Friday, May 29, 2020

Buku dan Ilmu




Buku adalah sesuatu yang bila Anda membacanya
makin banyaklah kekayaan Anda
makin kuat kepribadian Anda
makin luas kekuasaan Anda
makin kokoh raga Anda
makin kaya perbendaharaan kata Anda
makin lapang dada Anda
serta menjanjikan penghargaan dari masyarakat 
dan persahabatan para raja
                                            (Abu Amr Al Jahizh)



Buku yang kubaca
selalu memberi sayap-sayap baru.
Membawaku terbang
ke taman-taman pengetahuan paling menawan,
melintasi waktu dan peristiwa,
berbagi cerita cinta, menyapa semua tokoh yang ingin kujumpai,
sambil bermain di lengkung pelangi
                                            ( Abdurahman Faiz- (Aku lnl Puisi Cinta))



Ilmu itu lebih baik daripada harta.
Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta.
Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum.
Harta itu kurang apabila dibelanjakan
tapi ilmu bertambah bila dibelanjakan
                                            (Sayyidina Ali Bin Abi Thalib r.a.)




Bersiap untuk New Normal?



Tersiar kabar beberapa waktu belakangan ini, bahwa pemerintah akan segera melaksanakan "New Normal" atau kenormalan baru, yaitu suatu tatanan kehidupan yang baru, berbeda dengan sebelumnya. Aktifitas pun akan segera diberlakukan secara bertahap menuju kepada kenormalan seperti dahulu, dengan gaya yang berbeda. Dengan ini, rakyat diajak berdamai dan bisa berada berdampingan dengan pandemic corona ini. Tidak lagi berdiam di rumah, namun silakan keluar rumah dengan memperhatikan protap kesehatan terhadap Pandemic Covid-19 ini. 

Ini artinya, dengan terang-terangan rakyat akan berhadapan langsung dengan virus Corona. Ibaratkan perang terbuka, maka adu kuatlah di sini. Adu kuat dengan makhluk bernama Corona, sang musuh yang wujudnya tak nampak itu. Imun tubuh harus kuat,agar tak mudah dijadikan bulan-bulanannya. Yang merasa imunnya kurang bagus, maka segeralah perbaiki. Inilah mungkin yang dinamakan dengan Herd Imunity. Siapa yang kuat akan bertahan. Dan siapa yang kurang beruntung akan tereliminasi. Seperti itulah kira-kira gambaran Herd Imunity. Jadi yang akan terjadi nanti, jika memang jadi dilaksanakan, adalah Herd Imunity, dalam tatanan New Normal.

Sebagai seorang Emak pekerja seperti Saya, dengan imunitas yang saat ini belum dalam keadaan maksimal, tentu hal ini sedikit membuat kegalauan. WFH yang tengah dijalani saat ini akan segera berlalu. Sebenarnya, Saya sudah mulai beradaptasi dengan keadaan WFH, menikmatinya. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, kegiatan di rumah saja, menjadi momen yang cukup berharga bagi Saya. Setidaknya, saya tidak perlu berdesak-desakan di dalam commuterline seperti biasanya. Saya tidak perlu berlari-lari untuk mengejar absen finger print yang tinggal beberapa detik lagi. Saya tidak perlu menunggu ojol yang agak lama aksesnya, karena jaringan yang lemot, server ojol error, atau pun paket data yang habis.

Saya memiliki waktu yang lebih banyak bersama anak-anak di rumah. Setidaknya sedikit mengobati rasa kehilangan Saya dalam mendampingi hari-hari penting mereka selama ini. Melihat bagaimana mereka dalam seharian penuh. Sedikit mencicip bagaimana rasanya menjadi seorang mentor pada home schooling, seperti yang Saya impikan dari dulu. Meskipun Saya sendiri juga dalam status WFH (work from home). Juga merangkap sebagai Ibu rumah tangga. Mesti membagi-bagi diri, membagi-bagi waktu. Tidak perlu bahas mengenai bagaimana kualitas kebersamaan tersebut. Tapi yang jelas, Saya, secara fisik, telah menjalani sejumlah hari secara penuh bersama anak-anak. Dan Saya sungguh menikmati momen-momen tersebut, dengan segala tantangan, kekurangan, dan kelebihannya.



Dan kini, saat pandemik Covid-19 masih berlangsung, WFH dikabarkan akan segera berakhir. Kehidupan akan dicoba memasuki New Normal, kehidupan dengan kebiasaan baru. Muncul kegalauan dalam hati. Kegalauan karena kemungkinan akan kembali menggunakan transportasi umum (meskipun masih dalam pertimbangan). Kegalauan juga karena mesti kembali meninggalkan anak-anak. Apalagi mereka masih menjalani LFH (Learn From Home), hingga waktu yang belum jelas. Terbayang aktifitas yang kembali akan dilakukan di kantor, yang memang banyak membutuhkan kekuatan fisik. Kegalauan terhadap kondisi imun tubuh yang hingga saat ini belum maksimal, sedangkan di luar sana, Corona masih berkeliaran. Berbagai kegalauan, yang sedikit banyak membuat parno, paranoid.

Tapi, Saya hanyalah seorang staf biasa. Tak banyak yang bisa Saya lakukan. Jika tiba waktunya Saya harus kembali bekerja di kantor (WFO), kepasrahan dan keikhlasan harus Saya hadirkan. Berprasangka baik terhadap-Nya senantiasa dimiliki.  Dengan demikian, semoga imun tubuh bisa semakin baik, dan semua akan berjalan baik-baik saja. Semoga saja.

Friday, May 22, 2020

Jumat terakhir di Ramadhan 1441 H


(sumber : monitor.co.id)


Hari ini, Jumat, 28 Ramadhan 2020. Detik-detik terakhir di bulan mulia pada tahun ini. Detik-detik sang tamu agung berkemas untuk kembali pergi. Meninggalkan berbagai rasa dalam hati.
Ramadhan kali ini memang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Sangat berbeda. Kita "dipaksa" dikarantina oleh makhluk Allah bernama Corona. Jauh sebelum setan dikarantina pada bulan Ramadhan. Tidak ada tarawih berjama'ah di mesjid. Tidak ada tadarus dalam lingkaran di Mesjid. Bahkan Shalat Jumat yang sifatnya wajib saja, sudah sejak pertengahan Maret lalu ditiadakan. Aturan yang sama juga berlaku untuk umat beragama lainnya. Tidak ada perkumpulan, keramaian. Apalagi yang biasa peluk cium, salaman, jauh berkurang. Social distancing serta PSBB pun berlaku.

Aktifitas di luar rumah sangat dibatasi. Pertemuan jauh berkurang. Interaksi berubah jadi komunikasi virtual. Bekerja dari rumah (work from home/WFH), belajar dari rumah ( Learning from home / LFH). Semua jadi berbasis rumah. Bahkan belanja dan berniaga pun berubah tanpa interaksi langsung. Kurir dan ekspedisilah yang menjembataninya. Penggunaan paket data internet melonjak. Permintaan terhadap wifi pun sepertinya meningkat. Tiba-tiba hampir semua aspek kehidupan berubah jadi virtual, beralih ke dunia maya. 



Ramadhan kali ini banyak imam sholat baru yang bermunculan. Para ayah atau pemimpin keluarga banyak yang mulai terbiasa dengan peran ini. Dinikmati atau pun tidak, toh hal ini tetap dijalani. 

Namun sebagai makhluk sosial, keterkurungan membuat ketaknyamanan bagi sebagian besar manusia saat ini. Bertemu secara langsung dengan kehadiran fisik dengan sesama manusia menjadi suatu kebutuhan yang sulit untuk digantikan. 2 (dua) bulan lebih dikurung di rumah, memunculkan kerinduan untuk bertemu dengan sejawat, dengan keluarga lainnya. Kerinduan yang mungkin semakin membuncah. 

Rasa rindu yang sudah begitu dalam, rasa terkurung lama, kejenuhan yang mulai memuncak,kebutuhan hidup yang terus berjalan, sementara Idhul Fitri pun sudah semakin dekat, membuat sebagian di antara kita nekat. Akhirnya, beberapa hari yang lalu terjadilah kepadatan, keriuhan di pusat perbelanjaan. Jalan-jalan mulai kembali ramai. Seperti tidak sedang ada apa-apa saat ini. Belum lagi yang memaksakan diri pulang ke kampung halaman, tanpa alasan yang mendesak.

Lalu apa yang terjadi ? Tanpa bermaksud menyalahkan siapa-siapa, pada hari Kamis, 21 Mei 2020 tercatat lonjakan korban positif Covid-19. Hampir 1000 (seribu) kasus baru. Peningkatan yang luar biasa.

Kesulitan perekonomian banyak dialami oleh Rakyat Indonesia. Bahkan untuk sekedar memenuhi kebutuhan dasar saja, tidak bisa. Kegiatan untuk mencari nafkah dibatasi. Banyak pula yang mengalami pemutusan hubungan kerja, karena perusahaan tempat bekerja tak lagi sanggup membayar gaji pekerjanya. Sementara kebutuhan hidup terus berjalan. Bantuan pemerintah, dan kepedulian sesama menjadi salah satu sandarannya.

Hari ini, Jumat terakhir di Ramadhan kali ini. Hari ini dilakukan Shalat Jumat (yang digantikan dengan shalat Dzuhur) terakhir di Ramadhan tahun ini. Ramadhan yang unik. Ramadhan yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Ramadhan yang barangkali akan memberikan banyak cerita kepada anak cucu kita kelak.

Mungkin tak ada yang pernah membayangkan akan mengalami hal seperti ini. Melewati hari-hari hanya dengan berada dalam rumah. Menjalani keseharian dengan tetap berada dalam rumah, dengan segala keterbatasannya. 

Namun, ada baiknya untuk tetap bersabar dengan keadaan ini. Tetap bertahanlah di rumah. Pertajam kepedulian dengan sesama. Ingatlah pengorbanan para tenaga medis selama ini. Ingatlah pula bahwa mereka juga memiliki keluarga yang menanti mereka dengan harap-harap cemas.

Bersabarlah, bertahanlah. Dan pada Jumat terakhir di Ramadhan kali ini, marilah kita berdoa kepadaNya, agar semua ini segera berlalu. Agar semua kembali membaik. Berdoa untuk kembali bertemu dengan Ramadhan di tahun depan, dengan suasana yang jauh lebih baik dari tahun ini. Dan semoga Idhul Fitri tahun depan, kita bisa kembali mudik, dan berkumpul serta bersilaturahiim dengan keluarga besar.

Ya, bersabarlah. Bertahanlah. Demi sebuah akhir yang manis. In syaa Allah.


====================

Kamar Belakang, 29 Ramadhan 1441 H

Bekasi