Showing posts with label tulisan. Show all posts
Showing posts with label tulisan. Show all posts

Thursday, January 14, 2021

SENI ALA SAYA...




Kalau ada yang bertanya tentang seni yang Saya minati saat ini, sepertinya Saya akan bingung menjawabnya. Bernyanyi ? Suara Saya sember, fals. Menari? Saya tidak gemulai. Bermain seni peran? Saya datar, kurang pandai berekspresi. 


Mungkin yang agak mendingan adalah dalam melukis. Saya sedikit bisa menikmati proses pembuatannya. Meski tidak bagus-bagus amat, tapi Saya pernah dapat nilai 9 untuk sebuah lukisan batik yang Saya buat saat SMA. Tapi itu pun lukisan yang Saya "contek" dari sebuah kain batik milik Ibu Saya. Jadi bukan murni karya Saya juga, hehehe… 


Begitulah…  


Sebutan "orang seni" agaknya jauh dari Saya. "Bukan gue banget… " Hehehe… 


Entahlah, mungkin faktor lingkungan berpengaruh juga ya. Di keluarga inti Saya, boleh dibilang memang tidak ada yang punya darah seni. Jadi atmosfer rumah pun kurang terbiasa dengan aktifitas seni. Paling sesekali saja bisa terdengar nasyid / musik dari tempat kami berada. 


 Ya sudahlah. 


Akan tetapi, menurut Saya, seni bukan saja apa-apa yang sudah dituliskan di atas. Tetapi bisa lebih luas dari itu. Seperti misalnya, seorang sales perlu memiliki skill/ kemampuan dalam "membujuk" seseorang untuk mau membeli produknya. Skill inilah yang bisa diartikan  sebagai seni. Seni sebagai sales dalam hal ini. Di dalamnya ada seni membujuk, seni menghadapi berbagai sikap pelanggan, entah itu penerimaan atau penolakan, seni dalam mengelola komplain, dan sebagainya. Ya itulah seni, menurut Saya. Sekali lagi, menurut Saya. 


Tidak semua orang memiliki seni atau skill tersebut. Namun asalkan mau sungguh belajar, maka kemampuan tersebut akan dapat dicapai. 


Skill atau kemampuan memimpin juga ada seninya. Seni mempengaruhi dan menguasai sekelompok orang, agar mau melaksanakan apa yang diinginkannya. Seni menghadapi anak buah yang berbeda-beda. Seni mengelola emosi bawahannya. Seni melobby atasan, dan sebagainya. 


Jadi kalau menurut Saya, kemampuan adalah Seni. Seni dalam arti luas. Bukan Seni dalam arti khusus atau spesifik, seperti yang umumnya dipahami oleh kebanyakan  orang. Seni dapat mempengaruhi, menggugah perasaan seseorang. Dan dalam hal bisnis, bukankah mempengaruhi perasaan ini memang diperlukan, terutama terhadap customer nya? Jadi, secara universal, seni memang dibutuhkan dalam kehidupan, dalam berbagai aspeknya. 


Seperti itulah kurang lebih pengertian seni, sesuai yang Saya pahami. Pengertian yang saya tarik secara bebas. Tak harus sependapat dengan yang Saya sampaikan ini. 


Wallahu 'alam bi showab


====


#odopiccday14
#1M1C
=====

Bis jemputan dan kamar tengah

18.05 WIB


Saturday, November 28, 2020

Mendongeng di era digital

Ilustrasi

Barangkali banyak yang tidak mengetahui bahwa 28 November adalah hari dongeng nasional.  Sejak 2015, tanggal 28 November ditetapkan sebagai hari dongeng nasional. Tanggal ini bertepatan dengan harlah Drs. Suryadi, sang pemeran  tokoh Pak Raden dalam film boneka “Si Unyil”. Drs. Suryadi dikenal sebagai tokoh dongeng legendaris di Indonesia. Beliau memang mencintai dunia anak-anak. Karena itulah, tanggal lahirnya ditetapkan sebagai Hari Dongeng Nasional. Drs. Suryadi sendiri telah meninggal sebulan sebelum ditetapkannya Hari Dongeng Nasional.  Beliau mangkat pada tanggal 30 Oktober 2015, dalam usia 82 tahun.

Saat ini, dunia memang sudah banyak berubah. Setidaknya dalam beberapa tahun belakangan ini. Serangan masiv teknologi, telah banyak menggeser berbagai aktifitas manual yang biasa dilakukan secara langsung oleh manusia. Peran humanis banyak digantikan oleh teknologi, yang  memang  dibuat oleh manusia sendiri.

Orang bijak ada berkata bahwa jika menanam padi, pasti akan ada saja gulma yang tumbuh. Ada saja parasitnya. Begitu pula dengan teknologi digital. Interaksi manusia yang sejatinya terjadi secara langsung, berhubungan langsung, kini banyak diwakili atau diperantarai oleh teknologi digital. Sisi positifnya, bisa berkomunikasi secara tatap muka walau berjauhan. Sisi negatifnya ? Kesempatan dan keinginan bertemu fisik secara langsung bisa jadi berkurang.

Orang tua sibuk dengan gawainya. Anak-anak pun asik sendiri dengan permainan atau pun berbagai hal online lainnya. Tertawa, teriak,tersenyum, histeris, marah, menangis, sendiri, di hadapan layar masing-masing.  Berdekatan, namun terasa jauh.   Serumah, namun terasa asing. Banyak sentuhan  dan interaksi  sosial yang tergerus.  

Mendongeng, bisa jadi adalah hal yang telah dianggap “kuno” bagi sebagian orang tua. Mereka lebih terbiasa memberikan tayangan film atau pun rekaman cerita yang bersumber dari saluran online, atau bahkan meberikan bulat-bulat gawai kepada anak-anaknya. Dibiarkannya mereka memilih dan mencari informasi sendiri dari dunia maya yang begitu luas itu.

Bagi sebagian anak-anakpun, bisa jadi  mengikuti dongeng adalah hal yang kurang popular di kalangannya saat ini.  Tapi bisa jadi pula ini adalah karena mereka kurang dikenalkan atau kurang diakrabkan dengan aktifitas tersebut. Karena pada umumnya, jika sudah masuk atau mengikuti suatu dongeng, anak-anak cenderung akan tertarik.

Ya, mendongeng sebenarnya adalah sebuah kegiatan rekreasi yang menarik, murah, meriah, dan kaya manfaat, terutama untuk anak-anak. Banyak sekali kajian yang telah membahasnya.Yang dimaksud di sini adalah mendongeng dalam arti sebenarnya. Pendongeng dan anak yang mendengarkan berada di satu tempat yang sama. Selain di rumah, dengan orang tua sebagai pendongengnya, banyak pula relawan yang melakukan aktifitas mendongeng ini di tempat public, untuk menghibur anak-anak. Taman-taman bacaan, perpustakaan, dan sebagainya, juga menyelenggarakannya.

Salah satu tujuan utama dari kegiatan mendongeng adalah untuk mempererat, menciptakan bonding (ikatan) yang kuat antara ibu atau ayah dengan putra putrinya. Biasanya saat Ibu atau Ayah bercerita, mendongeng, anak-anak akan mendekat, mendengarkan dengan seksama.  Bahkan ada yang sampai gelendotan (bergelayut manja)dengan orang tuanya.  Hal inilah yang tidak bisa digantikan oleh media online.

Mendongeng mengajarkan banyak hal pada anak-anak. Mereka mendengarkan berbagai warna dan intonasi suara. Mengenalkan pada mereka berbagai ekspresi emosi. Anak-anak diperkenalkan juga pada banyak kosa kata melalui tuturan pendongeng.  Hal ini akan membantu anak-anak dalam berbahasa atau pun berkomunikasi nantinya. Sekali pun saat ini mereka belum bisa membaca, namun mereka sudah memiliki perbendaharaan kata yang lebih banyak. Hal ini pun berpeluang untuk  mendorong minat baca anak-anak.

Mendongeng merupakan suatu kegiatan literasi, yang dapat memperkaya imajinasi mereka.  Dunia anak memang tak lepas dari imajinasi. Imajinasi dapat mendorong kreatifitas. Anak-anak akan terpacu untuk mengikuti atau berbuat seperti apa yang diterimanya dari dongeng tersebut.

Di samping itu semua, masih banyak lagi manfaat yang bisa diperoleh melalui kegiatan mendongeng ini, bagi si kecil. Diantaranya :

Satu, melatih konsentrasi dan ketajaman memori. Untuk dapat mengikuti dongeng dengan baik, dibutuhkan konsentrasi yang tinggi, sehingga mereka bisa mengingat berbagai karakter yang ada dalam cerita tersebut.

Dua, mendongeng dapat menjadi media untuk menyampaikan berbagai pesan moral. Anak-anak merupakan peniru yang baik. Apa yang dilihatnya akan lebih berkesan dan mudah diikutinya dari pada pesan yang hanya disampaikan dalam bentuk “ceramah” . Orang tua atau pendongeng dapat menyampaikankannya berdasarkan buku cerita, atau pun cerita yang dibuatnya sendiri.

Tiga, mendongeng memberikan wawasan baru bagi anak-anak. Termasuk di dalamnya pengetahuan tentang berbagai budaya dan tradisi lainnya. Sekaligus mereka dikenalkan dengan  bagaimana mensikapi perbedaan adat, budaya, tradisi dan berbagai kebiasaan lainnya yang ada di masyarakat.

Empat, dan ini termasuk yang terpenting juga, mendongeng dapat melatih dan mempertajam kecerdasan emosi serta sosialnya. Kecerdasan emosi amatlah diperlukan karena bisa  mempengaruhi  resistensi seseorang dalam menghadapi berbagai tantangan hidup nantinya

Itulah beberapa manfaat dari mendongeng ini. Bagi yang belum pernah melakukannya terhadap si kecil, ada baiknya, segeralah memulainya. Dekap mereka, sambil  didongengkan berbagai kisah inspiratif untuk mereka. Bagi yang sudah memulainya, bersyukurlah. Tetaplah istiqomah melakukannya.  In syaa Allah manfaatnya  nanti akan segera  nampak. Wallahu’alam.

 

 

Sunday, October 18, 2020

Hipotesa Sang "Dokter" di Ruang Konservasi...



"Apa yang saat ini dirasa Bu ? Keluhannya apa saja ?".. "Mari coba kita cek yaa... ".... "Ooo.. ga apa-apa..ini hanya flue biasa.."... atau.. "ooh, ini ada gangguan pada lambung Bapak..." dan seterusnya, dan sebagainya..

Begitulah kira-kira yang disampaikan seorang Dokter, ketika ada pasien yang mengunjunginya untuk berobat.

"Ada alergi obat, Bu ?"... ... "Ada riwayat operasi, Pak ?"... "Ada riwayat hipertensi Mba ?' dan sejenisnya..

Hal ini hampir sama dengan yang terjadi di ruang konservasi kertas... Lho, kok bisa ?? Maksudnya bagaimana ?

Jadi begini...Bahan perpustakaan dari tempat koleksi layanan, setelah melewati sortir, dan berdasarkan skala prioritas dari pustakawan di layanan, akan dibawa ke ruang workshop konservasi untuk dilakukan treatment perawatan, dan perbaikan fisiknya. Koleksi BP inilah sebagai pasiennya. Pustakawan di konservasi sebagai dokternya.

"Pasien" tersebut akan diamati dan didata keluhan serta penyakitnya. Ada form"survey kondisi" namanya. Form berisi data-data fisik, termasuk jumlah halaman, tingkat keasaman (pH), luntur / tidaknya bahan perpustakaan tersebut, serta data berbagai kerusakan koleksi tersebut.


Dari data yang diperoleh, analisa akan dilakukan. Hipotesa siap dikeluarkan. Bermodalkan data tersebut, maka "dokter" di workshop konservasi akan mengusulkan treatment yang akan dilakukan terhadap bahan pustaka tadi.

Mengapa namanya "usulan" perbaikan ? Karena pada saat proses konservasi berlangsung, bukan tidak mungkin akan terjadi situasi yang berbeda dari analisa awal. Bisa saja usulan perlakuannya ada 5 langkah, tapi pada akhirnya ketika proses berjalan, treatment hanya 3 (tiga) yang dipergunakan.

Di sini terdapat lagi kemiripan pustakawan di ruang konservasi dengan dokter sebenarnya. Bisa saja di awal dokter mengusulkan obat A terhadap penyakit si X. Tapi dalam perjalanannya, bisa saja si X tidak cocok terhadap obat A. Dengan demikian, ada prosedur yang berubah, menyesuaikan kondisi dan kebutuhan si pasien (si X).

Jadi bgitu kurang lebih penjelasan tentang kata-kata "usulan" pada form survey kondisi tersebut.

Survey kondisi sendiri dilakukan terhadap koleksi/bahan pustaka yang masuk ke ruang konservasi. Termasuk di dalamnya diminta untuk mebuat foto dokumentasi before dan after treatment. Sehingga bisa diketahui perubahan koleksi tersebut sebelum dan sesudah dilakukan konservasi. 

Fungsi lainnya dari foto dokumentasi tersebut adalah sebagai antisipasi jika terjadi hal-hal yang di luar prediksi pustakawan konservasi. Apalagi jika bahan pustaka yang datang sudah dalam keadaan yang terputus-putus, mirip puzzle. Foto di awal bisa jadi alat bantu atau acuan untuk penyusunan "puzzle" tersebut dalam proses konservasinya.

Setelah semua tahapan konservasi bahan pustaka dilakukan, tibalah saatnya koleksi tersebut "diperiksa" kembali, sebelum dikembalikan ke layanan. Inilah yang merupakan survey pasca konservasi. Di form pasca ini (biasanya berada di halaman belakang dari form survey pra konservasi) akan didata kondisi akhir koleksi : pH (tingkat keasaman), bentuknya, jilidannya, dan sebagainya. Foto pasca konservasi juga diminta untuk disertakan. 


Bagi koordinator kegiatan konservasi tersebut ada tugas tambahan lagi. Koordinator akan mengecek kualitas (Quality Control) dari output konservasi tersebut. Jika kondisi sudah sesuai yang diharapkan, maka koleksi dapat dikembalikan ke unit layanan bahan pustaka. Namun jika kondisi jauh dari yang diharapkan, maka koordinator akan meminta pustakawan konservasi yang mengerjakan sebelumnya, untuk memperbaiki/mengulang perlakuan konservasinya.

Di sinilah dibutuhkan ketelatenan, kesabaran, keuletan dari seorang pustakawan 'dokter' konservasi. Harus sabar menghadapi koleksi yang terkadang sudah sangat rapuh, sehingga menanganinya mesti sangat hati-hati, sebagaimana merawat orang tua yang sudah sangat renta. Harus telaten dalam proses "pengobatan" perbaikannya. Dan juga "Ulet" ! Karena bukan tidak mungkin, bahan pustaka yang dihadapi memiliki tingkat kesulitan penanganan yang cukup tinggi. Terkadang begitu memacu adrenalin, memainkan emosi. Jika tidak ulet, maka tidak mustahil pustakawan konservasi akan menyerah di tengah jalan.

cek di sini untuk cerita konservasi lainnya..

Namun sebagaimana profesi dokter yang sesungguhnya, seorang pustakawan konservasi juga adalah manusia. Memiliki rasa, emosi, nafsu. Tak jarang terjadi kesalahan, gangguan, atau kegagalan di tengah jalan proses perbaikannya. Dan bisa jadi itu adalah di luar bayangan, di luar ekspektasi sang pustakawan. Setelah usaha maksimal yang dilakukan, terkadang ada saja terjadi, di luar perkiraan. Adanya bahan pustaka yang berdasarkan uji atau berdasarkan pengalaman sebelum-sebelumnya tidak luntur, ternyata mengalami kelunturan. Ada juga bahan pustaka yang nampak masih kuat, ternyata saat dilakukan proses konservasi jadi koleksi yang begitu rapuh. Inilah yang kadang membuat pustakawan konservasi terkaget-kaget, kecewa, bahkan sedih. Apalagi jika kemudian hal tersebut jadi bahan cercaan atau cemoohan terhadapnya. Seolah hilang wujud usahanya yang telah semaksimal mungkin pada koleksi tersebut. Ibarat "akibat nila setitik, rusak susu sebelanga."



Yaa... pustakawan konservasi juga manusia. Bisa saja gagal. Sebagaimana profesi dokter yang sebenarnya.  Usaha dilakukan semaksimal mungkin. Namun keputusan akhir tentang hasilnya, tetaplah DIA yang menentukan. Jadi, mungkin kita bisa coba mulai berempati terhadap pustakawan konservasi tersebut.

Mau tau lebih banyak tentang preservasii bahan pustaka ? Silakan berkunjung ke sini...

Wallahu'alam


=======================

Kamar tengah, saat WFH



Saturday, September 12, 2020

Manfaat Menulis, Ini Dia !

Source : google.com


Bisa membaca, sudah selayaknya bisa menulis. Karena keduanya biasanya akan saling berkorelasi, saling berhubungan. Setiap yang bisa membaca, hampir bisa dipastikan, dia juga bisa menulis. Hanya yang menjadi masalah, tidak semua orang yang bisa menulis itu, bisa dengan mudah merangkai kata menjadi kalimat yang memiliki makna. Menyusun kalimat menjadi suatu cerita atau bacaan yang yang mengalir dan menarik. Banyak yang justru galfok (gagal fokus) saat berhadapan dengan selembar kertas putih, maupun saat berada di depan monitor laptop atau komputer. "White paper ghost" begitu biasanya kondisi tersebut digambarkan.

Pada umumnya, kebiasaan menulis tentang apa yang dirasa, uneg-uneg, curcol, dan sebagainya, sebagaimana layaknya generasi lalu menuliskan diary, catatan harian, adalah sesuatu yang sudah biasa dilakukan. Untuk saat ini, menulis status di facebook, WA story, twitter, dan sebagainya, sebenarnya juga merupakan pembiasaan kegiatan menulis. Untuk tingkatan yang lebih serius, seperti menulis artikel, makalah, cerpen, novel, dan sebagainya, tinggal pengembangan dan pendalaman lebih lanjut. 'Asa bisa karena biasa' mungkin bisa dijadikan salah satu landasan. Dengan berlatih menulis secara terus menerus, maka tulisan yang dihasilkan pun In syaa Allah akan semakin baik kualitasnya.

Menulis, yang dimaksud adalah menulis rangkaian kalimat-kalimat yang penuh arti dan makna, sebenarnya memiliki banyak manfaat. Setidaknya, kita akan merasa sedikit lebih "lega" setelah menuliskan uneg-uneg di status FB, atau WA story. Betul, kan ?! Ganjalan hati yang terasa sedikit seolah terkurangi. Memang begitulah adanya. Menulis dapat menyalurkan emosi yang terasa. Membuat emosi sesudahnya menjadi lebih tenang. Itulah mengapa menulis bisa digunakan sebagai terapi pada orang-orang yang memiliki masalah kejiwaan, seperti pada orang depresi (penelitian Fitri Ayu Mustika, 2019). Salmiati dan kawan-kawan, 2020, juga telah menlakukan penelitian terhadap anak-anak korban bullying. Anak-anak tersebut dikurangi tingkat kecemasannya dengan terapi menulis.

Setidaknya, ada beberapa manfaat dari kegiatan menulis ini, sebagaimana yang diuraikan dalam buku "Menulis Populer" (Siti Ansoriyah dkk, 2018) seperti berikut ini :

  1. Menulis dapat mengukur potensi diri
  2. Menulis dapat mengembangkan berbagai gagasan
  3. Menulis memaksa seseorang untuk lebih banyak menyerap dan menguasai informasi
  4. Menulis berarti mengorganisasikan gagasan secara sistematis
  5. Menulis dapat meninjau dan menilai gagasan secara objektif
  6. Menulis dapat memudahkan dalam memecahkan masalah
  7. Menulis dapat mendorong belajar secara efektif, dan
  8. Menulis akan membiasakan untuk berpikir secara tertib.
Menulis adalah bekerja untuk keabadian. Begitulah Pramoedya Anantatoer menggambarkan. Wajar saja, karena tulisan tetap akan ada, meskipun sang penulisnya telah tiada. Dan tentu saja ini akan menjadi "passive income", karena jika tulisan tersebut bermanfaat, maka pahala akan terus mengalir, meskipun fisik sudah berkalang tanah. 

Jadi, mari menulis sesegera mungkin, dari hal yang paling dipahami atau disenangi.Tentang apa saja. Untuk mengikat ilmu. Agar ilmu tidak terbang begitu saja. Agar ilmu bisa lebih bermanfaat. Agar bisa menjadi investasi akhirat.

'Jika ingin mengenal dunia, maka membacalah. Namun jika ingin dikenal dunia, menulislah.'


================

Duren Jaya, 12092020
23.09 WIB