sebuah lukisan batik yang Saya buat saat SMA. Tapi itu pun lukisan yang Saya "contek" dari sebuah kain batik milik Ibu Saya. Jadi bukan murni karya Saya juga, hehehe… 


Begitulah…  


Sebutan "orang seni" agaknya jauh dari Saya. "Bukan gue banget… " Hehehe… 


Entahlah, mungkin faktor lingkungan berpengaruh juga ya. Di keluarga inti Saya, boleh dibilang memang tidak ada yang punya darah seni. Jadi atmosfer rumah pun kurang terbiasa dengan aktifitas seni. Paling sesekali saja bisa terdengar nasyid / musik dari tempat kami berada. 


 Ya sudahlah. 


Akan tetapi, menurut Saya, seni bukan saja apa-apa yang sudah dituliskan di atas. Tetapi bisa lebih luas dari itu. Seperti misalnya, seorang sales perlu memiliki skill/ kemampuan dalam "membujuk" seseorang untuk mau membeli produknya. Skill inilah yang bisa diartikan  sebagai seni. Seni sebagai sales dalam hal ini. Di dalamnya ada seni membujuk, seni menghadapi berbagai sikap pelanggan, entah itu penerimaan atau penolakan, seni dalam mengelola komplain, dan sebagainya. Ya itulah seni, menurut Saya. Sekali lagi, menurut Saya. 


Tidak semua orang memiliki seni atau skill tersebut. Namun asalkan mau sungguh belajar, maka kemampuan tersebut akan dapat dicapai. 


Skill atau kemampuan memimpin juga ada seninya. Seni mempengaruhi dan menguasai sekelompok orang, agar mau melaksanakan apa yang diinginkannya. Seni menghadapi anak buah yang berbeda-beda. Seni mengelola emosi bawahannya. Seni melobby atasan, dan sebagainya. 


Jadi kalau menurut Saya, kemampuan adalah Seni. Seni dalam arti luas. Bukan Seni dalam arti khusus atau spesifik, seperti yang umumnya dipahami oleh kebanyakan  orang. Seni dapat mempengaruhi, menggugah perasaan seseorang. Dan dalam hal bisnis, bukankah mempengaruhi perasaan ini memang diperlukan, terutama terhadap customer nya? Jadi, secara universal, seni memang dibutuhkan dalam kehidupan, dalam berbagai aspeknya. 


Seperti itulah kurang lebih pengertian seni, sesuai yang Saya pahami. Pengertian yang saya tarik secara bebas. Tak harus sependapat dengan yang Saya sampaikan ini. 


Wallahu 'alam bi showab


====


#odopiccday14
#1M1C
=====

Bis jemputan dan kamar tengah

18.05 WIB


Tuesday, January 5, 2021

JL. KARTINI : KULINER JALANAN DI KOTA BEKASI

 


Foto : Ilustrasi



Jika di Yogyakarta ada gang-gang di sekitar Malioboro , Bukittinggi ada Pasa Lereng dekat

Jam Gadang, Bandung ada Jalan Dago dengan aneka jajanan tradisional hingga modernnya,

maka Kota Bekasi ada Jalan Kartini, tempat yang biasa digunakan untuk hang out dari

kalangan muda hingga tua. Hang out keluarga juga, untuk kelas food street.

Jalan Kartini terletak tak jauh dari pusat kota Bekasi.Berdekatan dengan Pasar Proyek atau Pasar Lama, dua buah rumah sakit (salah satunya Rumah Sakit Bhakti Kartini). Perumahan Villa Kartini dan lingkungan padat lainnya berada di sekitar jalan Kartini ini. Jalan Kartini juga merupakan jalan yang cukup ramai, karena merupakan jalan yang menghubungkan jalan Ir. Haji Juanda dengan jalan M. Hasibuan.

Sebenarnya ini bukan lokasi yang dikhususkan bagi aktifitas kuliner. Di sini juga terdapat bengkel, minimarket, salon, dan aktifitas ekonomi lainnya. Namun jika waktu telah menjelang sore, mulai sekitar Ashar, lokasi ini perlahan berubah. Seolah sesi kehidupan yang baru akan segera dimulai. Para pedagang mulai mempersiapkan segalanya. Pemasangan tenda, menata meja dan bangku di bawahnya, mempersiapkan alat dan bahan masak, dan seterusnya.  Menejelang Maghrib, lokasi ini semakin ramai. Tenda-tenda dadakan teah dipasang, lampu-lampu penunjangnya juga sudah terpasang. Pembeli pun mulai berdatangan. Area ini jadi lebih meriah.

Terdapat berbagai pilihan kuliner yang ada di sini. Selain toko makanan seperti Toko Kue Venny, terdapat juga rumah makan lainnya, seperti Kedai Soto Solo, Ayam Bakar Kalasan, dan sebagainya, yang memang sudah buka dari pagi hari. Sementara beraneka hidangan dengan tenda dadakan jadi memeriahkan lokasi ini. Ada seafood, sate, nasi uduk, dan sebagainya. Pengunjung baik yang datang dengan berjalan kaki, mau pun dengan berkendara motor atau pun mobil, ramai ke sana.

Jalan Kartini hampir selalu Saya lewati saat pulang dari bekerja bersama suami. Kami biasa menggunakan motor, sehingga untuk berhenti di tepi jalan untuk sekedar jajan atau mengisi perut, bisa lebih mudah. 

Ada makanan favorite kami jika malam sepulang bekerja kami lapar dan kebetulan lewat jalan ini.  Nasi goreng gerobak di pinggir  Mesjid Bani Shaleh, di ujung Jalan Kartini. Lokasinya sangat mudah ditemui, karena berada memang di paling ujung Jalan Kartini, dekat persimpangan jalan Ir. Juanda. Sementara suami kalau kebetulan pedagangnya ada, lebih memilih untuk memesan Sate, baik sate ayam, atau pun sate kambing. Rasanya bagi kami cukup lumayan enak. Terkadang (sebelum pandemi), kami sampai agak antri, karena bangku yang disediakan penuh. Syukurnya tidak lama. Biasanya kami memesan juga minuman jeruk hangat untuk melengkapi santapan kami. Dan memang, rasanya jadi lebih nikmat. Apalagi dengan kondisi fisik yang sudah cukup lelah dan juga lapar. 

Sementara untuk makanan favorite kami jika ke lokasi ini sebelum malam adalah Ayam Bakar Kalasan yang kiosnya juga berada di bagian agak ujung, arah ke Jl. Ir. Juanda. Letaknya berseberangan jalan dengan nasi goreng gerobak tadi. Ayam bakar Kalasan yang juga punya beberapa cabang di tempat lain, menjadi alternatif kuliner bagi keluarga kami. Saya sendiri suka dengan pepes jamurnya, selain ayam bakarnya. Sambelnya ada pedas manisnya. Kabarnya, walaupun bernama "Kalasan" dan sedikit bercita rasa Jawa, namun pemilik asli usaha ini adalah orang Minang. Akan tetapi ini perlu dipastikan lagi kebenarannya. 

Sementara itu, toko kue Veny yang memiliki gedung cukup megah, searah dengan Ayam Bakar Kalasan, menawarkan aneka kue dan camilan. Baik kue basah mau pun kue kering. Toko kue Veny juga ada di area Pasar Proyek (Pasar Proyek), yang sudah lebih dulu eksis. Toko ini juga melayani pemesanan kue dalam jumlah cukup besar serta snack box

Memang belum seramai Malioboro, Pasa Lereng, atau Jalan Dago, namun kuliner Jalan Kartini bisa menjadi alternatif wisata kuliner jalanan (food street) bagi Warga Bekasi, atau pun tamu yang kebetulan berada di Bekasi. Jadi, jika Anda berkesempatan ke Kota Bekasi, silakan mampir ke Jalan Kartini, untuk menikmati kulinernya, terutama setelah Ashar. 


======


Bekasi, 05. 51 WIB







PARENTING : BELAJAR JADI ORANG TUA



Sesungguhnya, Saya malu untuk membahas hal ini. Diperlukan keberanian dan kesiapan mental untuk menguraikan nya. Mengapa? Karena rasanya Sayalah yang perlu belajar dengan sangat tentang parenting ini. Saya belum berhasil menjadi orang tua yang baik bagi anak-anak Saya. Saya belum bisa menjadi contoh bagi mereka. Saya juga belum bisa mencetak anak-anak yang penuh dengan prestasi gemilang. Bahkan kenyataan di lapangan, barangkali Saya adalah sosok orang tua yang tidak patut dijadikan contoh bagi yang lain. 


Akan tetapi, akhirnya Saya berfikir bahwa dengan mencoba menguraikan perihal parenting sesuai dengan apa yang Saya pahami dan fikirkan, Saya malah jadi ikut belajar juga. Tulisan ini semoga menjadi pengingat bagi Saya, sebagai penyemangat bagi Saya, dan juga suami, untuk terus memperbaiki diri, untuk bisa menjadi orang tua yang sholeh/sholeha bagi anak-anak kami. Dan semoga juga ini bisa diambil manfaatnya bagi semua. Bukankah belajar hendaknya tidak melulu dari keberhasilan? Kegagalan atau pun ke-belum berhasilan, bisa menjadi pembelajaran juga, agar tidak diulangi lagi, agar ke depannya jadi lebih baik. Semoga. 


Baiklah. Jadi begini, bagi Saya, parenting bukan saja berarti belajar tentang bagaimana mengasuh anak usia sekian, bagaimana mengelola menyemangati mereka, bagaimana menghadapi permasalahan anak pada tahapan tertentu dan seterusnya. Namun bagi Saya, parenting juga adalah tentang belajar mengenai bagaimana menjadi orang tua yang seharusnya bagi anak-anak. Tentang bagaimana mengatur diri menjadi orang tua yang sholeh/sholehah bagi anak-anak. Parenting tidak saja tentang mencetak anak-anak yang berkualitas, tapi juga tentang bagaimana menjadi orang tua yang berkualitas bagi mereka. 


Setahu Saya, belum ada sekolah yang benar-benar ditujukan pendiriannya bagi orang tua. Belum ada sekolah yang materinya full tentang bagaimana menjadi orang tua yang baik. Karena, pendidikan untuk menjadi orang tua yang sholeh/sholeha adalah pendidikan  yang terus menerus dan diaplikasikasi langsung di lapangan. 


Diperlukan pembelajaran secara masiv bagi setiap orang tua, tanpa lelah, tanpa henti, mengenai bagaimana mengelola diri agar bisa menjadi orang tua yang berkualitas. Sumber belajar bisa dari mana saja. Bahkan bisa dari sang anak. Banyak hal yang bisa dicontoh dari polosnya mereka, apalagi yang masih kecil. Contohnya : sikap pemaaf nya, sikap jujurnya, sikap cerianya, sikap semangatnya, dan sebagainya. 


Beberapa point yang perlu diperhatikan dalam upaya menjadi orang tua yang baik:


  1. Luruskan niat. 

Apa yang kita lakukan untuk memperbaiki kualitas diri sebagai orang tua niatkanlah sebagai ibadah kepada -Nya. Agar apa-apa yang kita lakukan juga tidak sia-sia di mata-Nya. 


  1. Ingat bahwa anak adalah amanah dari-Nya.

Karena anak-anak adalah amanah langsung dari-Nya, titipan-Nya, maka kelak akan dimintai pertanggungjawabannya. Titipan dari orang lain saja kita cenderung menjaganya dengan baik, maka apalagi ini, titipan langsung dari Sang Pencipta. Sangatlah patut untuk dijaga semaksimal mungkin. Baik dan buruknya sang anak, dengan kuasaNya, kitalah yang mewarnainya. 


  1. Senantiasa berdo'a.

Teruslah mohonkan pertolonganNya dalam memperbaiki diri, dan juga dalam mengasuh anak-anak. Libatkan DIA, karena DIA-lah yang telah menciptakan. Ini artinya DIA punya alat-alat mau pun kelengkapan lainnya untuk memperbaiki diri hamba-Nya. Yakinlah. 


  1. Hindari rasa, malu, gengsi, dan ego. 

Abaikan hal-hal tersebut jika kita memang serius, sungguh-sungguh ber'azzam untuk belajar jadi lebih baik. Barangkali memang tidak mudah, karena manusia memiliki nafsu. Namun jika kita menginginkan kebaikan bagi anak-anak kita, keluarga kita, maka mulailah dari diri sendiri. Ibda' bi nafsik. 


  1. Belajar dari mana saja

Pembelajaran untuk menjadi orang tua yang lebih baik bisa berlangsung di mana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja. Bahkan sekali lagi, dari anak-anak kita sendiri. Jangan menutup diri untuk menerima masukan yang membangun. 


  1. Teruslah bersemangat. 

Jaga stabilitas mood untuk terus belajar dan mempraktekkannya. Benahi terus diri kita sebagai orang tua. Perbaiki attitude kita. Anak-anak lebih suka mencontoh dari pada sekedar mendengarkan ocehan atau pun nasehat panjang dari orang tuanya. Karenanya, berikanlah contoh yang baik. Termasuk di dalamnya adalah sikap mau meminta maaf, jika melakukan kesalahan. 


  1. Ingat bahwa anak-anak kita adalah manusia juga. 

Bersiaplah dan bersegeralah, perlakukan mereka sebagaimana memperlakukan manusia seharusnya. Mereka memiliki rasa, hati, dan juga akal. Beri mereka ruang untuk itu. Beri mereka kesempatan untuk menunjukannya, mengeksplorasi nya. Tugas kita membimbing, mengarahkan, serta membekali mereka dengan iman yang akan menjadi penjaga mereka. 


Itulah beberapa hal yang seharusnya menjadi perhatian kita untuk memperbaiki diri sebagai orang tua bagi anak-anaknya. Inilah mungkin, sedikit gambaran ideal bagi orang tua yang sedang berjuang untuk kebaikan keluarganya. 


Meskipun ini begitu membuat Saya malu, karena belum bisa merealisasikannya dengan sepenuhnya, namun sekali lagi, Saya berharap semoga ini bisa menjadi manfaat bagi para orang tua lainnya. Dan juga menjadi pengingat bagi Saya dan suami, dalam rangka proses terus memperbaiki diri sebagai orang tua. 


Semoga ini menjadi tabungan amalan bagi Saya. Dan semoga pula, Allah mengampuni Saya dan suami karena kekeliruan, kesalahan, yang pernah kami lakukan terhadap anak-anak. Astaghfirullahal 'adziim…  !! 


Wallahu'alam bi showab. 


======


Salemba, 08.01 WIB


Saturday, January 2, 2021

BYE 2020, HI 2021...

 


Beberapa menit sebelum tutup tahun 2020 di Wilayah Indonesia Bagian Barat. Sebuah tahun dengan angka cantik. Sebuah tahun yang begitu unik, karena memiliki kenangan bagai seluruh umat di dunia. Sebuah tahun yang pada sebagian orang sempat dibuatkan candaan seperti ini : tahun 2020 itu hanya terdiri atas bulan Januari, Februari, Maret, dan …. Desember!  

Hehehe.. Tentu Anda paham alasannya yaaa..?! 


Betul, karena pada Maret pertengahan, hingga Desember pun sebenarnya, pandemi COVID-19 melanda dunia. Kegiatan outdoor, apalagi yang melibatkan banyak orang sangat dibatasi. Ekonomi terpuruk. Anak-anak belajar dari rumah. Pekerja pun banyak beralih ke rumah. Ibadah di rumah. Hampir semua terpusat di rumah. Keluar hanya untuk urusan yang penting-penting saja. Ketergantungan akan jaringan internet pun jadi meningkat, karena banyak aktifitas yang pada akhirnya menjadi online, daring. Biaya kuota membengkak, kalau tidak menggunakan wifi yang bisa digunakan oleh seluruh anggota keluarga. 


Ritme dan gaya kehidupan "dipaksa" berubah secara mendadak. Selain "dikurung" dalam rumah, manusia pun diharuskan lebih memahami teknologi IT. Sistem online membuat orang yang gaptek "harus" belajar banyak dan intens tentang teknologi. Bukan hanya anak-anak yang masih belia, yang pada zaman normal malah diusahakan untuk menjauh dari gadget, namun juga yang sudah paruh baya, harus memahami penggunaan IT tersebut. Mau tidak mau. Setidaknya yang berhubungan langsung dengan kebutuhan tugas sekolah (proses belajar-mengajar), atau pun pekerjaan. Bagaimana tidak? Absensi para pekerja yang biasanya dengan sistem 'setor jari' pada mesin presensi, kini beralih ke sistem absensi online. Tentunya ini untuk meminimalisir perpindahan virus Corona pada mesin tersebut. Di samping juga karena pekerjaan beralih menjadi dilakukan di kediaman masing-masing. 


Penggunaan masker, mencuci tangan di tempat umum berulang kali, menjaga jarak antar sesama, menjadi suatu kebiasaan baru. Kepadatan di kendaraan umum pun berkurang, setidaknya sekitar 50%. Para penumpang commuter pun jadi terbiasa menggunakan pakaian berlengan panjang, karena ini menjadi syarat untuk diizinkan/tidaknya naik moda tersebut. 


Para ibu dituntut untuk bisa menjadi seorang guru bagi anak-anak nya, meski dengan segala keterbatasannya. Dan tak jarang karena hal ini, tekanan darah meningkat. Anak-anak juga kurang nyaman belajar dengan para orang tua yang kurang memahami cara menyampaikan materi pembelajaran sekolah dengan baik. Bukan tidak mungkin, hubungan orang tua dan anak menjadi kurang baik karenanya. 


Dan berbagai hal lainnya yang serta merta terjadi dalam masa pandemi ini. 


Bahasan tentang hal ini tentu sudah banyak disampaikan. 


Yang ingin Saya sampaikan di sini adalah harapan ke depannya. Bukan untuk mengkultuskan moment tahun baru Masehi ini. Namun lebih kepada harapan di hari-hari esok, yang menurut agama Islam, agama yang Saya anut, mestilah lebih baik dari hari ini, apalagi kemarin. Hal ini adalah agar kita tidak menjadi hamba yang merugi.


Setiap orang memiliki keinginan dan harapan untuk masa depannya. Biasanya disebut sebagai resolusi. 


Secara pribadi, Saya ingin jadi lebih baik dari yang sebelumnya. Keluarga makin harmonis. Anak-anak makin sholeh-sholehah. Serta makin berprestasi, makin bahagia. Satu lagi, semoga keinginan Saya untuk bisa pindah ke rumah kami, yang 2 (dua) tahun kemarin dikontrakan, bisa terkabul. Keinginan untuk membangun keluarga secara mandiri. Menata kehidupan keluarga kami, semaksimal yang bisa kami upayakan. Semoga hambatan yang ada untuk kami bisa melaksanakan keinginan tersebut, segera bisa terselesaikan dengan baik. Aamiin. Kami hanya ingin bahagia. Dunia dan akhirat. Itu saja. In syaa Allah dimudahkan-Nya. Aamiin. 


Lalu bagaimana dengan Anda? Bagaimana resolusi atau harapan Anda? 

Buatlah resolusi sebaik mungkin, untuk berbagai hal. Resolusi yang penuh kebaikan dan manfaat. In syaa Allah. 


****

Kamar tengah, 31 Desember 2010

23.44 WIB


Leni Sudiarti


Sunday, December 13, 2020

MY ORIENTAL BOY

 


Tengah malam menjelang. Lampu kamar belum lagi dipadamkan. Terdengar desis halus yang keluar dari mulut yang sedikit terbuka di sebelahku. Matanya mengatup rapat, menunjukan betapa lelapnya ia tertidur. Posisi telentang, kaki setengah terbuka. Sementara tangan tergeletak bebas di sampingnya. 


Beberapa hari yang lalu, secara berturut-turut, dalam 3 hari yang terik, ia puaskan diri bermain di luar bersama teman-temannya. Pandemi membuatnya harus berkurung di dalam rumah selama sekian bulan. Kulit badannya yang kemarin sudah mulai bersih, terang, kini mulai kusam lagi. Padahal kalau kulitnya cerah, bersih, ia lebih mirip seorang Chinese, karena kebetulan matanya juga agak sipit, sebagaimana ayahnya. 


Dan malam ini, seperti malam-malam sebelumnya, ia tidur di dekatku. Lelapnya dengan desis halus dari mulutnya, menjadi indikator bahwa ia cukup lelah hari ini. Satu hal yang menjadi ciri khasnya adalah, jika sudah merasakan kantuk, maka tak lama ia akan segera terlelap, tanpa banyak gerakan untuk mencari posisi nyaman. Begitu lelap. 


Kuamati wajah polos itu. Ya, dia yang bertubuh gempal, namun senantiasa bergerak aktif. Lelaki kecilku yang membuat banyak orang begitu gemas melihat fisiknya yang bohay, sehat. Matanya yang sempit namun panjang, membuatnya lebih mirip seorang oriental, sebagaimana ayahnya. Lelaki yang bisa bertutur halus, bahkan lebih lembut dari seorang perempuan. Namun juga lelaki yang bisa begitu "garang" Saat dirinya terusik. 


Dalam keletihan yang mungkin terasa karena aktifitas seharian, walau kusam masih ada d wajahnya, nampak kejernihan di muka kanak-kanaknya. Entah mengapa, ada haru yang begitu saja hadir tiba-tiba. Dan entah karena apa pula, seolah dirinya menarik ku untuk memberinya kecupan lembut. Tangan pun tergerak untuk membelainya perlahan. 


Kuusap dengan sayang kepalanya yang hanya berambut setinggi 1 cm, karena baru kemarin ia pergi ke tukang cukur. "Tebal rambutnya" kata si pencukur saat memegang rambutnya, kepada Pak Suami yang menemaninya bercukur. Ya begitulah. Rambutnya yang ikal memang lumayan tebal. Padahal dulu saat masih batita, rambutnya tipis. Setelah beberapa kali dicukur, perlahan rambutnya tumbuh semakin tebal. 


Tanganku terus membelainya, saat kubisikan do'a-do'a terindah untuknya. Kuusap kepala dan tubuhnya, dengan do'a-do'a yang terbaik. Pengharapan agar Yang Maha Kuasa menjadikannya insan yang sholeh, insan yang cerdas, insan yang disayangi kawan, disegani lawan. Permohonan agar Allah memperkenankannya menjadi seorang hafidz, yang kelak akan memberikan mahkota kepada orang tuanya. 

Semoga Allah melindunginya dari berbuat zolim atau pun menjadi korban kezoliman makhluqNya. Bahagialah ia, dunia akhiratnya. 


Bisa jadi Fatir, sang lelaki kecilku ini tak mendengarnya. Namun sesungguhnya, ada yang senantiasa mendengar dan melihat. DIA lah Sangat Khaliq, ALLAH SWT. Dia pula yang akan mengabulkannya di waktu yang pas. In syaa Allah, aku yakin itu. Sebagaimana in syaa Allah aku yakin do'a-do'aku terhadap 3 anakku yang lainnya jg akan di'ijabahNYA. In syaa Allah, Aamiin.. !! 


Masih kuusap tubuhnya, hingga ke kakinya. Tidurnya pun tak terganggu. Benar-benar lelap ia. Fatir hampir selalu tidak mau jika harus tidur berselimut, seperti saat ini. Celana yang dihuanakannya pun pendek saja. 


Sesaat setelah membalikan badan (tanpa membuka matanya) dan memeluk gulingnya dengan membelakangiku, aku pun akhirnya ikut terlelap di sampingnya. Malam itu pun kami lalui bersama, dalam indahnya lindunganNya. 


Jakarta, 8 Desember 2020

Bis jemputan Bekasi Timur : pergi dan pulang

Sunday, October 18, 2020

Hipotesa Sang "Dokter" di Ruang Konservasi...



"Apa yang saat ini dirasa Bu ? Keluhannya apa saja ?".. "Mari coba kita cek yaa... ".... "Ooo.. ga apa-apa..ini hanya flue biasa.."... atau.. "ooh, ini ada gangguan pada lambung Bapak..." dan seterusnya, dan sebagainya..

Begitulah kira-kira yang disampaikan seorang Dokter, ketika ada pasien yang mengunjunginya untuk berobat.

"Ada alergi obat, Bu ?"... ... "Ada riwayat operasi, Pak ?"... "Ada riwayat hipertensi Mba ?' dan sejenisnya..

Hal ini hampir sama dengan yang terjadi di ruang konservasi kertas... Lho, kok bisa ?? Maksudnya bagaimana ?

Jadi begini...Bahan perpustakaan dari tempat koleksi layanan, setelah melewati sortir, dan berdasarkan skala prioritas dari pustakawan di layanan, akan dibawa ke ruang workshop konservasi untuk dilakukan treatment perawatan, dan perbaikan fisiknya. Koleksi BP inilah sebagai pasiennya. Pustakawan di konservasi sebagai dokternya.

"Pasien" tersebut akan diamati dan didata keluhan serta penyakitnya. Ada form"survey kondisi" namanya. Form berisi data-data fisik, termasuk jumlah halaman, tingkat keasaman (pH), luntur / tidaknya bahan perpustakaan tersebut, serta data berbagai kerusakan koleksi tersebut.


Dari data yang diperoleh, analisa akan dilakukan. Hipotesa siap dikeluarkan. Bermodalkan data tersebut, maka "dokter" di workshop konservasi akan mengusulkan treatment yang akan dilakukan terhadap bahan pustaka tadi.

Mengapa namanya "usulan" perbaikan ? Karena pada saat proses konservasi berlangsung, bukan tidak mungkin akan terjadi situasi yang berbeda dari analisa awal. Bisa saja usulan perlakuannya ada 5 langkah, tapi pada akhirnya ketika proses berjalan, treatment hanya 3 (tiga) yang dipergunakan.

Di sini terdapat lagi kemiripan pustakawan di ruang konservasi dengan dokter sebenarnya. Bisa saja di awal dokter mengusulkan obat A terhadap penyakit si X. Tapi dalam perjalanannya, bisa saja si X tidak cocok terhadap obat A. Dengan demikian, ada prosedur yang berubah, menyesuaikan kondisi dan kebutuhan si pasien (si X).

Jadi bgitu kurang lebih penjelasan tentang kata-kata "usulan" pada form survey kondisi tersebut.

Survey kondisi sendiri dilakukan terhadap koleksi/bahan pustaka yang masuk ke ruang konservasi. Termasuk di dalamnya diminta untuk mebuat foto dokumentasi before dan after treatment. Sehingga bisa diketahui perubahan koleksi tersebut sebelum dan sesudah dilakukan konservasi. 

Fungsi lainnya dari foto dokumentasi tersebut adalah sebagai antisipasi jika terjadi hal-hal yang di luar prediksi pustakawan konservasi. Apalagi jika bahan pustaka yang datang sudah dalam keadaan yang terputus-putus, mirip puzzle. Foto di awal bisa jadi alat bantu atau acuan untuk penyusunan "puzzle" tersebut dalam proses konservasinya.

Setelah semua tahapan konservasi bahan pustaka dilakukan, tibalah saatnya koleksi tersebut "diperiksa" kembali, sebelum dikembalikan ke layanan. Inilah yang merupakan survey pasca konservasi. Di form pasca ini (biasanya berada di halaman belakang dari form survey pra konservasi) akan didata kondisi akhir koleksi : pH (tingkat keasaman), bentuknya, jilidannya, dan sebagainya. Foto pasca konservasi juga diminta untuk disertakan. 


Bagi koordinator kegiatan konservasi tersebut ada tugas tambahan lagi. Koordinator akan mengecek kualitas (Quality Control) dari output konservasi tersebut. Jika kondisi sudah sesuai yang diharapkan, maka koleksi dapat dikembalikan ke unit layanan bahan pustaka. Namun jika kondisi jauh dari yang diharapkan, maka koordinator akan meminta pustakawan konservasi yang mengerjakan sebelumnya, untuk memperbaiki/mengulang perlakuan konservasinya.

Di sinilah dibutuhkan ketelatenan, kesabaran, keuletan dari seorang pustakawan 'dokter' konservasi. Harus sabar menghadapi koleksi yang terkadang sudah sangat rapuh, sehingga menanganinya mesti sangat hati-hati, sebagaimana merawat orang tua yang sudah sangat renta. Harus telaten dalam proses "pengobatan" perbaikannya. Dan juga "Ulet" ! Karena bukan tidak mungkin, bahan pustaka yang dihadapi memiliki tingkat kesulitan penanganan yang cukup tinggi. Terkadang begitu memacu adrenalin, memainkan emosi. Jika tidak ulet, maka tidak mustahil pustakawan konservasi akan menyerah di tengah jalan.

cek di sini untuk cerita konservasi lainnya..

Namun sebagaimana profesi dokter yang sesungguhnya, seorang pustakawan konservasi juga adalah manusia. Memiliki rasa, emosi, nafsu. Tak jarang terjadi kesalahan, gangguan, atau kegagalan di tengah jalan proses perbaikannya. Dan bisa jadi itu adalah di luar bayangan, di luar ekspektasi sang pustakawan. Setelah usaha maksimal yang dilakukan, terkadang ada saja terjadi, di luar perkiraan. Adanya bahan pustaka yang berdasarkan uji atau berdasarkan pengalaman sebelum-sebelumnya tidak luntur, ternyata mengalami kelunturan. Ada juga bahan pustaka yang nampak masih kuat, ternyata saat dilakukan proses konservasi jadi koleksi yang begitu rapuh. Inilah yang kadang membuat pustakawan konservasi terkaget-kaget, kecewa, bahkan sedih. Apalagi jika kemudian hal tersebut jadi bahan cercaan atau cemoohan terhadapnya. Seolah hilang wujud usahanya yang telah semaksimal mungkin pada koleksi tersebut. Ibarat "akibat nila setitik, rusak susu sebelanga."



Yaa... pustakawan konservasi juga manusia. Bisa saja gagal. Sebagaimana profesi dokter yang sebenarnya.  Usaha dilakukan semaksimal mungkin. Namun keputusan akhir tentang hasilnya, tetaplah DIA yang menentukan. Jadi, mungkin kita bisa coba mulai berempati terhadap pustakawan konservasi tersebut.

Mau tau lebih banyak tentang preservasii bahan pustaka ? Silakan berkunjung ke sini...

Wallahu'alam


=======================

Kamar tengah, saat WFH