Sunday, October 4, 2020

Apa saja yang masuk ke ruangan Konservasi bahan pustaka ?





Konservasi bahan pustaka (sekarang : konservasi bahan perpustakaan) menjadi bagian dari Preservasi  Bahan Perpustakaan. Tujuan utama dari konservasi bahan perpustakaan ini adalah untuk melestarikan bentuk fisik dari bahan perpustakaan, agar tetap dapat dipergunakan oleh generasi yang akan datang. Ini artinya, konservasi bahan perpustakaan berupaya untuk memperpanjang usia da    ri bahan pustaka tersebut.

Bidang konservasi tidak berwenang untuk memperbaiki kandungan isi (konten) dari bahan pustaka tersebut. Jadi yang diperbaiki benar-benar hanyalah bentuk fisik alias tampilan luarnya saja.

Konservasi bisa dibagi menjadi 2 (dua) jenis, yaitu : 

a. Konservasi preventif

Yaitu tindakan preventif atau pencegahan terhadap kerusakan bahan perpustakaan. Termasuk di dalamnya adalah antara lain : pembuatan sirkulasi udara yang baik, filter terhadap cahaya UV, desain ruang koleksi sesuai standar, pembersihan debu, 

b. Konservasi kuratif

Yaitu tindakan perbaikan terhadap berbagai kerusakan bahan perpustakaan. Termasuk di dalamnya adalah tindakan/treatment : bleaching, deasidifikasi, lining, laminasi, enkapsulasi, mending, dan sebagainya.


Untuk koleksi bahan perpustakaan sendiri, setidaknya bisa dibagi menjadi 2(dua) kelompok besar berdasarkan jenisnya, yaitu :

1. Koleksi Bahan Perpustakaan Karya Cetak

Umumnya berbahan dasar kertas. Tetapi ada beberapa juga yang non kertas. Termasuk di dalamnya :adalah : peta, gambar, buku, majalah, koran, naskah, dan sebagainya. Sedangkan karya cetak non kertas misalnya : naskah lontar, naskah pada batang bambu, kayu atau pun tulang, dan sebagainya.



2. Koleksi Bahan Perpustakaan  Karya Rekam 

Misalnya : CD, VCD, DVD, betamax, disket, mikrofilm, mikrofis, dan sebagainya.



Khusus untuk bidang konservasi bahan perpustakaan di Perpustakaan Nasional RI, untuk saat ini yang ditangani barulah karya cetak.

Untuk bahan perpustakaan karya cetak, yang masuk ke ruang konservasi bahan perpustakaan  adalah koleksi yang telah memenuhi skala prioritas, dan dipilihkan oleh staf di bagian layanan koleksi. 

Dasar pertimbangan koleksi tersebut dikirim antara lain :

a.  langka / kuno

 Langka artinya di luar sudah tidak ada lagi salinannya yang beredar atau sudah sulit dicari          salinannya. Kuno artinya  sudah berusia setidaknya sudah 50 (lima puluh) tahun.

b. banyak dibutuhkan / dicari oleh pemustaka

 Artinya koleksi tersebut bernilai, atau mengandung isi yang berharga

c. kondisi fisik bahan perpustakaan tersebut (rapuh, rusak, dan sebagainya)



Bahan perpustakaan yang telah disortir atau dipilih tersebut selanjutnya akan dibawa ke ruang konservasi, untuk diperbaiki sesuai dengan kondisi kerusakannya.

Untuk di Perpustakaan Nasional RI, yang rutin diperbaiki (masing-masing sesuai skala prioritas) setiap tahunnya adalah : Buku langka, majalah langka, koran langka, peta, gambar, naskah kuno (kertas atau pun lontar), 

Terhadap bahan perpustakaan yang masuk ke ruang konservasi akan diberikan treatment atau pun tindakan kuratif (perbaikan) sesuai kebutuhannya.

Friday, October 2, 2020

Karena"nya"...

Source : pinterest.com

Perempuan itu sederhana. Tak terlalu cantik. Tapi di atas rata-rata. Kalo dulu, 1 tahun yg lalu, aku bisa saja mendapatkan 1-3 perempuan yang lebih cantik darinya untuk kupacari. Tapi yang ini berbeda. 

Wajahnya yang bersih, teduh, dengan pakaiannya yang berbeda, membuatku terikat. Rok yang digunakannya sebenarnya sama dengan teman perempuan lainnya. Namun, di bawah rok di sambungnya dengan kaos kaki panjang, hingga menutupi semua kakinya. Kepalanya pun ditutup dengan kain polos, terjurai hingga ujung belakangnya melewati batas pinggangnya. 


Tak banyak aku berinteraksi dengannya. Aku lebih memilih memperhatikannya dalam diam. Sungguh, kesantunan sikap dan tutur katanya, serta apa yang menutupi hampir seluruh bagian tubuhnya, itulah yang membuatku begitu memperhatikannya. Aku yang dulu begitu mudah untuk mendapatkan perempuan untuk dipacari, bahkan hingga ada diantara mereka yang langsung datang kepadaku menyatakan perasaannya.. Kini seolah tak berdaya, tak memiliki cukup keberanian untuk menyatakan apa yang aku rasakan kepadanya. Jangankan untuk "menembak", untuk sekedar berbicara agak panjang saja dengannya, seakan aku tak sanggup! 


Aku merasa tak pantas bersamanya, karena masa laluku yang cukup kelam. Namun, aku juga tak sanggup membohongi hati. 


Tanpa dikomando, aku terhipnotis, sedikit demi sedikit merubah diri. Kumulai lebih intens belajar tentang agama, yang telah kuanut sedari lahir : Islam! 


Kuberharap, dengan kenaikan kebaikan agamaku, aku lebih mudah untuk mendekatinya. Ada rasa percaya diri yang akan muncul. 


Waktu berjalan. Aku terus belajar lebih baik. Namun rasa itu terus ada, dan bahkan semakin kuat. Tak sanggup lagi kumenahannya.. Kuingin dia tau! Namun, untuk berbicara langsung, aku belum bisa! Aku tak kuasa! 


Sudahlah.. Kukuat-kuatkan. Akhirnya, mading (majalah dinding) tempatku menuliskan asa dan rasaku, tanpa menyebut namanya. Aku tak sanggup! 


Tapiii.. Aku tak paham, apakah dia telah membaca isi mading tersebut. Kalau pun paham, sepertinya dia berusaha bersikap se-biasa mungkin. Aaahhh…  inilah yang membuatku tak tahan, membuatku semakin tergila-gila dengannya. Dia begitu dewasa! 


Energiku terkuras.. Aku begitu mengharapnya, tanpa berani berkata langsung. Dia pun nyaris tak bergeming. Lalu, apa yang bisa kuperbuat? 


Aku tak sanggup begini!! Dan aku pun berlari.. Berlari sekuatnya.. Aku, letih! 


Aku berlari terus.. Hingga ke ujungnya, aku menumpahkan segalanya kepada-Nya! Aku menangis! Aku tergugu! Aku… lelah! Aku.. Ahhh.. Ntahlah!! 


Aku mengadu kepada-Nya. Mengeluarkan semua apa yang kurasa, semua yang kufikir, semua yang kuduga.. Biar.. Biarlah, Dia yang membimbingku.. !! (Sesuatu yg mungkin nyaris tak pernah aku lakukan!) 


Aku diam.. Namun air di mata mengalir.. Tepekur! 


Akhirnya.. Perlahan, dari lapis terdalam hatiku, muncul cahaya itu.. Aku.. Telah keliru! Aku telah salah! Yaa.. Aku salah! 


Aku yang telah berubah ke arah yang lebih baik, aku yang telah berubah lebih religius, ternyata melakukannya karena ingin mendapatkan simpatinya, karena ingin mendapatkan kagumnya.. Dan bukan karena-Nya!! Yaa..  karenanya! Aku, salah!! 


Aku tersungkur. Entah bagaimana sembabnya mataku.. Aku tak peduli.. !! Aku.. Salah! Akuu.. Mohon ampun, seampun2nya kepada-Nya.. !! 


Waktu berjalan. Aku, tak lagi ingin berubah karena perempuan itu. 


Namun, bayangan perempuan itu tak pernah bisa hilang dari fikiranku. Semakin kuat kumencoba menghalaunya, semakin dalam apa yg aku rasa terhadapnya. Tapi.. Aku tak ingin lagi seperti dulu.. Tidak! Aku sdh berazzam! 


Tapii.. Aku tak sanggup! Berat rasanya bagiku! 


Kuberlari lagi.. Berlari sekuatnya, hingga kutersungkur! 


Tak kuasa aku. Aku kembali kepadaNya. Melarikan diri kepada-Nya. Menumpahkan segala yang kurasa. Ya Rabb.. Ampuni aku. Aku sudah berazzam.. Tak ingin kutersesat dalam kubangan dosa. Yaa.. Walau aku memang memiliki asa terhadap perempuan itu..


Rabb.. Engkau yang Maha Mengetahui, Maha Berencana, Maha Kasih.. Malam ini, kutitipkan ia, wanita sholehah itu, kepada Engkau. Jagalah ia.. Hingga saatnya nanti,kumohon, pertemukanlah kami dalam kondisi yg terbaik menurut Engkau. Aku ingin mendampinginya, dalam kehidupan dunia dan akhiratnya. Tolong, jaga dia, untukku! Jadikanlah dia, perempuan terbaik bagiku.. 


Source : freepik


Robb…  ampuni Aku, jika Aku salah dalam bermohon. Namun itulah yg Aku rasa.. Dan kepada Engkau sajalah tempat terbaikku mengadu.. Ampuni hamba, ampuni hamba…  


Kabulkanlah permohonanku ini…  Aamiinnn.. !! 


Daaann…  Aku tertunduk sangat dalam, melepas apa yang kurasa, Tanpa peduli lg airmata yg begitu deras keluar, membasahi sejadah dan sarungku.. Aku tergugu.. Dan, mataku kembali bengkak.. 


Malam yang sunyi pun menjadi saksinya.. Saksi bahwa Aku telah menitipkan wanita itu kepada-Nya.. Saksi bahwa Aku berharap, agar dia menjadi yang terbaik bagiku.. 


Dan suatu saat nanti, atas kehendak dan ridho-Nya, aku akan datang untuk menghalalkannya bagiku.. Semoga! 


Tapiiii… jika kelak yang terjadi adalah yang sebaliknya, meski saat ini rasanya berat, kuharap, Allah bisa menenangkan diri ini.. Menghadirkan diri ini dalam taman keikhlasan.. Dan aku dapat menjalaninya dengan senyum, serta kepala tegak.. Dengan tetap berhusnuzon kepada-Nya.. 

Semoga ya Allah…  





==========================


#Fastwriting
19 Sept 2019

Based on true story*****

Sunday, September 27, 2020

SELAMATKAN DOKUMEN NEGERI DENGAN DEASIDIFIKASI


Salah satu penyebab utama bagi kerusakan bahan perpustakaan adalah 'asam'. Kondisi  asam ini secara sepintas bisa dikenali melalui aromanya yang khas. Secara visual, bahan perpustakaan (terutama yang berbahan kertas) yang asam cenderung berwarna kuning kecoklatan. 

Asam bisa menurunkan kondisi atau kualitas fisik kertas. Selain berwarna kuning kecoklatan tadi,  jika terus dibiarkan, maka kertas akan menjadi rapuh. Dan jika ini berlanjut, maka kertas tersebut bisa hancur, dan informasi di dalamnya pun bisa ikut lenyap.

Pada koleksi tertentu, terutama pada koleksi naskah kuno yang ditulis dengan menggunakan tinta yang mengandung ion Fe (ion besi), asam bersama dengan oksigen akan memicu terjadinya semacam perkaratan pada tulisan di naskah kuno tersebut. Kondisi inilah yang dikenal dengan istilah 'korosi tinta atau ink corrotion'. Naskah yang mengalami korosi tinta mungkin saja menjadi berlubang-lubang. Tinta yang 'berkarat' tersebut akan menggerus kertas, dan jika dibiarkan, kertas akan menjadi berlubang, mengikuti bentuk tulisan yang menggunakan tinta tersebut.

Selain mendegradasi kertas, asam pun bisa bermigrasi, bisa menularkan kondisinya ke 'tetangga sekitarnya', terutama yang langsung menempel kepadanya. Itulah mengapa, sebisa mungkin, koleksi bahan perpustakaan yang kondisinya bagus, jangan diletakan bersebelahan langsung dengan bahan perpustakaan yang asam. Ini untuk menghindari 'penularan' asam tersebut.

Pertanyaannya adalah, apakah kondisi asam tersebut dapat diperbaiki, agar tidak jadi semakin parah ? Atau setidaknya dihambat peningkatan kadar asamnya ? Jawabnya, BISA !

Adalah  suatu proses kimiawi yang bernama 'deasidifikasi'. Proses ini menghilangkan atau setidaknya mengurangi kadar asam yang terdapat pada bahan perpustakaan. 

Setidaknya ada 3 (tiga) jenis deasidifikasi. Namun yang akan dibahas kali ini hanya 2 (dua) jenis, yaitu :

1. Deasidifikasi Kering

Tindakan deasidifikasi kering biasa dilakukan terhadap koleksi bahan perpustakaan yang tidak bisa diperlakukan dengan menggunakan banyak bahan air. Biasanya adalah untuk koleksi yang mudah luntur dalam air. Contohnya adalah : naskah kuno yang ditulis tangan. Apalagi yang di dalamnya ada tulisan atau pun gambar yang menggunakan tinta warna merah. Warna merah memiliki ikatan kimia yang cukup lemah di antara warna-warna lainnya.Itulah mengapa warna merah mudah luntur bila terkena air. 

Selain naskah, gambar, atau peta pun bisa rawan kelunturan. Terutama yang ditulis tangan, terlebih yang ada warna merah atau turunannya di dalamnya.

Untuk mengetahui luntur atau tidaknya suatu bahan perpustakaan, maka sebelum perlakuan atau tindakan, akan dilakukan uji luntur terlebih dahulu. Bisa dengan menggunakan kapas yang dibasahi air, dan ditotolkan sedikit pada bagian naskah yang agak tersembunyi, dan ada tulisannya. Jika luntur, maka pada kapas tersebut akan nampak noda warna tibta tersebut. Dan jika tidak ada, berarti bahan perpustakaan tersebut kemungkinan besar tidak luntur.

Bagi bahan perpustakaan yang luntur dengan air tadi, maka bisa digunakan deasidifikasi kering. Pada deasidifikasi ini, pelarutnya (methanol) mudah menguap. Jadi tulisan lebih kecil kemungkinannya akan mengembang, 

Proses deasidifikasi jenis ini menggunakan bahan kimia : Barium Hidroksida dengan pelarutnya adalah Methanol. Konsentrasi yang biasa digunakan adalah 2% (berat/volume). Artinya, 2 gram serbuk Barium Hidroksida dimasukan ke dalam methanol, sehingga volume totalnya adalah 1 (satu) liter.

 


 Proses penyemprotan pada deasidifikasi kering

Perlakuannya adalah dengan menyemprotkan bahan kimia tersebut menggunakan sprayer yang mengeluarkan bulir-bulir yang halus, di ruang khusus, yang jauh dari interaksi dengan manusia lainnya, serta bersirkulasi udara yang baik. Bisa digunakan fumehood (lemari asam), yaitu tempat seperti lemari, yang memiliki exhaust di dalamnya, bisa ditutup, dan berkaca. Fumehood dikhususkan untuk melakukan tindakan kimia yang menggunakan bahan berbahaya seperti methanol tadi. Petugas yang melakukannya pun haruslah menggunakan masker dan bersarung tangan, untuk meminimalisir interaksi dengan bahan kimia. Koleksi yang sudah dibersihkan debu atau kotorannya dengan kuas atau vacuum cleaner disemprot lembar demi lembar, merata ke semua permukaannya. Setelah itu dikering anginkan. Harap diingat bahwa menyemprot adalah searah angin. Jangan sampai saat menyemprot, angin malah mengarah ke petugas, karena malah akan menyemprot petugas itu sendiri.

Setelah beberapa jam, koleksi akan kering. Siap untuk melanjutkan tahap konservasi atau preservasi selanjutnya.

 

2. Deasidifikasi Basah

Deasidifikasi ini dapat dilakukan terhadap bahan perpustakaan yang tidak luntur dengan air. Biasanya adalah bahan perpustakaan yang merupakan hasil cetakan mesin, seperti majalah, koran, buku, dan sebagainya.

Bahan yang dipergunakan adalah larutan Magnesium karbonat 2%. Serbuk Magnesium hidroksida seberat 2 gram akan dilarutkan dalam air hingga volume total 1 liter. Setelah disatukan, larutan akan dialiri gas karbondioksida selama kurang lebih 1 (satu) jam.

Koleksi akan direndam dalam larutan tersebut selama 1-2 jam. Setelah itu koleksi akan dikeringanginkan pada rak pengering. Tidak dengan penyinaran sinar matahari langsung, karena sinar UV pada matahari bisa merusak  bahan perpustakaan. Pengerjaan tetap lembar demi lembar. Artinya, jika itu adalah buku atau majalah, maka bahan perpustakaan tersebut akan dibongkar terlebih dahulu jilidannya, setelah diberi penomoran urut halamannya (paginasi). Dan setelah semua rangkaian konservasi selesai, maka bahan perpustakaan tersebut akan dijilid kembali.

 

Proses perendaman pada deasidifikasi basah (aquaeous deacidification)


Setelah melewati proses deasidifikasi tersebut, diharapkan nilai pH, yang menunjukan kadar keasaman, akan meningkat dari pH sebelumnya. Seperti diketahui,bahwa semakin kecil nilai pH, maka semakin tinggi kadar asamnya. Jadi semakin besar nilai pH, berarti kadar asam semakin rendah pH 1-6 itu artinya asam. pH 7 adalah netral.dan pH di atas 7adalah basa.

Dengan meningkatnya nilai pH, maka ini berarti kandungan asam sudah terkurangi. Dan itu mencegah atau minimal menghambat degradasi kertas lebih lanjut, dengan catatan penyimpanannya sesuai standar penyimpanan koleksi yang benar. Lebih jauh lagi, penghambatan degradasi kertas karena kondisi asam tersebut, akan dapat memperpanjang usia koleksi tersebut. Ini artinya, masih akan banyak generasi yang dapat memanfaatkan koleksi tersebut. Deasidifikasi dilakukan untuk pelestarian dokumen penting negeri.



=================

Referensi :

Sudiarti, L., Nurjanjati, C., Ranti, S., Wardhani, W. K.. (2019). Metode deasidifikasi basah dengan larutan magnesium karbonat pada konservasi kuratif naskah kuno media kertas, Jakarta : Perpustakaan Nasional RI